News Ticker

Denny Siregar: Waspada Ambulans Jadi Alat Perang dan Senjata Propaganda Berbahaya

Ambulans Gerindra

Arrahmahnews.com, JAKARTA –  Pernah nonton film The Kingdom? Ini film tentang peran Wahabi dalam pergerakan terorisme Internasional, tapi lokasinya di pangkalan militer AS di Riyadh, Arab Saudi.

Awal film itu menarik. Awalnya dua orang Saudi militan menembaki para pekerja AS di pangkalan militer itu.

Ketika situasi panik, ada seorang militan lagi berbaju polisi menyuruh para korban untuk mendekat kepadanya supaya aman dan ketika korban sudah mendekat tiba-tiba “Blarrrrr !!” bom bunuh diri dari militan itu meledak menambah korban jiwa.

Dan yang tambah menarik, ketika situasi terasa aman, datanglah banyak orang mendekat ke lokasi bom bunuh diri itu. Tidak berapa lama “Blarrr !!” sebuah ledakan maha dahsyat meledak di pusat lokasi. Korban jiwa bertambah lagi.

Baca: Wartawan Kanada Bongkar Kebohongan Media Barat di Aleppo

Dari mana asal ledakan itu?

Sesudah diselidiki, ternyata titik utama ledakan berasal dari ambulans yang berada di lokasi dan membawa bom bunuh diri berdaya ledak besar.

Ambulans memang kendaraan yang paling aman untuk masuk ke dalam lokasi karena “berbaju kemanusiaan”. Meski akhirnya kita paham, bahwa ambulans juga bisa berfungsi sebagai senjata perang.

Dari peristiwa 22 Mei, akhirnya mata kita kembali terbuka bahwa musuh bisa berbentuk apa saja, bisa juga berbaju kemanusiaan.

Belum selesai masalah ambulans yang isinya batu untuk menyerang polisi dari partai Gerindra, muncul video dari CCTV sebuah ambulans berfungsi sebagai pengangkut perusuh sekaligus sebagai kendaraan pembagi honor buat mereka.

Dan baru saja dapat kabar lagi, polisi menyita sebuah ambulans yang didalamnya berisi panah sampai bambu runcing. Ambulans sudah beralih fungsi sekarang, bukan lagi menjadi bagian dari kemanusiaan, tetapi menjadi sebuah senjata perang.

Baca: Kupas Tuntas Hubungan Teroris dengan IHH dan IHR Milik Bachtiar Nasir

Dari apa yang terjadi di Suriah, kita juga melihat peran sebuah organisasi berbaju kemanusiaan bernama White Helmets, yang ternyata adalah senjata propaganda pihak pemberontak. Mereka dengan mudah masuk ke lokasi perang dan memberitakan banyak hal yang menguntungkan pemberontak dan menyudutkan pemerintah yang sah.

Sejak awal, berdasarkan apa yang terjadi di Suriah, saya sudah mengingatkan untuk hati-hati terhadap organisasi berbaju kemanusiaan yang mendadak ada disekitar lokasi demonstrasi.

Saya mempertanyakan, untuk apa sebuah organisasi kemanusiaan untuk bencana alam berada di lokasi demonstrasi dengan bahasa mitigasi atau persiapan bencana ? Bencana apa dalam sebuah demonstrasi?

Dan akhirnya topeng-topeng pun terbuka…

Dompet dhuafa (Dhuafa berarti orang miskin) yang awalnya bertujuan untuk membantu orang miskin, tiba-tiba ada di lokasi demonstrasi dan melaporkan kerusakan mobil bantuan mereka. Untuk apa organisasi bantuan untuk orang miskin ada di lokasi demonstrasi?

Siapa yang mereka salahkan? Ya, polisi. Mereka sama sekali tidak membahas tentang provokator kerusuhan yang sudah membakar kantor polisi.

Kemudian Mer-C yang dipimpin JoseRizal, tiba-tiba juga membahas proyektil peluru yang katanya ia temukan di lokasi kerusuhan. Urusan apa Mer-C disana selain menjadi mesin propaganda lawan politik Jokowi?

Sejak kasus bantuan dari organisasi yang sama IHR pimpinan Bachtiar Nasir yang ternyata tertangkap basah memasok logistik pada teroris di Aleppo dan propaganda yang dilakukan White Helmets, saya sekali lagi mengingatkan “Hati-hati” dengan organisasi berbaju kemanusiaan swasta atau NGO disekitar kita.

Mereka sangat mungkin menjadi senjata proganda untuk menciptakan kerusuhan yang lebih luas sekaligus menarik donasi lebih besar atas nama kemanusiaan untuk kepentingan politik mereka. Peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi seharusnya menjadi alarm keras yang terus mengingatkan kita.

Baca: Wahyu Sutono: Biadabnya Para Perusuh

Seharusnya menjadi SOP dalam setiap penanganan demonstrasi apalagi yang berbau politik bahwa organisasi berbaju kemanusiaan dilarang mendekati lokasi. Mereka terindikasi menjadi alat politik bagi yang berkepentingan, alih-alih berbicara kemanusiaan secara netral.

Audit dana-dana mereka dan wajibkan lapor ke publik secara transparan. Meskipun mereka swasta, tapi harus tetap berada dibawah badan pemerintah yang sah untuk mengontrol tindakan mereka.

Yang paling penting dari itu, sesudah kita melihat busuknya topeng politik mereka yang tersembunyi di baju kemanusiaan, adalah jangan lagi menyumbang untuk mereka. Jangan sampai niat memberi bantuan malah menjadi senjata perang yang membunuh diri kita.

Pengalaman seharusnya mengajarkan banyak hal, karena Tuhan memberikan pelajaran pada manusia dengan berbagai bentuk peristiwa. Seruput kopinya. (ARN)

Sumber: Denny Siregar

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: