News Ticker

Saiful Huda: Bara Politik di KPK Semakin Memanas

Komisi Pemberantasan Korupsi Saiful Huda: Bara Politik di KPK Semakin Memanas

Arrahmahnews.com, Jakarta – Saiful Huda Ems (SHE) seorang advokat dan penulis serta pemerhati politik menulis tentang Bara Politik di KPK.

Kasus penyiraman air keras pada Novel Baswedan nampaknya berbuntut panjang, dan tekanan pada institusi POLRI untuk menemukan dan menangkap pelakunya, nyaris membelah dukungan para aktivis pegiat anti korupsi pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal ini terjadi bukan karena soal harus ditemukannya siapa pelakunya dan menangkapnya, karena mestinya semua pihak sepakat untuk itu, namun ini lebih pada soal kepercayaan pada siapa tugas itu harus dilakukan.

Sejarah telah mencatat, antara KPK dan institusi POLRI pernah terjadi benturan yang dikenal dengan peristiwa Cicak vs Buaya, suatu hal yang seharusnya tak perlu terjadi sebagai sesama institusi penegak keadilan yang harusnya saling bersinergi untuk menjadikan Indonesia lebih bersih. Akan tetapi apa yang mau dikata peristiwa itu telah benar-benar terjadi walaupun akhirnya selesai dan sekarang semenjak kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan luka lama itu seperti kambuh lagi.

Baca: Denny Siregar: Indonesia Bukan Thaliban

Benturan kali ini nampaknya lebih parah dari sebelumnya, karena jika dahulu keduanya jauh dari konflik politik sekarang anasir-anasir politik itu seolah turut memperpanas letupan api pertentangan disana. Di internal KPK seperti tengah terpolarisasi pada dua kelompok yang dipengaruhi oleh faktor eksternal, yakni pertentangan dua kubu politisi Pro Jokowi dan Pro Prabowo, akibatnya sekarang muncul istilah baru ada kubu Taliban dan kubu Polisi India di KPK.

Karena terjadinya polarisasi dalam tubuh KPK ini, maka ditengarai akan ada targetan-targetan baru yang akan menyasar kubu Jokowi di masa depan, yang akan dilakukan oleh pimpinan KPK yang Pro Prabowo dan yang setia pada seniornya, yakni Novel Baswedan yang setelah mengalami teror berubah drastis dalam berbusana dan berpenampilan yang nyaris menyerupai pasukan Taliban. Sebaliknya pimpinan KPK yang masih setia pada kepemimpinan nasional Jokowi akan lebih fokus menyasar targetannya pada politisi atau pengusaha yang Pro Prabowo.

Sebenarnya jika hal itu dilakukan tanpa adanya politik kepentingan tidak menjadi masalah, bahkan bagus karena penegakan hukum tidak pandang bulu, siapapun yang korupsi dari kubu manapun haruslah tetap diberantas, masalahnya jika kepentingan dan dendam politik menjadi motivasinya, maka usaha penegakan hukum akan menjadi cemar di mata para pencari keadilan, dan jika itu terjadi maka mereka yang selama ini membenci KPK dan berusaha mati-matian ingin membubarkan KPK akan menemukan momentumnya yang tepat untuk membubarkan atau setidaknya memperlemah KPK.

Teror yang menimpa Novel Baswedan memang sangat melukai ketenangan kita yang ingin melihat Indonesia bersih dari korupsi dan yang ingin memastikan para pimpinan KPK benar-benar mendapatkan jaminan keamanan dari aparatur negara yang berwenang, namun ketika usaha untuk menemukan dan menangkap pelakunya sudah dicemari oleh kepentingan politik dari kedua belah pihak (KPK dan POLRI), hal itu akan menjadi preseden buruk dalam penuntasan persoalan kriminal.

Baca: Manuver Saudi Mengubah Indonesia Jadi Sarang Wahabi Radikal

KPK tidak boleh bersekutu dengan pihak oposisi pemerintahan Jokowi yang sudah terbukti banyak melakukan kejahatan pada negara, hanya karena ingin mendapatkan kekuatan dukungan, sebaliknya institusi POLRI juga tidak boleh mengabaikan persoalan teror yang menimpa Novel Baswedan karena kedekatannya Novel Baswedan pada pihak oposisi pemerintahan Jokowi yang kerap membuat masalah, sebab apapun yang terjadi keadilan harus ditegakkan.

Kita semua berharap KPK tidak lagi ke Taliban-Talibanan, hingga mantan Kepala Daerah yang berwawasan ummat Taliban dan yang pernah korupsi di Jawa Barat tidak pernah diproses hukum. Pun demikian pada institusi POLRI kita semua juga berharap agar lebih serius menemukan dan menangkap pelaku teror pada Novel Baswedan. Fokuslah kalian dalam mengemban amanah rakyat, karena sejauh ini institusi KPK dan POLRI sudah mendapatkan tempat di hati rakyat berkat kecakapan kerjanya yang luar biasa.

Bravo KPK, Bravo POLRI, bersinergilah untuk kejayaan negeri Indonesia!

Melalui tulisan ini penulis ingin memberi pesan untuk Bung Novel Baswedan: Bung Novel dulu sebelum masuk di KPK datang dari institusi POLRI, ayo ganti busana dan penampilannya lagi dong agar kita semua yang mendukung ditemukan dan ditangkapnya pelaku teror ke Bung Novel tidak kikuk. Mau mendukung kok Bung Novel sekarag nampak ke Taliban-Talibanan, mau cuek saja, masa bodoh dan gak mau tau urusan kok kita merasa berdosa.

Baca: Wahabi, HTI dan Kelompok Radikal Kompak Hancurkan Pancasila dan NU

Indonesia sedang mengarahkan perlawanannya pada infiltran Wahabisme Takfiri, fahami dialektika politik kebangsaan saat ini dan Bung Novel, KPK serta POLRI akan tambah menuai banyak dukungan.

Tetap bekerja secara profesional, jika ingin berpolitik semua pribadi harus keluar dari institusi penegak hukum, karena dalam ambivalensi kepentingan keadilan hukum tidaklah mungkin dapat ditegakkan!

Kami cinta KPK dan POLRI tapi kami lebih mencintai tegaknya hukum dan keadilan! Padamkan bara politik di KPK, fokuslah kembali memberantas korupsi demi tegakya harkat dan martabat Rakyat Indonesia! (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: