NewsTicker

Analis Keamanan AS: Tidak Mungkin Iran Pelaku Serangan Kapal Tanker di Laut Oman

TELUK OMAN – Serangan misterius kedua terhadap tanker minyak di Laut Oman atau yang sering juga disebut Teluk Oman telah meningkatkan ketegangan yang sudah membara di Timur Tengah dan merusak pembicaraan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Teheran. Mark Sleboda, seorang analis keamanan dan mantan operator reaktor nuklir di Angkatan Laut AS, menduga bahwa pasukan militer AS kemungkinan terlibat dalam insiden itu.

Insiden Teluk Oman dimana AS telah dengan buru-buru menyalahkan Iran, menambah ketegangan yang membara antara Teheran dan Washington. Berbicara kepada Fox News pada 14 Juni, Donald Trump bersikeras bahwa Iran “melakukannya”, mendorong tanggapan keras dari Teheran yang menuduh AS melakukan “sabotase” diplomasi dan melompat ke tuduhan tanpa sedikit pun bukti faktual.

Sementara itu, tuduhan versi Washington tentang apa yang terjadi di Teluk Oman seketika diragukan dunia setelah Presiden Kokuka, Yutaka Katada, mengatakan bahwa kapalnya diserang oleh “benda terbang”, bukan “ranjau”, seperti yang diklaim AS.

Baca:Jepang Tak Percaya Tuduhan AS bahwa Iran Serang Tankernya di Laut Oman

Pada 13 Juni 2019, dua tanker minyak, Kokuka Courageous Jepang dan Front Altair Norwegia, diserang saat transit di Teluk Oman dalam perjalanan ke tenggara di perairan internasional. Insiden itu terjadi sebulan setelah episode yang sangat mirip pada bulan Mei, ketika empat kapal komersial diserang di lepas pantai Fujairah di Teluk Oman.

Mark Sleboda, seorang analis urusan internasional dan keamanan serta mantan operator reaktor nuklir di Angkatan Laut AS, merasa sangat tidak mungkin bahwa Iran bisa menyerang kapal Jepang di tengah pembicaraan tingkat tinggi antara Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan Ayatollah Khamenei. Ia menyampaikan pandangannya tentang siapa yang benar-benar mendapat manfaat dari serangan itu saat wawancara dengan kantor berita Rusia, Sputnik.

Baca: Diplomat Arab: Israel Dibalik Serangan Kapal Tanker di Laut Oman

“Saya pikir tidak mungkin bahwa Iran akan bertindak sedemikian dramatis pada saat ini, karena jerat itu belum tegas di leher ekonomi Iran. Iran masih melakukan bisnis, termasuk penjualan minyak, gas, dan petrokimia dengan sejumlah negara dan perusahaan menentang rezim sanksi AS. Iran masih bernegosiasi dengan Uni Eropa, yang berusaha menemukan cara untuk menghindari sanksi AS dan bertahan di JCPOA. Serangan seperti itu terhadap pengiriman Teluk Persia, dengan 30 persen dari minyak pelayaran dunia dan produk petrokimia yang bergerak melalui Selat Hormuz, pasti akan mendorong UE untuk meninggalkan Iran dan bergerak lebih dekat ke posisi AS,” katanya.

“Selanjutnya, dalam sebuah pertemuan bersejarah, saat itu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe tengah berada di Teheran ketika serangan terjadi, bernegosiasi dengan Ayatollah Khamenei tentang kemungkinan untuk melanjutkan perdagangan minyak meskipun ada sanksi AS dan berusaha mengurangi ketegangan,” lanjut sang analis menjelaskan.

Baca: Rusia Minta Semua Pihak Tak Buru-buru Ambil Kesimpulan tentang Insiden Laut Oman

“Saya merasa sangat tidak mungkin bahwa pemerintah Iran akan menyerang dua kapal tanker yang sedang menuju Jepang, Kokuka Courageous yang bahkan dimiliki oleh Jepang, sedangkan PM Jepang sendiri berada di Iran. Kapal lainnya, Front Altair, setengahnya dikawal oleh para pelaut Rusia dan dimiliki oleh perusahaan Norwegia Frontline, sebuah perusahaan penyewaan kapal tanker besar yang sangat kooperatif dan terus mengirimkan minyak Iran meskipun ada sanksi AS,” jelasnya.

“Untuk alasan ini, bahkan jika Iran memutuskan untuk meluncurkan “opsi nuklir” mereka untuk mencoba menutup Selat Hormuz dan mengakhiri semua lalu lintas global melalui Teluk Persia, saya merasa sangat tidak mungkin bahwa mereka akan melakukannya pada waktu tertentu dan mulai dengan target khusus ini. Tampaknya jauh lebih mungkin bahwa beberapa partai negara yang berselisih dengan Iran sangat terancam oleh kemungkinan bahwa diplomasi Jepang-Iran yang berhasil akan menyediakan jalur ekonomi bagi Iran dan bahkan mungkin menimbulkan perdamaian. Waktu dan target spesifik (insiden Teluk Oman) menunjukkan bahwa motif (serangan) adalah untuk mematikan kemungkinan-kemungkinan ini. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: