News Ticker

Pasukan Khusus Inggris Bergabung dengan Militer AS untuk Hadapi Iran

LONDON – Pasukan Khusus Inggris terbang ke Timur Tengah dalam rangka misi rahasia, surat kabar Inggris melaporkan.

Anggota elit Special Boat Service dilaporkan telah bergabung dengan kapal tanker Inggris yang menuju ke Teluk Persia, kemudian ditugaskan untuk memantau aktivitas militer Iran di sekitar Pulau Qesham, rumah bagi kapal perang angkatan laut negara itu, The Sun melaporkan.

Setelah dua kru SBS melewati Selat Hormuz, laporan mengklaim helikopter Royal Navy Merlin yang beroperasi di Oman mengangkut mereka dari kapal.

Kementerian Pertahanan Inggris menolak memberikan tanggapan ketika dihubungi oleh The Sun Online, seorang juru bicara menyatakan mereka tidak pernah berkomentar tentang Pasukan Khusus.

BacaGCC Terbelah Soal Dukungan Konfrontasi Amerika Melawan Iran.

AS telah mengerahkan kapal induk dan pembom B-52 ke Teluk Persia untuk menangkal ancaman dari Teheran, dengan rencana AS untuk mengerahkan sebanyak 120.000 tentara ke Timur Tengah seandainya Iran menyerang pasukan Amerika, sebuah laporan mengklaim minggu ini.

Namun, Presiden AS Donald Trump konon mengingkan pembicaraan langsung dengan Teheran sebagai jalan terbaik ke depan, dalam upaya untuk memenuhi janjinya yang sudah lama ada untuk menarik AS dari perang yang mahal dan menghancurkan, Washington Post melaporkan.

Trump telah berkampanye untuk menghindari konflik di luar negeri, tetapi juga mengambil garis yang lebih keras tentang Iran.

Washington Post mengutip seorang pejabat senior administrasi yang mengatakan bahwa Presiden AS semakin frustrasi dengan apa yang dia lihat sebagai perencanaan perang yang dihasilkan oleh para penasihat hawkish.

Penasihat keamanan nasional John Bolton adalah orang yang dikenal “hawkish” dan telah lama mengadvokasi perubahan rezim di Iran.

BacaAS dan GCC Mulai Tingkatkan Patroli Keamanan di Teluk Persia.

Koran itu mengutip beberapa pejabat AS yang mengatakan Donald Trump lebih memilih pendekatan diplomatik untuk menyelesaikan ketegangan yang meningkat di Timur Tengah dan ingin berbicara langsung dengan para pemimpin Iran.

Dia menegaskan bahwa dia tidak mencari perang dengan Teheran, dan menyatakan bahwa hal utama yang dia inginkan adalah “tidak membiarkan Iran memiliki senjata nuklir”.

“Saya bukan seseorang yang ingin berperang karena perang membunuh ekonomi, membunuh orang yang paling penting,” tambahnya.

Namun, Trump bersedia menanggapi dengan kekerasan jika ada kematian di Amerika atau peningkatan dramatis, tambah pejabat itu.

“Jika Iran ingin bertarung, itu akan menjadi akhir Iran. Jangan pernah mengancam Amerika Serikat lagi!” Trump mentweet pada hari Minggu.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan dia tidak percaya perang akan pecah di kawasan, di tengah kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan dengan AS.

Berbicara dengan Kantor Berita Republik Islam (IRNA) pada akhir kunjungan ke China pada hari Sabtu, ia menambahkan bahwa Teheran tidak menginginkan perang, tetapi tidak ada negara yang memiliki “ide atau ilusi dapat menghadapi Iran”.

Ketegangan AS-Iran berkobar tahun lalu ketika Washington secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 dan menerapkan kembali sanksi yang melumpuhkan negara itu.

Pada 8 Mei 2019, Iran mengumumkan keputusannya untuk menghentikan sebagian kewajibannya berdasarkan kesepakatan.

Amerika Serikat, pada gilirannya, meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah. Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih John Bolton menyebut hal itu sebagai “pesan yang jelas untuk rezim Iran”, dengan mengirimkan armada kapal perang, rudal Patriot, pembom B- 52 dan jet tempur F-15 ke kawasan, menurut Pentagon. [ARN]

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: