News Ticker

Korut: Perpanjangan Sanksi AS Manifestasi Tindakan Bermusuhan Paling Ekstrem

Arrahmahnews.com, PYONGYANG – Korea Utara mengecam perpanjangan sanksi AS baru-baru ini terhadap negara itu, menganggapnya sebagai “tindakan bermusuhan,” paling ekstrem, dan bersumpah untuk tidak pernah akan menyerah dalam menghadapi sanksi atau tindakan militer.

“Negara kami bukanlah negara yang akan menyerah pada sanksi AS, kami juga bukan negara yang bisa diserang AS kapan pun mereka mau,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara yang tidak disebutkan namanya dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (26/06), sebagaimana dikutip kantor berita resmi KCNA.

Juru bicara itu menggambarkan bahwa pembaruan larangan AS itu sebagai “manifestasi dari tindakan bermusuhan paling ekstrem,” mengatakan bahwa Korea Utara “tidak akan mengemis demi agar sanksi dicabut.

Baca: Rusia Seru Penghentian Cepat Semua Sanksi atas Korut

Pejabat itu juga memperingatkan akan sulit untuk mencapai denuklirisasi selama politik AS didominasi oleh para pembuat kebijakan yang memiliki “antagonisme lazim” terhadap Korea Utara.

“Semua ini memperlihatkan dengan jelas pada kenyataan bahwa mimpi liar AS untuk membuat kami berlutut melalui sanksi dan tekanan tidak berubah sama sekali dan tetap tumbuh bahkan lebih jelas,” katanya.

Pekan lalu, Washington memperpanjang enam perintah eksekutif yang berisi sanksi yang dijatuhkan pada Korea Utara selama satu tahun.

Tanggapan Korea Utara ini disampaikan hanya sehari setelah Direktur Badan Intelijen Pertahanan AS Letnan Jenderal Robert Ashley mengatakan bahwa komunitas intelijen AS percaya pemimpin Korea Utara Kim Jong-un “tidak siap untuk melakukan denuklirisasi.”

Baca: Dikunjungi Xi Jinping, Kim Jong-Un Puji Hubungan Abadi China-Korut

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-unn mengadakan KTT pertama di Singapura pada Juni tahun lalu dan sepakat untuk membina hubungan baru serta berupaya menuju denuklirisasi semenanjung Korea.

Namun KTT kedua di Vietnam pada Februari gagal menemui kesepakatan karena kedua pihak gagal menjembatani perbedaan antara seruan AS untuk denuklirisasi dan tuntutan Korea Utara terhadap pencabutan sanksi.

Sejak saat itu, Korea Utara telah mengeluhkan sanksi AS dan menuntut Pompeo digantikan oleh seseorang yang “lebih dewasa”, sementara memuji hubungan yang dibangun Antara Kim dengan Trump.

Pompeo, yang berbicara kepada wartawan pada hari Minggu (23/6), meningkatan harapan untuk kebangkitan kembali pembicaraan nuklir setelah pertukaran surat baru-baru ini antara Trump dan Kim. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: