News Ticker

KH Aqil Siroj: Ulama Instan Bermodal Sorban

JAKARTA – Mendengarkan ceramah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, terkadang sulit dibedakan antara bercanda dengan serius. Apalagi kalau bicara soal jenggot dan celana cingkrang. Ada yang terpingkal karena lucu, tapi bagi yang disindir melalui candaan Said Aqil tetsebut, telinga bisa panas.

Memang muncul pertanyaan, apa urusannya Aqil Siroj dengan celana cingkrang dan jenggot. “Saya tidak benci dengan orang bercelana cingkrang dan orang yang berjenggot,” kata Said Aqil.

Waktu bertemu ngopibarang.id di Graha Gus Dur DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jakarta, beberapa hari yang lalu Said tidak bicara tentang celana cingkrang, tapi ngobrol soal ustad dan ulama instan yang hanya bermodal sorban. Ilmu agamanya dangkal. Tapi kalau ndalil sampai berbusa-busa.

Yang membuat pengasuh Pondok Pesantren Kempek Cirebon ini heran, mereka bangga banget dipanggil ulama. Padahal latar belakang mereka itu adalah penyanyi, bukan jebolan pondok pesantren atau lulusan lembaga pendidikan tinggi Islam.

“Nggak perlu saya sebutkan namanya, dia sering menyanyi di televisi sekarang tiba-tiba memakai sorban dan gamis, tinggal jenggotnya yang belum tumbuh. Ini serius, nggak guyon,” kata KH Said.

Lanjutnya, ulama itu memang tidak ada SK-nya, tapi tidak semua orang bisa disebut ulama. Kata ulama adalah bentuk jamak dari kata alim. Artinya, orang yang pinter di dalam bidang apa saja. “Ulama bentuk jamak dari ada aliim, ada (huruf) Ya’ -nya ya. Aliiim,” katanya.

Jadi, katanya, secara lughah ulama tidak hanya ahli dalam bidang agama, tapi ahli dalam bidang apa pun. Ulama itu cendekiawan.

“Orang Indonesia sekarang membagi yaitu orang yang menguasai ilmu yang mendalam bidang keagamaan disebut ulama. Kalau dalam ilmu umum namanya cendekiawan. Tapi semuanya itu ulama,” katanya.

Seperti disebutkan dalil dalam Al-Qur’an yang artinya “Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Kontesk ayat itu, menurut KH Said, ulama adalah orang yang tahu tentang hukum-hukum umum. Misalnya Albert Einstein, itu ulama ya dari segi lughat (bahasa).

“Sekarang di Indonesia, baru bisa tabligh saja disebut ulama. Siapa yang memberikan label ulama itu. Menurut Ali bin Abi Thalib, orang yang dikatakan ‘alim adalah orang yang mengamalkan ilmunya. Kalau tidak mengamalkan berarti bukan ulama,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, ulama Bani Israil, di dalam Al-Qur’an menggunakan ungkapan ulil ilmi. Di kalangan mereka, ulama disebut al-ahbar, artinya para cendekiawan. Itu dari kata alhibr, tinta. Orang alim di kalangan mereka tiada lain pekerjaannya adalah menulis, menulis, dan menulis, jadi alhibr.

Ada ulil ilmi, ada ulin nuha, orang yang mempunyai akal, ulil abshar, itu masuk dalam jaringan ulama. Di kalangan, orang Islam, ulama adalah orang alim di dalam agama.

Di dalam hadits juga ada, kata Nabi, al-ulama waratsatul anbiya. Itu adalah ulama yang ahli dalam ilmu agama. Ulama itu yang mewarisi para Nabi. Sementara Nabi tidak mewariskan dirham (uang), tapi al-ilm.

Orang yang bisa menguasai apa peninggalan Nabi berupa Al-Qur’an dan sunnah maka dia sebenarnya dia mendapatkan bagian yang sempurna. Ulama di situ adalah ulamaud din (ahli agama). “Tapi sekarang orang gampang-gampang saja menyebut ulama,” katanya.

Ulama, lanjutnya, adalah orang yang memahami seluk-beluk ajaran agama Islam dengan mempelajari sumber-sumber ajaran Islam. Cara pemahamannya menggunakan metode-metode yang disepakati para ulama, yaitu melalui Al-Qur’an, hadits, ijma’, qiyas.

“Itu sebenarnya ijtihadnya para ulama dahulu dalam memahami Al-Qur’an, dengan hadits, qiyas, ijma sahabat, qiyas mengqiyaskan satu persoalan satu dengan persoalan yang lain, antara yang asli dengan yang far’i.

“Karena itu jangan seenaknya menyebut dirinya ulama, warga nahdiyin dan umat Islam pada umumnya, hati hati dengan ulama instan,” kata Said Aqil. [ARN]

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: