NewsTicker

MEMANAS! Prancis Segera Kerahkan Militer Tangani Demo Rompi Kuning

PARIS – Gelombang protes ‘Rompi Kuning’ kembali membanjiri Paris pada akhir pekan ini, Sabtu (23/03), kendati ada larangan protes di sepanjang Champs-Elysees, yang diumumkan oleh Perdana Menteri Prancis Edouard Phillippe setelah kekerasan meletus akhir pekan lalu.

Menjelang Sabtu ke-19 berlangsungnya protes Rompi Kuning di Prancis, pasukan telah dimobilisasi untuk membantu polisi fokus melindungi ketertiban umum di Paris. Jenderal Bruno Leray, gubernur militer Paris, mengatakan pada Hari Jumat (22/03) bahwa Militer dapat bertindak jauh hingga melepaskan tembakan jika nyawa mereka atau nyawa orang yang mereka bela terancam.

Polisi Prancis telah melarang protes di Champs-Elysees dan di sekitarnya, yang menurut pernyataan mereka telah dijadwalkan berlangsung Sabtu ini, 23 Maret. Langkah-langkah pencegahan serupa telah diambil oleh polisi di kota-kota Perancis Nice, Marseille dan Metz.

Baca: VIDEO: Bentrokan Kembali Pecah di Minggu ke-15 Demo Rompi Kuning Prancis

Juru bicara pemerintah Prancis, Benjamin Griveaux, sebelumnya mengumumkan bahwa pasukan Operasi Sentinelle akan ditugaskan kembali untuk melindungi ketertiban umum di demonstrasi Rompi Kuning pada hari Sabtu. Pasukan ini berpatroli di jalan-jalan dan melindungi bandara, stasiun kereta api, tempat ibadah dan situs lainnya; mereka pernah dikerahkan untuk perlindungan anti-terorisme setelah serangan teroris 2015.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menekankan bahwa para prajurit itu tidak akan terlibat dalam menjaga ketertiban umum.

“Misi mereka [tentara] adalah untuk memerangi terorisme dan untuk melindungi situs-situs yang rentan, ini adalah agar polisi dan polisi militer bisa sampai ke tempat operasi. Di negara kita, tentara tidak dengan cara apa pun bertanggung jawab atas ketertiban umum atau penegakan hukum, ” ujar Macron pada konferensi pers.

Baca: 2.891 Demonstran Terluka Selama Protes Rompi Kuning Prancis

Pengerahan militer ini kemudian memicu kontroversi. Bruno Retailleau, pemimpin kubu oposisi di Senat, mengatakan kepada saluran televisi France 5 bahwa langkah terbaru Macron adalah “kesalahan serius.”

Dari kalangan militer, seorang prajurit di unit Sentinelle menginformasikan situs Franceinfo bahwa mereka tidak dilatih untuk mengatasi unjuk rasa.

“Orang-orang di Sentinelle adalah prajurit — kami tidak tahu cara menjaga ketertiban umum,” ucap tentara tersebut. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: