News Ticker

AS Berlakukan Sanksi Baru di Sektor Logam dan Pertambangan Iran

Arrahmahnews.com, WASHINGTON – Presiden AS Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk menjatuhkan sanksi baru kepada Iran untuk mencegah negara itu mengekspor di sektor logam dan pertambangan.

“Tindakan hari ini menargetkan pendapatan Iran dari ekspor industri logam, 10 persen dari ekonomi ekspornya, dan memperingatkan negara-negara lain bahwa membiarkan baja dan logam lain Iran masuk ke pelabuhan kalian tidak akan lagi ditoleransi,” kata Trump dalam sebuah pernyataan pada Hari Rabu (08/05), menambahkan, “Teheran dapat mengharapkan tindakan lebih lanjut kecuali secara fundamental mengubah perilakunya.”

Trump lebih lanjut menyatakan kesediaan untuk bernegosiasi dengan Iran melalui sebuah kesepakatan.

Baca: Iran Resmi Tangguhkan Beberapa Komitmen Kesepakatan Nuklir

“Saya berharap untuk suatu hari nanti bertemu dengan para pemimpin Iran untuk menyusun kesepakatan dan, yang sangat penting, mengambil langkah-langkah untuk memberikan Iran masa depan yang layak,” sesumbar presiden AS itu.

Departemen Keuangan AS kemudian mengatakan bahwa mereka memungkinkan periode 90 hari untuk transaksi terkait dengan sektor logam yang terkena sanksi.

Di sisi lain, Amerika Serikat mengancam Iran dengan “tekanan maksimum” setelah respons Teheran terhadap pendekatan anti-Iran pemerintahan Trump.

Utusan AS untuk Iran, Brian Hook, membuat komentar ini setelah Iran mengatakan negara itu menskalakan kembali beberapa persyaratan di bawah kesepakatan nuklir 2015.

“Amerika tidak akan pernah disandera oleh pemerasan nuklir rezim Iran,” katanya. “Kami akan terus memberikan tekanan maksimum pada rezim sampai mereka meninggalkan ambisinya yang tidak stabil dan kami sangat ingin komunitas internasional meminta pertanggungjawaban rezim atas ancamannya untuk memperluas program nuklirnya,” ujarnya.

Baca: Iran Segera Umumkan Pengurangan Komitmen Terkait Kesepakatan Nuklir

Sebelumnya, Iran mengancam bakal melanjutkan pengayaan uranium jika pihak-pihak penandatangan kesepakatan nuklir pada 2015 lalu tak membela negara tersebut dari dera sanksi Amerika Serikat.

Melalui pidato di stasiun televisi nasional, Presiden Iran, Hasan Rouhani, melontarkan langsung ancaman tersebut kepada negara-negara yang menandatangani kesepakatan nuklir JCPOA itu, yakni Inggris, Prancis, Jerman, China, dan Rusia.

Rouhani memberikan waktu 60 hari bagi kelima negara tersebut untuk berjanji melindungi sektor minyak dan perbankan Iran di tengah sanksi AS.

“Jika kelima negara tersebut datang ke meja perundingan dan kami mencapai kesepakatan itu, dan jika mereka dapat melindungi kepentingan sektor minyak dan perbankan kami, kami akan tetap melanjutkan komitmen,” ujar Rouhani.

Ia kemudian kembali mengancam akan memberikan respons keras jika isu ini kembali dibawa ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Rouhani menyatakan Iran tetap siap untuk bernegosiasi.

Iran menyatakan tidak bersedia tunduk atas permintaan AS untuk menghentikan program pengembangan peluru kendali. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: