News Ticker

MIRIS! Murid Sebuah Sekolah Turunkan Foto Presiden dan Wapres dari Dinding Kelas

Proyek Wahabi di Sekolah dan Kampus MIRIS! Murid Sebuah Sekolah Turunkan Foto Presiden dan Wapres dari Dinding Kelas

Arrahmahnews.com, Jakarta – Sebuah realita miris di Pendidikan kita saat ini, virus radikalisme dan anti pemerintah sangat meresahkan sekali. Hal ini dikisahkan oleh akun Facebook Muhammad Ilham Fadli yang tak melihat foto Presiden dan Wakil Presiden di dinding kelas sebuah sekolah di daerahnya. Dan yang lebih miris lagi bahwa yang menurunkan adalah murid-muridnya.

Beberapa hari yang lalu, pada waktu siang, saya ke sekolah si Sulung. Mengambil rapor. Hasil evaluasi selama satu semester. Seperti biasa, masuk ke ruangan kelas. Bergabung dengan orang tua lainnya yang tujuannya sama dengan saya.

Baca: Kepala BNPT: Paham Radikal Wahabi Sudah Menyasar Lembaga Pendidikan

Kami mendengarkan pesan singkat dari wali kelas. Seorang perempuan cantik. Paruh baya, kira-kira. Ramah. Kesan dari muatan dan gaya bicaranya, beliau pintar.

Seperti biasa, mata saya menerawang ke seantero sudut ruangan. Melihat apa-apa yang tertempel di dinding. Saya paling suka, sejak dulu, bila berada di sebuah kelas sekolah, melihat-lihat tulisan-tulisan dan kata-kata mutiara kreasi anak-anak sekolah.

Tanpa saya sadari, mata saya tertumbuk ke depan. Biasanya, di depan kelas, selalu terpasang foto Presiden dan Wapres. Seperti pada umumnya. Sejak saya sekolah dasar dulu hingga kini.

Tapi ada hal yang membuat saya agak heran. Foto Presiden Jokowi yang harusnya dipampang dengan Wapres Jusuf Kalla, tak ada. Padahal waktu menjemput rapor si sulung semester sebelumnya, foto Presiden ada.

Pada si sulung yang duduk mendampingi, saya bertanya, “kenapa foto Presiden tidak ada?”.

“Diturunkan kawan-kawan beberapa waktu yang lalu. Sebelum Pilpres!”, jawabnya sambil tersenyum.

“Mengapa kamu tersenyum? ….Tak protes? …. tak ada yang menyuruh kembali untuk memasangnya pada posisi semula?”, tanya saya kembali.

Baca: Waspada Proyek Ideologi Radikal Wahabi di Sekolah dan Kampus

“Biasalah, yah. Efek Pilpres kemarin-kemarin. Terbawa serta ke ruang lokal ini. Tak ada yang menyuruh kembali memasangnya. Heran juga …..tapi begitulah. Nanti bila saya protes, banyak pula yang bilang saya pro Jokowi. Padahal ia Presiden kita. Nanti, biar saya bilang sama kawan-kawan, pasang kembali. Itu kewajiban kita. Termasuk bilang pada guru agar meluruskan kembali perilaku ini!”, jawab si sulung.

Nanti. Bukan kini.

Nampaknya si sulung saya, sedikit takut melawan “arus”. Tapi saya bahagia, dengan jawabannya.

Baca: Ninoy Karundeng: Pak Jokowi! Wahabi, Khilafah, Islam Radikal di Sekolah & Kampus Ancam NKRI

Jujur, saya sedih. Kontestasi tidak mengajarkan bagaimana menghargai perbedaan. Kasihan anak-anak didik. Mereka direcoki berita “miring” lagi menumbuh kembangkan nilai-nilai ketidaksukaan secara vulgar. Saya yakin, mereka tak mempelajari hal ini di sekolah. Tapi mereka dapatkan dan terpupuk mengkristal dari apa yang mereka lihat, baca dan tonton selama ini. Buah dari panasnya kontestasi politik. Ditambah lagi, pembiaran yang dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya meluruskan.

Baca: Perekrutan dan Kaderisasi Kelompok Radikal di Kampus Mirip Gaya NAZI dan PKI

Ini bukan tentang Jokowi, Prabowo dan entah siapa lagi. Ini tentang kewajiban kalian menghargai pemimpin negeri. Siapapun mereka. Demikian diskusi lanjutan yang kami lakukan sepanjang perjalanan pulang.

Kebencian memang memberi kita kekuatan yang besar, bahkan mudah diperanakpinakkan, tapi tak membuat kita bijak dan mengajarkan kebijakan pada orang orang lain. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: