Breaking

WASPADA! Gerakan HTI “KARIM” Masuk ke Sekolah

Komunitas Royatul Islam Sumber Facebook

Arrahmahnews.com, JAKARTA – Setelah HTI Bubar, Lahirlah KARIM (Komunitas Royatul Islam). Kita harus mewaspadai bahaya komunitas Royatul Islam (KARIM) yang terdeteksi sebagai jaringan HTI. Yang jadi pertanyaan saat ini adalah, Kenapa kelompok HTI sangat giat dan berani berkampanye “Khilafah” di sekolah-sekolah dan kampus-kampus saat ini? HTI adalah ideologi parasit bagi bangsa ini dan bahkan bagi sebuah negara, karena ideologi mereka untuk menegakkan khilafah adalah sebuah kebohongan yang tidak ada dalam Islam itu sendiri.

Jadi, HTI yang berteriak seolah memperjuangkan syariat, dengan sendirinya ketika mengajak kepada makar terhadap negara Indonesia lalu menawarkan sistem khalifah adalah perbuatan yang keluar dari syariat. HTI memperjuangkan khilafah, ISIS juga demikian, MMI juga demikian, tapi kok konsep khilafahnya berbeda-beda? Artinya, mereka yang berteriak soal khilafah di negeri ini menawarkan sistem mentah yang rawan kerusakan.

HTI telah bubar, lahirlah KARIM, yang telah memasuki dunia anak muda kita, sasarannya adalah komunitas pemuda dan sekolah menengah umum. Dinas pendidikan musti ambil tindakan, sebelum generasi kita menjadi pemberontak negeri ini.

 

Baca: HTI dan PKI Bukan Agama, Sama-sama Organisasi Terlarang

Pertama, HTI memang dibubarkan, namun gerak ideologis mereka tak akan pernah mati, tetap waspada, kali ini marak KARIM, sebuah komunitas muda Islam, cindil HTI yang menyerang anak-anak SMU dan komunitas-komunitas pemuda.

Kedua, Geraknya sama, tak akan menyebut HTI, namun tujuannya tetap tegaknya khilafah HTI, ada yang menarik dari KARIM ini, politik simbol HTI sebagai sebuah identitas bersama, KARIM membawa itu.

Ketiga, KARIM membawa legitimasi bendera Tauhid, sebagai simbol tegaknya khilafah Islamiyah ala HTI, jika Gema Pembebasan bermain di ranah kampus, maka KARIM ini akan bermain di ranah SMU dan Komunitas, anak-muda muda yang haus akan keislaman, akan tertarik dengan iming-iming heroisme Islam.

Keempat, KARIM membuka cabang-cabang di kota besar, targetnya adalah anak SMU dan komunitas, kegiatan mereka bukan hanya liqo’ dan kajian, tapi sudah tadabbur alam, aksi-aksi sosial, ya mereka akan kejar apa kesukaan anak muda, ini patut kita waspadai bersama.

Hal ini deigelorakan oleh seseorang dan tidak tahu bagaimana ceritanya, dia mendadak jadi “ustadz”. Ketika mendapat simpati atas keislamannya dari banyak orang, tiba-tiba ia berucap: “Nasionalisme tidak ada dalilnya!.” Ucapan senada juga diucapkannya pada banyak forum dengan kalimat berbeda namun substansinya sama; tinggalkan demokrasi, tinggalkan pancasila, beralih-lah ke khilafah.

Baca: Wahabi, HTI dan Kelompok Radikal Kompak Hancurkan Pancasila dan NU

Ucapan seperti ini adalah kebodohan luar biasa yang membuat rusaknya tatanan. Bodoh jika untuk dirinya sendiri tak masalah, tapi jika kebodohan itu membuat kerusakan, wajib untuk dihentikan.

Pertanyannya, mau ikut Nabi Muhammad yang begitu mencintai tanah airnya, atau ikut muallaf yang harusnya banyak belajar tapi ternyata lebih banyak berkoar?

Dalam sirah nabawi, tidak ada ceritanya Kanjeng Nabi melanggar dan mengkhianati kesepakatan dalam bentuk apapun. Di Madinah, Kanjeng Nabi membuat kesepakatan yang dikenal dengan nama Piagam Madinah. Kesepakatan yang disetujui tidak hanya oleh orang Islam, tapi juga Yahudi, Nasrani, Majusi dan Agama Pagan. Juga dari suku atau kabilah apapun jika tinggal di Madinah harus menjaga kesepakatan ini. Ketika ada orang Islam yang melanggar konstitusi dalam piagam Madinah itu, Kanjeng Nabi akan tegas memberi sanksi, hal ini juga beliau lakukan kepada Non-Muslim yang melanggar.Perbuatan Kanjeng Nabi tersebut, dalam internal umat Islam dijadikan sebagi dalil bahwa dengan orang kafir-pun kita harus menjunjung kesepakatan yang telah disetujui. Di negeri kita ini, founding fathers negara kita yang notabene banyak juga dari kalangan ulama meneyetujui kesepakatan bernama Pancasila sebagai ideologi dasar negara. Haram hukumnya melanggar kesepakatan ini.

Baca: Proyek Wahabi di Sekolah dan Kampus

Baik, mari berangan-angan, misalnya kita ikuti saja cacat logika HTI dan teman-temannya, bahwa Pancasila adalah ideologi kafir, taghut, berhala dan lain sebagainya, apakah lalu dengan seenaknya merubah “sistem kafir” ini? Tentu tidak.

Para ulama banyak yang membahas ini, misalnya Ibnu Qudamah dalam al-Mughni-nya menjelaskan: “Muslim yang tinggal di negara orang kafir dalam suasana aman, maka harus mematuhi kontraknya terhadap negara tersebut, karena mereka memberikan jaminan keamanan semata-mata karena adanya kontrak bahwa muslim tidak akan berkhianat. Ketahuilah, pengkhianatan terhadap kontrak adalah tindakan yang dilarang dalam Islam!”

Jadi, HTI yang berteriak seolah memperjuangkan syariat, dengan sendirinya ketika mengajak kepada makar terhadap negara Indonesia lalu menawarkan sistem khalifah adalah perbuatan yang keluar dari syariat.

Baca: Strategi Licik ISIS, HTI, dan PKS Mengubur Cinta Tanah Air

HTI memperjuangkan khilafah, ISIS juga demikian, MMI juga demikian, tapi kok konsep khilafahnya berbeda-beda? Artinya, mereka yang berteriak soal khilafah di negeri ini menawarkan sistem mentah yang rawan kerusakan.

Pancasila mungkin bukan ideologi terbaik untuk dijadikan dasar negara ini, tapi setiap sila-nya sama sekali tidak bertabrakan dengan syariat Islam. Dan dalam naungan negara yang berdasarkan Pancasila inilah, setiap agama bebas menjalankan agamanya, makan sate mudah, mau kawin empat istri pun tak dilarang. Jadi, jangan coba-coba bikin onar dengan ganti sistem mentah seperti khilafah.

Sekali lagi, ikut Kanjeng Nabi yang memberikan contoh memegang teguh kesepakatan atau ikut HTI yang mengajak melanggar kesepakatan?. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: