News Ticker

Rusi S. Kamri: Kisah Hebat Perjuangan Istri KH Wahid Hasyim Ibu Bangsa yang Tawadhu

Nyai Solichah Wahid Hasyim Rusi S. Kamri: Kisah Hebat Perjuangan Istri KH Wahid Hasyim Ibu Bangsa yang Tawadhu

Arrahmahnews.com, Jakarta – Pegiat medsos Rudi S Kamri mengisahkan Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim: Ibu Bangsa yang Tawadhu Apakah Anda pernah mengenal Ibu Hj. Sholichah Munawwaroh binti KH Bisri Sansuri? Mungkin sebagian sudah mengenal beliau, mungkin sebagian lagi belum mengenal lebih dekat dengan perempuan hebat yang lahir di Jombang, 11 Oktober 1922. Beliau adalah istri dari KH Wahid Hasyim Menteri Agama RI yang pertama dan ibunda dari KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Presiden RI ke 5.

Dari banyak tulisan yang mengangkat kisah perjuangan hebat Nyai Sholichah ini saya hanya akan sedikit mengulas perjuangan beliau dalam mendidik 6 orang anak dalam kondisi “single parent” pada usia yang relatif masih sangat muda yaitu 30 tahun.

Baca: Islam Ramah, Bukan Islam Horor

Sebenarnya perkawinan beliau dengan KH Wahid Hasyim adalah perkawinan kedua, karena sebelumnya pada usia 14 tahun beliau dinikahkan dengan Abdurrachim bin KH Cholil. Namun sebulan setelah perkawinan sang suami wafat. Dua tahun kemudian dengan didahului dengan cerita lucu salah masuk mobil, beliau pada tahun 1938 menikah dengan KH Wahid Hasyim putra Pendiri NU Kyai Hasyim Asy’ari. Namun perkawinan beliau dengan KH Wahid Hasyim hanya berusia 14 tahun, karena KH Wahid Hasyim wafat pada tahun 1953 pada peristiwa kecelakaan mobil di Subang Jawa Barat. Dan dimulailah babak baru kehidupan Nyai Sholichah sebagai single parent pada usia yang relatif muda, 30 tahun.

Perjuangan hebat seorang perempuan dimulai dengan mencukupi kebutuhan 6 orang anak yang masih kecil. Beliau berbisnis apa saja mulai suplai beras sampai menjual mobil bekas. Tujuannya adalah meneruskan amanah sang suami agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak. Dan ternyata usaha keras Nyai Sholichah berhasil. Anak-anaknya ada yang sekolah di Mesir dan ada yang menjadi dokter. Secara keseluruhan keenam anak Nyai Sholichah menjadi intelektual yang terpandang di negeri ini. Bahkan ada yang menjadi Presiden RI.

Dan hebatnya disamping berhasil memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anaknya, Nyai Sholichah juga sukses merambah ke dunia politik. Pernah menjadi anggota MPRS, DPRD DKI Jakarta bahkan menjadi anggota DPR RI. Beliau secara sosial juga aktif menjadi Pimpinan Muslimat NU. Bahkan konon katanya beliau adalah orang pertama yang berinisiatif mengusulkan penumpasan gerombolan PKI.

Baca: Islam Nusantara Islam Yang Menyatu Dengan Budaya dan Tradisi

Rekam jejak beliau di ranah kegiatan sosial di negeri ini luar biasa. Sebagai sosok perempuan single parent, beliau memiliki perpaduan sempurna antara kekuatan seorang laki-laki dan kelembutan seorang perempuan. Ketegaran, ketabahan, semangat dan keberanian beliau menghadapi tantangan kehidupan selalu menjadi inspirasi bagi putra-putrinya. Dalam waktu cepat beliau berhasil mampu menyerap nilai-nilai yang ditransformasikan oleh suaminya, yang sebagian besar tentu berasal dari ajaran Islam dengan tambahan nilai-nilai barat yang positif.

Warisan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan Nyai Sholichah kepada putra-putrinya adalah :

PERTAMA, nilai KEJUJURAN. Baik jujur terhadap diri sendiri, jujur terhadap orang lain atau masyarakat, atau jujur terhadap Allah SWT.

KEDUA, nilai KEBERANIAN, yaitu keberanian untuk menyampaikan pendapat dan keberanian untuk mengatakan kebenaran walaupun harus menghadapi risiko, juga keberanian dalam memikul tanggung jawab.

KETIGA, nilai EGALITER, yakni kesadaran tentang kesamaan dan kesetaraan di antara sesama manusia. Ia mengajarkan putra-putrinya untuk bergaul dengan siapa saja tanpa memandang status sosial, suku, dan agamanya.

Dalam buku “Ibuku inspirasiku” sosok Nyai Sholichah ditulis oleh kedua putranya, Gus Dur dan Gus Sholah. Nyai Sholichah Wahid di mata kedua putranya adalah pribadi yang terbuka dan mudah bergaul dengan siapa saja, ia sangat rajin melakukan silaturrahim dengan banyak pihak. Di mata Gus Dur, beliau bagaikan “Ayam Induk” bagi pimpinan NU. Ia tidak pernah kehilangan kontak dengan orang-orang penting dalam unsur-unsur masyarakat, baik dengan ulama lokal maupun nasional.

Baca: Mengenang Gus Dur, Tuhan Tidak Perlu Dibela

Hari ini kita belajar dari Ibu bangsa luar biasa yang melahirkan putra-putri hebat dan berguna bagi bangsa dan negeri. Nilai-nilai yang diwariskan beliau kepada putra-putrinya bisa kita jadikan pedoman dan panduan dalam mendidik anak-anak kita. Dan disini akhirnya saya baru mengerti dari mana Gus Dur belajar menjadi tokoh pluralisme di Indonesia.

Satu lagi yang membuat saya terkagum-kagum adalah dengan pengetahuan dan ilmu agama Islam yang sangat mumpuni beliau tetap memegang teguh budaya Indonesia. Baik dari cara berbusana maupun dalam berperilaku yang tawadhu. Beliau bukan hanya membekali anak-anaknya ilmu agama yang mumpuni tapi juga memberikan wawasan kebangsaan yang tinggi. Dan beliau juga memberikan kebebasan bagi anak-anaknya untuk menyerap ilmu dari negara barat sepanjang sesuai dengan kultur Indonesia.

Dari kemampuan ilmu agama, keteguhan sebagai seorang Ibu, jiwa sosial yang tinggi, intelektualitasnya sebagai seorang politisi dan wawasan kebangsaan yang Indonesiawi serta cara beliau memuliakan budaya Nusantara, Nyai Sholichah adalah contoh nyata dari seorang yang mendapatkan hidayah-Nya secara paripurna.

Beliau dipanggil Sang Khalik pada 9 Juli 1994. Mari kita kirimkan doa kepada Ibu bangsa yang luar biasa hebat dan menjadi inspirasi bagi kita semua. (ARN)

Iklan
  • #bubarkankpai
  • Ibukota Negara Baru
  • Tokoh Lintas Iman
  • Tengku Said Irfan Assegaf
  • Prabowo Bukan Mulsim yang Taat
  • @PicPoskotaNews, Anjing Masuk Masjid
  • Denny Siregar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: