News Ticker

Atwan: Amerika Menyerah dari Perang Melawan Iran

WASHINGTON – Pompeo mulai melemah terkait dialog tanpa syarat dengan Iran. Apakah ini tanda dimulainya hitungan mundur dari prospek perang? Mengapa Trump tiba-tiba mengabaikan 12 syaratnya? Siapa sebenarnya yang mengubah perilaku, Iran atau Amerika? Apa peran “sekutu” di Yaman, Lebanon, Irak dan Palestina terkait perubahan ini?

Kami tidak terkejut dengan perubahan memalukan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, yang menyatakan pada konferensi pers bersama mitranya dari Swiss. Ini mewakili kesiapan pemerintahnya untuk berdialog tanpa prasyarat dengan Iran. Pada saat yang sama juga tidak terkejut dengan tanggapan cepat Iran atas perubahan ini, yang menuntut perubahan perilaku AS sebagai prasyarat untuk kembali ke meja perundingan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Pompeo sebelumnya mengajukan 12 syarat untuk setiap dialog dengan Iran, tepatnya dua minggu lalu. Tampaknya ia menyadari bahwa Iran tidak terintimidasi oleh ancaman perang. Rakyatnya dipersatukan di bawah kepemimpinan spiritual dan siap untuk semua kemungkinan, baik perang ekonomi atau perang militer. Itulah sebabnya ia terjun lebih cepat dari apa yang dibayangkan banyak orang, termasuk musuh Iran.

BacaPompeo Sebut AS Siap Negoisasi Tanpa Prasyarat dengan Iran.

Respons kuat dan menghancurkan tidak datang dari pemimpin Iran, tetapi dari sekutu-sekutunya di Timur Tengah. Operasi pemboman empat kapal tanker minyak di pelabuhan Fujairah, dan sabotase jaringan pipa minyak di barat Riyadh melalui tujuh drone tanpa terdeteksi. Yang terbaru adalah pidato Sayyed Hassan Nasrallah, sekjen Hizbullah, pada kesempatan Hari Quds Internasional, mengancam bahwa perang jika disulut maka tidak akan terbatas pada Iran, tapi akan membakar Israel dan Arab Saudi serta semua kepentingan Amerika di Timur Tengah.

Ya, Amerika Serikat harus mengubah perilakunya bukan hanya terhadap Iran, tetapi terhadap semua negara Arab dan Islam. Rasisme, arogansi, intimidasi, dan penggunaan kekuatan semuanya kontraproduktif. Adapun pengabaian Pompeo atas 12 syarat yang diajukan sebelumnya untuk bernegosiasi adalah pengakuan atas kegagalannya.

Iran, seperti Korea Utara, tidak akan mengadakan perundingan dengan pemerintah Trump sampai pencabutan penuh sanksi ekonomi dan kembali ke fase pra-Trump dari perjanjian nuklir, asalkan negosiasi tersebut tidak termasuk rudal balistik dan hak untuk memperkaya uranium untuk tujuan damai.

Presiden Iran Hassan Rouhani dengan tegas mengatakan bahwa setiap negosiasi dengan Amerika Serikat harus dilakukan dalam kerangka “rasa hormat” bukan dikte. Tetapi masalahnya dalam kamus pemerintahan Trump tidak ada istilah menghormati pihak lain, harus tunduk pada perintah, menyerah tanpa syarat, dan memenuhi tuntutan pemerasan AS tanpa ragu-ragu.

BacaAtwan: Perang Palsu Trump atas Iran.

Kebijakan AS runtuh di Timur Tengah, dan sekutu Presiden Trump jatuh. Benjamin Netanyahu, pilar utama kebijakan ini, gagal membentuk pemerintahan dan menghadapi hukuman penjara atas tuduhan korupsi. Kesepakatan abad ini yang diprakarsai oleh menantu lelakinya, Jared Kouchner, menguap dan menghembuskan nafas terakhirnya. Sementara NATO Arab, yang diandalkan sebagai ujung tombak dalam konfrontasi dengan Iran, juga melempem.

Pompeo memohon negosiasi dengan Iran karena bosnya putus asa menunggu telepon dari Tehran di Gedung Putih. Era di mana pemerintah AS mampu mendikte persyaratannya tidak berlaku pada bangsa yang memiliki martabat, harga diri dan nasionalis.

Kami sama sekali tidak mengesampingkan bahwa Amerika adalah negara adikuasa, bahwa Israel memiliki 300 hulu ledak nuklir, dan sekutu kedua negara ini di Teluk Persia memiliki petrodolar. Tapi apa yang bisa dilakukan rudal-rudal itu dan uang triliunan dolar, jika terjadi hujan rudal di seluruh wilayah Israel, tenggelamnya kapal-kapal induk, hancurnya instalasi air, listrik, pipa minyak dan gas, belum lagi kota-kota besar di Teluk dan Israel yang akan dihujani bom?

Kami yakin Pompeo tahu bahwa Iran tidak akan meninggalkan persenjataan misilnya dan menghentikan dukungan keuangan dan militer ke sekutu-sekutunya di Suriah, Yaman, Palestina, Lebanon dan Irak. Kami juga percaya bahwa Iran yang telah berhasil mengatasi krisis dengan Amerika secara efisien selama 40 tahun pengepungan, tidak akan tunduk seperti negara-negara Arab.

Kami tidak percaya pada Amerika Serikat, dan kami tidak pernah mempercayai pernyataan publiknya. Namun, kami yakin bahwa Amerika sedang menghadapi dilema besar di Timur Tengah, khususnya dalam menghadapi Iran, dan poros perlawanan.

Kami juga tidak mengesampingkan bahwa Iran akan berunding dalam menanggapi mediator yang telah mengetuk pintu Amerika. Tapi perundingan tidak akan terjadi jika tidak dimulai dengan pencabutan sanksi. Negosiator Iran tidak seperti sekutu Arab, yang mudah tunduk pada tekanan, dan kita harus ingat bahwa negosiasi perjanjian nuklir, baik publik maupun rahasia, berlangsung selama lima tahun. Penarikan Trump dari penjanjian nuklir, dan menyebutnya yang terburuk dalam sejarah, justru menguntungkan Iran, karena akan memiliki daya tawar dalam setiap negosiasi baru.

Singkatnya, penarikan Pompeo dari 12 syaratnya adalah pengakuan awal dari kebuntuan. Maka langkah pertama dari kemunduran ini adalah mencari “jalan keluar yang layak” untuk menyelamatkan bosnya dari rasa malu dan menghindari perang yang dapat menjerumuskan Amerika pada akhir kekaisarannya. Seperti perang Afghanistan adalah akhir dari kekaisaran Soviet, dan perang Suez adalah titik akhir dari kekaisaran Inggris dan Perancis serta kolonialisme lama pada umumnya. [ARN]

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: