News Ticker

#KultumRamadan Intisari Agama Adalah Berbuat Baik pada Sesama

JAKARTA – Interaksi baik dengan orang lain merupakan inti dari agama. Orang yang mendirikan salat, berpuasa, menunaikan ibadah haji, dan melakukan ibadah-ibadah lain, tapi dia berbuat buruk kepada orang lain, sungguh ia telah kehilangan intisari agamanya.

Orang seperti ini telah kehilangan hakikat agama dan dia bukan muslim sejati. Dan interaksi yang baik kepada orang lain ini merupakan tujuan agama.

Pada dasarnya, agama turun bukan hanya untuk mengatur antara hamba dengan Tuhannya saja. Melainkan juga agama turun untuk mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Untuk mengatur hubungannya dengan orang lain.

Ini merupakan tujuan utama diturunkannya syariat dan agama-agama.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya, kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan bukti-bukti nyata.. dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan)”.

Untuk apa?

Apakah agar manusia mendirikan salat saja?

Tidak, tapi “..agar manusia dapat berlaku adil”.

Ini tujuan dari agama, yaitu qisth yang berati adil. Agar manusia berlaku adil terhadap sesama mereka!

Sehingga tidak terjadi kezaliman, kejahatan dan permusuhan dalam interaksi di antara sesama manusia.

Inilah intisari Agama. Dan inilah tujuan diturunkannya syari’at.

Ketika manusia melakukan kejahatan terhadap orang lain, meskipun di hatinya terdapat keyakinan-keyakinan agama, dan meskipun dia mempraktekkan berbagai ibadah dan ritual-ritual keagamaan, tapi sungguh dia telah kehilangan intisari agama.

Ini semua hanya tampilan luarnya saja. Sementara ia kehilangan intisari agama. Dan sesungguhnya ia belum merealisasikan tujuan sejati dari agamanya, yaitu menegakkan keadilan.

Jadi, seorang muslim harus bersikap baik dalam interaksinya dengan orang lain.

Pertama, karena ini adalah kewajiban dan tugasnya selama ia ingin berkomitmen terhadap agama. Karena agama memerintahkannya untuk bersikap damai dan baik dalam berinteraksi dengan sesama manusia.

Yang kedua, karena itu cara berinteraksi inilah yang akan menunjukkan agama kepada masyarakat. Masyarakat akan menilai agama melalui sejauh mana keterkaitan kita kepadanya.

Jika seorang agamis bersikap baik dalam interaksinya dengan orang lain, niscaya kesan orang lain kepada agama juga akan baik. Tapi jika seorang agamis berbuat buruk kepada masyarakat, maka pandangan orang lain terhadap agama pun akan menjadi negatif.

Sesiapa yang melakukan kejahatan terhadap orang lain tidak hanya akan memperburuk dirinya sendiri dengan melanggar perintah Allah SWT. melainkan ia juga merusak citra agama karena ia mencemari agama dengan sikapnya yang buruk dalam interaksi dengan orang lain. [ARN]

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: