News Ticker

Surat Terbuka Neziten ‘Semprot’ Fadli Zon

Surat Terbuka Neziten 'Semprot' Fadli Zon Cuitan Fadli Zon

Arrahmahnews.com, JAKARTA – Cuitan “Fadli Zon Tanggapi Adanya Kecurangan di Surabaya: Harusnya Pemungutan Suara Ulang Seluruh Indonesia” mendapat respon dari pegiat medsos Wahyu Sutono, dalam akun facebooknya, berikut surat terbuka Wahyu Sutono kepada Fadli Zon:

Kepada Yth. :

Wakil Ketua DPR RI

Saudara Fadlly Zon

di Jakarta

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Menanggapi cuitan dan pernyataan Saudara di media yang mengatakan bila Pilpres harus diulang di seluruh Indonesia, ini sungguh menyakiti perasaan rakyat, utamanya yang terlibat dengan beratnya serta kesibukan langsung di lapangan yang tentu tak Saudara rasakan seperti apa beratnya.

Baca: Semprotan “Panas” Denny Siregar kepada Fadli Zon

Sebagai wakil rakyat, seharusnya Saudara bisa ikut menenangkan rakyat, dan bukan justru sebaliknya. Pilpres sudah selesai, dan sesuai penghitungan Quick Count (QC) dimenangkan oleh 01 dengan perolehan sekitar 55%. Sekarang tinggal menunggu hasil Real Count (RC) yang sangat mungkin tak jauh berbeda hasilnya, karena margin of error dari QC tak lebih dari 1% naik turun. Itupun diakui sendiri oleh salah satu Ketua DPP Gerindra yang mengatakan bila QC tak pernah meleset.

Jangan hanya saat menang QC diakui, tapi saat kalah tidak mau mengakui, bahkan banyak dari kubu Saudara menuduh KPU curang. Padahal anggota KPU itu yang menunjuk dari DPR RI, yang itu artinya termasuk Saudara.

Pilpres itu sudah dibuat dengan sistem yang baik dan berjalan dengan baik pula. Kalau ada kekurangan atau kecurangan, tentulah sangat mungkin terjadi selama itu produk manusia biasa. Sebab walau setiap TPS ada saksi dari masing-masing kubu, begitu pula pada saat serah terima berjenjang hingga semua data masuk ke KPU Pusat, yang namanya ulah manusia pasti saja ada, dan sejak dulu memang seperti itu.

Persoalannya, siapa yang bermain curang? Ya mungkin saja dari kedua kubu, dan untuk kepastiannya, hanya pihak berwenang yang bisa memutuskan salah benarnya, dan bukan kita-kita ini. Terbukti bahwa di beberapa tempat pemilu harus diulang, itu artinya ada ketidakberesan, tapi pengawas bekerja dengan baik, sehingga jalan tengahnya diulang.

Baca: Fadli Zon Ngotot Tolak Minta Maaf pada Mbah Moen

Untuk menangkap tikus di lumbung padi, tak harus membakar lumbungnya kan. Jadi yang bermasalah saja yang diulang. Lalu bila sudah selesai semua tapi masih ada sengketa keputusan bisa diselesaikan di Mahkamah Konstitusi, jadi bukan melalui perang pernyataan di media, apalagi di jalanan.

Jangan Saudara pura-pura tidak tahu bahwa Pilpres ini membutuhkan biaya yang sangat besar, yakni 25,59 triliun rupiah, dan itu uang semua, bukan daun. Keputusan masalah biaya inipun dibahas bersama DPR RI.

Jangan juga pura-pura tidak tahu bila Pilpres ini menyedot energi yang luar biasa. Tapi yang harus Saudara renungkan bahwa petugas yang mengawal dan mendistribusikan kotak suara ke daerah-daerah terpencil itu sangat luar biasa berat sekali. Mereka naik turun bukit, menembus hutan belantara, menyeberangi sungai dan lautan, atau melewati jalan tak beraspal yang sulit dilalui. Apa itu Saudara bayangkan selama ini?

Tapi yang paling menyedihkan dan harus Saudara renungkan sedalam-dalamnya, negeri ini kehilangan para pahlawan pemilu karena berbagai sebab, utamanya karena kelelahan. Saudara catat baik-baik bahwa 119 orang petugas KPPS wafat. Lalu 15 petugas Kepolisian gugur, plus 2 orang anggota Linmas, dan yang sakit 374 orang yang sudah terkonfirmasi. Apakah ini Saudara mau tambah lagi dengan Pilpres diulang?

Demikian, atas perhatiannya, saya haturkan terima kasih.

Hormat saya,

Wahyu Sutono

(ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: