News Ticker

Amnesty: Perusahaan Israel Harus Dituntut atas Peretasan WhatsApp

Arrahmahnews.com, LONDON – Amnesty International mengatakan bahwa perusahaan Israel di balik pelanggaran keamanan baru-baru ini yang menargetkan para aktivis hak asasi manusia pengguna aplikasi messenger WhatsApp harus dituntut karena keterkaitan erat dengan rezim yang represif tersebut.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (16/05), Amnesty mendesak rezim Israel untuk mencabut lisensi ekspor dari perusahaan IT Israel yang terkenal, NSO, yang merancang spyware yang terkait dengan pelanggaran WhatsApp tersebut.

Kelompok hak asasi yang berbasis di London itu mengatakan kepada Reuters bahwa tindakan perusahaan Israel tersebut telah mengakibatkan pelanggaran hak asasi manusia.”

Baca: Kepala Intelijen Israel dan Negara-negara Arab Gelar Pertemuan Rahasia

Pihak WhatsApp pada Hari Selasa mengakui bahwa peretas telah berhasil menggunakan pelanggaran keamanan pada aplikasi pengiriman pesannya untuk menargetkan para aktivis hak asasi manusia.

Eva Galperin, direktur cybersecurity di Electronic Frontier Foundation yang berbasis di San Francisco, mengatakan bahwa WhatsApp telah memberi tahu kelompok-kelompok hak asasi manusia bahwa spyware itu kemungkinan dikembangkan oleh NSO Israel. Ini juga dikonfirmasi oleh pihak lain yang mengetahui masalah ini.

Dalam pernyataan yang dikirim melalui email ke Reuters, Amnesty menegaskan bahwa NSO telah “berulang kali menunjukkan niat mereka untuk menghindari tanggung jawab atas cara perangkat lunak mereka digunakan.”

Dikatakan hanya rezim Israel di peringkat tertinggi yang dapat melakukan intervensi dan menghentikan perusahaan itu.

Baca: Saudi Awasi Aktivis di Kanada Gunakan Perangkat Mata-mata Israel

NSO mengatakan setelah pelanggaran WhatsApp bahwa pihaknya akan menyelidiki “tuduhan atas penyalahgunaan” teknologinya yang “hanya dioperasikan oleh badan intelijen dan penegak hukum.”

WhatsApp, salah satu alat pengiriman pesan paling populer di dunia yang digunakan oleh 1,5 miliar orang setiap bulan, mengatakan pihaknya telah memperbaiki eksploit tersebut dalam pembaruan terbarunya dan meminta Departemen Kehakiman AS untuk membantu penyelidikan pelanggaran tersebut. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: