News Ticker

Netizen: ACT dan Dompet Dhuafa Bela Perusuh?

ACT dan Dompet Dhuafa

Arrahmahnews.com, JAKARTA – Akun facebook Budi Setiawan menyoal keberadaan ACT dan Dompet Dhuafa di lokasi kerusuhan dan Apakah ACT dan Dompet Dhuafa membela Perusuh? Simak ulasannya:

Dukungan logistik menjadi urat nadi dalam setiap aksi demonstrasi. Itulah sebabnya, aparat keamanan selalu berusaha memutus jalur logistik. Menjadikan pengunjuk rasa kelaparan dan kehausan. Mereka kemudian lelah dan membubarkan diri secara suka rela.

ACT DAN DOMPET DHUAFA MEMBELA PERUSUH?

Namun ini tidak terjadi dalam kerusuhan di Bawaslu 21- 22 Mei. Keberadaan ACT dan Dompet Dhuafa justru dianggap kaum perusuh sebagai dukungan.

Baca: Kupas Tuntas Hubungan Teroris dengan IHH dan IHR Milik Bachtiar Nasir

Tidak hanya dukungan logistik, tapi juga moril, mengingat ACT dan Dompet Dhuafa lebih melekat citranya sebagai pemberi donasi untuk Suriah. Bahkan ditenggarai donasi orang Indonesia yang disalurkan dua lembaga itu jatuh ke tangan pemberontak yang terafiliasi ISIS.

Kaum perusuh Bawaslu adalah gerombolan Islam garis pekok yang menginginkan Indonesia bersyariah dengan sistem khilafah. Mereka memanfatkan kebijakan tangan terbuka Prabowo untuk membela mati-matian halusinasi sang Megalomania itu bahwa dia menang tapi kalah karena pemilu curang.

ACT dan Dompet Dhuafa ada di lokasi kerusuhan dengan alasan kemanusiaan. Untuk membantu korban kerusuhan lewat tenaga medis dan ambulan. Bahkan ACT menyediakan food truck yang membagikan sedikitnya 5000 paket makanan dan minuman untuk buka puasa dan sahur. Makanan itu dibagikan juga kepada pihak keamanan.

Polisi dan aparat terkait sudah menyetujui kehadiran dua lembaga donasi itu berada di lokasi unjuk rasa.

Namun keberadaan mereka justru memicu tindakan anarkis para perusuh. Dan menjadi angin segar bagi perencana kerusuhan karena mereka tidak perlu repot menyediakan logistik.

MINI SURIAH. Apa yang terjadi tanggal 21 dan 22 Mei adalah ujicoba kelompok Islam garis pekok melakukan aksi seperti di Suriah. Dan sejak lama aksi itu nampaknya dirancang dengan sasaran pendukung 02 yang tolol-tolol itu.

Baca: Kerjasama IHR dengan IHH Pemasok Senjata Teroris di Suriah Berkedok Misi Kemanusiaan

Mereka dibasuh uteknya sampai pada satu pemahaman memenangkan Prabowo adalah jihad di jalan Allah. You mau bilang ndasmu atas ketololan tersebut mereka tidak bergeming. Tak heran jika banyak orang yang rela mati yang katanya sahid.

Nampak jelas bahwa pendukung Islam koplak yang memimpikan khilafah dan Indonesia ber Syariah, entah dengan berkolaborasi dengan siapa menyiapkan serangan bergelombang. Mereka sudah merencanakan aksi dilakukan malam hari. Sesudah mereka buka puasa dan sholat sambil tunggu orang lebih banyak.

DUKUNGAN LOGISTIK BUAT PERUSUH MAKIN BERINGAS

Makanan? Minuman? Oh jangan takut. Aksi Cepat Tanggap yang kerap menyalurkan donasinya ke Suriah sudah siap dengan food truck.

Mata mereka amblek kena gas air mata? Jangan takut, selain ACT, Dompet Dhuafa juga sediakan ambulan. Belum lagi banyak ambulan dari Yayasan Islam ini dan itu standby di kawasan Sari Pan Pasific dan Bank Indonesia.

Karenanya, para perusuh dengan enaknya melempar batu, bom Molotov serta petasan ukuran besar yang entah dipasok oeh siapa ke petugas.

Dan para perusuh berteriak gembira sambil teriak “Allahu Akbar” disambung sebutan anjing babi ketika melihat petugas terluka.

Baca: Denny Siregar: Waspada Ambulans Jadi Alat Perang dan Senjata Propaganda Berbahaya

Para perusuh tahu bahwa mereka tidak akan ditembak meski banyak petugas luka. Mereka tahu datang ke Bawaslu perut mereka kenyang, tidak kehausan dan mungkin juga agak tebal kantongnya.

Mereka sangat memanfaatkan situasi ini dengan melakukan tindakan seanarkis-anarkisnya. Menjarah tukang rokok, maling makanan di warteg dan mencoba membakar pusat grosir Tanah Abang.

KECELE DAN MAKIN RUSUH: POLA TERORIS HTI

Jika aksi rusuh mereka berhasil dijamin Indonesia akan chaos. Belum lagi aneka berita hoax menyulut kemarahan orang-orang tolol seperti pembakaran pos polisi di Madura gara-gara berita hoax.

Untung saja, sebagian besar rencana itu sudah di endus oleh aparat keamanan. Perusuh tidak menyangka polisi memberi waktu berdemo sampai mereka bosan.

Baca: Denny Siregar: Kenapa ACT Turunkan Relawan Saat Aksi 22 Mei?

Polisi hanya bertindak jika mereka terus ditimpuki, ditembaki petasan dan dilempari bom Molotov. Tidak sedikitpun polisi dan TNI terpancing dengan aneka agitasi dan tindakan para perusuh yang berbaju Islam tapi yang keluar dari congornya semuanya sampah.

Merespon langkah lunak ini, para perencana putar otak dengan menerjunkan pasukan preman. Mereka membakar dan menyerang kemudian lari ke pemukiman dan kalau bisa masjid. Jadi jika polisi mengejar sampai masjid, tinggal gampang gorengnya. Yang berkembang menjadi polisi musuh Islam.

Pas kan dengan taktik para teroris.

Kemudian, jika sudah tercipta chaos maka ganti mereka memprovokasi tentara atau militer untuk mendukung mereka. Dan ini ciri khas HTI yang selalu sukses memecah belah Libya dan Suriah dengan merangkul militer.

Itulah sebabnya, para perusuh itu selalu memuji dan menyambut hangat pasukan TNI yang diterjunkan untuk menenangkan massa. Mereka pikir dengan cara ini Polisi dan TNI bisa dipisahkan. Padahal tidak demikian. Polisi dan TNI melawan para perusuh. Dua lembaga keamanan ini sama bencinya dengan perusuh.

JALUR GAZA

Namun sekali lagi, aksi anarkis para perusuh itu gagal mencapai tujuan. Menciptakan chaos sebagai syarat utama mengubah Indonesia menjadi Suriah kedua. Padahal ACT dan Dompet Dhuafa sudah standby menolong para perusuh disektor yang mereka sebut sebagai Jalur Gaza.

Artinya, jika tidak ada ACT atau Dompet Dhuafa, massa akan lebih mudah dikendalikan. Mereka tidak akan ngotot bertahan sampai tengah malam. Karena kelaparan dan kehausan.

Banyaknya perusuh yang kesetanan adalah juga karena kehadiran dua lembaga itu. Mereka yang uteknya sudah disumpel otak jihad jahad merasa dilindungi.***

Jadi jika ada kejadian seperti di Bawaslu, usir saja siapapun yang berlagak jadi migitasi kemanusiaan. Karena fakta membuktikan bahwa kehadiran mereka justru menambah aliran logistik kaum perusuh hingga bisa lama bertahan melawan pihak keamanan.

Apalagi, ada petugas dari dua organisasi itu yang jelas-jelas menunjukkan keberpihakannya pada kaum perusuh dan pendukung Prabowo. Kalau sudah begitu, you mau ngeles apa?. (ARN)

Iklan
  • Facebook, Ancaman, Jokowi
  • Detik-detik Ceramah Sugi Nur disemprot Jemaah Wanita Karena Sebut Cebong
  • Wahabisme
  • Brigade Muslim Indonesia (BMI)
  • Jokowi dan ojek online

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: