News Ticker

Ninoy Karundeng: Beda Politik Prabowo Pegang Kepala Ular, Jokowi Pegang Ekornya

Jokowi Ninoy Karundeng: Peringatan Keras Jokowi kepada Dua Menteri

Arrahmahnews.com, JAKARTA – Ninoy Karundeng dalam akun facebooknya menjelaskan bagaimana beda kelas politik antara Prabowo dan Jokowi, kalua Prabowo pegang kepala ular sedang Jokowi pegang ekornya.

Kalangan Islam radikal FPI, HTI, khilafah, 212, Ikhwanul Muslimin, dan Wahabi pun menggigitnya. Kini, satu per satu pendukungnya pergi. Kabur. PKS, PAN, Demokrat kabur. Mereka menggeliat di dalam koalisi. Ekor dan badan ular yang tak terurus, karena kepalanya dipegang, mengibaskan diri. Unjuk kekuatan mengoyak tuannya

Yang membuat Jokowi menang melawan Prabowo, salah satunya adalah soal filosofi. Filosofi mendasari cara berpikir. Cara berpikir memengaruhi tindakan. Tindakan strategis harus didasari filosofi yang pas. Nah, dalam kaitan dengan strategi Pilpres 2019 tampak sekali. Prabowo memegang kepala ular, Jokowi pegang ekornya.

Baca: Ninoy Karundeng: Pak Jokowi! Wahabi, Khilafah, Islam Radikal di Sekolah & Kampus Ancam NKRI

Politik itu berbisa. Politik itu kejam. Licik. Jahat. Itu asumsi pandangan subjektif. Padahal politik bisa jadi alat untuk kebajikan. Alat untuk mencapai kemaslahatan rakyat. Aristotle memandang aktivitas politik sebagai pelaksanaan nilai yang dijunjung tinggi (virtue). Jadi politik adalah alat perjuangan untuk kebaikan bersama, negara, bangsa, kota, desa, keluarga.

Prabowo memahami politik secara dangkal. Dia melihat politik seperti Mao. Menurut Mao Zedong, political power grows out of the barrel of a gun. Kekuatan politik tumbuh dari penggunaan senjata. Kekerasan. Demonstrasi. People power. Para penasihat politik dia menerapkan persaingan politik sebagai perang. Amien Rais memrovokasi bahwa Pilpres 2019 adalah Perang Badar.

PKS, Mardani Ali, Neno Warisman, HTI, dan khilafah terus melakukan agitasi, propaganda, dan pengibulan. Langkah yang membuat PKS menjadi sarang, karena dukungan dari khilafah, FPI, Islam radikal, Ikhwanul Muslimin, Wahabi, menyatu dalam bendera PKS.

Baca: Muhammad Zazuli: Kenapa Jokowi dan Ahok Dibenci Kelompok Radikal?

Dalam tim Prabowo diisi oleh banyak orang yang berpikiran nyleneh, bahkan sengkleh. Pilpres 2019 digunakan sebagai alat untuk mencari keuntungan segelintir orang, di atas penderitaan banyak orang. Maka muncullah tuduhan dari Andi Arif tentang Kivlan Zen sebagai orang yang pengepul organizer demo. Pembuat bisnis demonstrasi. Persis sama dengan pendapat Smedley D. Butler, dalam War Is A Racket (1935).

Maka tak mengherankan Prabowo diisi oleh kaum radikal. Seperti yang dikatakan oleh Thomas Hobbes (1588-1679). Bahwa the condition of man is a condition of war. Manusia yang selalu dirasuki kondisi mau perang. Pikiran menyerang. Makanya dia meledak-ledak. Ngawur.

Dalam strategi kampanye pun, Prabowo mempraktikkan perkataan Niccolo Machiavelli. A prudent ruler cannot, and must not, honor his word. Pemimpin yang maju tidak bisa, dan tidak boleh, menghargai (mempercayai) perkataannya sendiri. Maka tak mengherankan kebohongan demi kebohongan, satu hoaks dan hoaks lain, fitnah satu muncul lalu fitnah yang lain disemai. Karena baginya tidak perlu ada yang dipercayai.

Sedangkan Jokowi melihat dengan cara yang berbeda. Jokowi melihat politik sebagai sebuah seni (art) untuk menyatukan kesamaan (association) yang dimiliki banyak orang. Dalam bahasa Johannes Althusius ( 1557-1638), politics is the art of associating men. Bahwa politik adalah seni merangkul, menyatukan banyak orang (yang berbeda).

Baca: Bara Api dari Sang Wahabi Buat Jokowi

Dalam politik sebagai ular, Prabowo memegang kepala ular. Ular yang dipegang kepalanya menggeliat, melilit, mengibaskan badan dan ekornya, bahkan menggigitnya. Dia memegang kepalanya, (dan tidak menjadikan dirinya sebagai kepala). Hanya orang yang tidak paham karakter ular (politik), yang memegang kepala ular. Kepala ular yang dipegang akan menggeliat dan menggigit.

Kalangan Islam radikal FPI, HTI, khilafah, 212, Ikhwanul Muslimin, dan Wahabi pun menggigitnya. Kini, satu per satu pendukungnya pergi. Kabur. PKS, PAN, Demokrat kabur. Mereka menggeliat di dalam koalisi. Ekor dan badan ular yang tak terurus, karena kepalanya dipegang, mengibaskan diri. Unjuk kekuatan mengoyak tuannya.

Sedangkan Jokowi melihat dengan cara yang berbeda. Jokowi melihat politik sebagai sebuah seni (art) untuk menyatukan kesamaan (association) yang dimiliki banyak orang. Dalam bahasa Johannes Althusius (1557-1638), politics is the art of associating men. Bahwa politik adalah seni merangkul, menyatukan banyak orang (yang berbeda).

Baca: Kebencian dan Fitnah Wahabi Terhadap Jokowi

Jokowi paham cara yang benar memegang ular (politik). Dia pegang ekor dan badannya. Sama dengan pemahaman Johannes Althusius tadi. Dia meyakini politik sebagai kegembiraan. Pilpres 2019 sebagai pesta demokrasi, perayaan kegembiraan.

Dia merangkul semua pihak, untuk mencapai tujuan, virtue – nilai-nilai kebaikan. Maka, badan dan ekor dipegangnya, ular (politik) itu bisa dikendalikan. Ular bisa bermanuver menggigit orang lain dengan bebas. Itulah penyebab kekalahan Prabowo, dan kemenangan Jokowi. Semua bermula dari pola pikir. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: