NewsTicker

Islam Wahabi Produk Konspirasi Yahudi

Arrahmahnews.com, JAKARTA – Islam Wahabi, produk konspirasi Yahudi, Inggris dan Barat dengan tokoh sentral Mr.Hampher berkewarganegaraan Inggris yang menyamar dengan mengganti nama dirinya Syeh Al-Majmu’i, tinggal dan mengawali pergerakannya di Saudi Arabia, kawasan tempat dimana Islam diturunkan. (sejarah Islam Wahabi)

Islam sebagai agama besar yang memberi rahmat dan kebaikan kepada seluruh kehidupan alam semesta, tidak sedang berada di tempat dimana Islam diturunkan. Oleh para ulama dakwah dianalogikan sebagai seekor binatang ular sangat besar yang saat ini telah tidak sedang berada di sarang peraduannya. Melakukan lawatan muhibah dari belahan bumi yang satu ke belahan bumi lainnya hingga di seluruh penjuru pelosok muka bumi, akan tetapi suatu saat setelah sampai pada waktunya ular tersebut akan kembali ke sarang peraduannya seperti semula dengan membawa kesaksian yang benar dan kemuliaan yang nyata.

BacaMembongkar Tabir Sejarah Kelam Wahabi dalam Islam

Mayoriras konflik politik berlatar belakang kepentingan ekonomi bermuatan agama yang terjadi di banyak negara, semuanya adalah berakar dan bersumber dari Islam Wahabi.

Berbagai metamorfosis format, betuk organisasi dan politiknya telah menerapkan “Strategi Kultur Islam” dengan menjadikan Islam sebagai jargon politik, ayat suci sebagai hujah dan pembenar retorika politik di dalam merebut kekuasaan di seluruh negara di belahan dunia.

Banyak bentuk penyelenggaraan pemerintahan, Khilafah bukanlah bentuk peyelenggaraan pemerintahan yang disyariatkan di dalam Islam, sehingga bukan menjadi kewajiban bagi suatu negara untuk mewujudkan dalam penyelenggaraan pemerintahannya.

Memilih pemimpin adalah fardzu ‘ain, terwujudnya kepemimpinan (khalifah) dan pelaksanaan syariat Islam di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak mensyaratkan berdirinya sebuah bentuk negara Khilafah.

Islam Wahabi membangun imajinasi konstruksi pemikiran material semata, bahwa Islam akan mencapai kemajuan dan kejayaan apabila ditopang dengan segala fasiltas menduduki kekuasaan. Adalah hal mustahil karena Islam tidak menisbatkan pada sebuah kekuasaan dan tidak identik berdimensi material. Justeru penguasa dan kekuasaanlah yang membutuhkan, bergantung dan harus ditopang dengan material dan bila ingin baik perlu tatanan moral, spiritual keagamaan.

BacaNinoy Karundeng: Pak Jokowi! Wahabi, Khilafah, Islam Radikal di Sekolah & Kampus Ancam NKRI

Doktrin yang dibangun, dikembangkan, dipropagandakan dan disebarluaskan pengaruhnya ke masyarakat Internasional adalah negara dengan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang tidak didasarkan atas Khilafah, dituduhnya sebagai negara kafir, thoghut dan wajib untuk diperangi, halal darahnya untuk dibunuh. Sekalipun ajaran dan Syariat Islam dengan baik telah terimplementasi menjadi budaya amalan kehidupan keseharian oleh penduduk mayoritasnya dan atas dasar konstitusi negarapun telah menjamin dan melindunginya, hingga terpupuk dengan baik menjadi komponen kekuatan besar sebagai bangsa dalam mencintai dan membela tanah airnya dari segala macam bentuk ancaman dan rongrongan.

Klaim terhadap Islam dan kebenaran seakan absolut dan mutlak ada pada kelompok pihaknya dan menjadi miliknya.

Islam Wahabi telah lama masuk ke Indonesia dan telah 52 tahun bersimbiosis dengan kokoh dan rapi, bersamaan waktu didaulatnya Soeharto sebagai penguasa boneka rezim orde baru oleh Amerika Serikat dan CIA hingga SBY. Islam Wahabi dipelihara dan dibesarkan oleh rezim orde baru atau setidaknya rezim orde baru telah melakukan pembiaran terhadap berkembang biak dan merajalelanya sel-sel Islam Wahabi di Indonesia. Menjadi sangat jelas apabila Soeharto selama berkuasa tetap mencurigai, memusuhi, memarginalkan dan melemahkan para tokoh maupun kelompok umat Islam yang telah berjasa besar melahirkan dan membidani lahirnya kemerdekaan NKRI.

Pada Pilkada DKI Jakarta, April 2017 dan Pilpres, April 2019, kelompok Islam Wahabi telah mampu membuktikan kekuatan dan keberhasilan mengoperasionalisasikan di lapangan misi sucinya pada tahap permulaan yaitu polarisasi. Ya, pembelahan. Memecah belah umat Islam di Indonesia menjadi dua kelompok kekuatan yang saling berhadapan suatu saat sangat dimungkinkan berpotensi untuk dibenturkan dalam kancah pertikaian pertumpahan darah antar anak bangsa, tinggal menunggu kesempatan waktu yang tepat mencapai titik posisi merebut kekuasaan.

Bagi Indonesia kemungkinan dapat dianeksasi melalui proses dan tahapan seperti terjadi di Suriah, Iraq, Libya, dll yang harus dihancurkan dan diporakporandakan terlebih dahulu, baru kemudian dikuasai dan dijarah seluruh sumber kekayaan alam dan perekonomiannya.

Indonesia tetap akan menjadi ladang ekonomi dan ladang industri bagi imperialis kapitalis AS, Yahudi dan Barat di kawasan Asia.

Tetapi bisa juga tidak sama sekali, seperti halnya yang telah terjadi di negara kerajaan Saudi Arabia, dicaplok secara perlahan dan bertahap melalui pengembangan paham Islam Wahabi secara terstruktur, evolusioner tetapi berjalan pasti merasuk ke dalam pemerintahan kerajaan maupun sendi kehidupan rakyatnya. Kerajaan Saudi Arabia sepenuhnya telah menerapkan ajaran dan paham Islam Wahabi dalam pemerintahan dan kehidupan rakyatnya. Sebagai akibat, berapa banyak situs-situs penting umat Islam telah dihancurkan, tinggal tersisa makam Rasulullah yang urung dimusnahkan. Tanpa disadari Saudi Arabia telah dengan mudah terjebak dan tekuk lutut bersimbiosis dan bermitra bahkan menjadi sekutu utama di dalam menanamkan pengaruh dan menundukkan negara negara di kawasan Timur Tengah, menjalin hubungan mesra dengan Yahudi. Menguasai, mengoperatori, mengendalikan dan mengelola ladang migas dan perekonomian negara negara Timur Tengah.

Bila opsi tersebut yang terjadi, Indonesia tidak akan jauh berbeda kondisinya dengan Saudi Arabia, akan diperankan sebagai sekutu Yahudi, AS dan Barat di kawasan Asia.

Mengingat Indonesia negara berpenduduk muslim terbesar dunia, akan menjadi ladang subur bagi persemaian dan penyebaran benih paham Islam Wahabi melalui berbagai lini sektor strategis, lembaga pendidikan dalam bentuk apapun yang diciptakan menjadi “sarana likoq, tarbiyah politik dan harokah politik” termasuk pesantren dengan kemasan berlabel pesantren Islam modern. Dikotomipun terbentuk dan tidak dapat terelakkan antara pesantren modern dengan pesantren tradisional. Setigma yang ada seolah pesantren tradisional telah usang dan harus minggir digantikan dengan pesantren modern, sekalipun pesantren modern telah kehilangan ruh keIslamannya.

BacaPolisi Diraja Malaysia Sahkan Wahabi Ajaran Terorisme

Kesemuanya adalah gurita yang menghambat kemajuan dan menggerogoti perekonomian dan seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Keadaan semacam ini tetap tidak akan memberi keuntungan sedikitpun bahkan kehancuran secara perlahan bagi kekuatan dan kemajuan yang dicita-citakan oleh masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat di kawasan Asia pada umumnya.

Pilihannya cuma ada dua bagi Indonesia. Menjadi sekutu konspirasi imperialis kapitalis AS, Yahudi dan Barat di kawasan Asia, atau menjadi negara besar, berdikari dan maju bersama negara-negara di kawasan Asia menghadapi percaturan politik dan ekonomi global yang selama ini diperankan oleh AS, Yahudi dan Barat.

Dua kelompok siap bertikai di Indonesia:

Pertama, kelompok umat Islam existing, Religius Berkebangsaan, atau biasa disebut Nasionalis Religius, yang jauh lebih dahulu berada di Indonesia dan secara real telah terukir dengan tinta emas di dalam sejarah perjuangan perjalanan bangsa sebagai pemilik dan pelaku sejarah lahir dan tegak berdirinya NKRI dengan Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945 dan Panca Sila.

Kedua, kelompok Islam Wahabi yang diimport dari Saudi Arabia oleh kaum terpelajar yang ke arab-araban, dengan pandangan bahwa Saudi Arabia dan Barat adalah segalanya. Kelompok Islam Wahabi sama sekali tidak memiliki andil sejarah berdirinya NKRI. Disamping itu konspirasi Yahudi bersama Saudi Arabia telah membuat paket program Wahabisasi di Indonesia melalui berbagai bentuk program kerja sama, donasi, bea siswa dan transformasi pertukaran pelajar. Lebih banyak bukan antar pemerintah.

Islam Wahabi diperankan sebagai mesin penghancur Islam dari dalam, yaitu dengan menggulirkan secara terus menerus wacana dan selera perdebatan khilafiah, pertentangkan perbedaan sistem dan bentuk bernegara, amaliah hingga bermadzhab.

Islam Wahabi juga diperankan sebagai alat agresi merebut kekuasaan, bertujuan ingin meng-amandemen NKRI, UUD 1945 dan Panca Sila menjadi negara Khilafah dengan Syariat Islam yang praktiknya cenderung memaksakan kehendak terwujudnya masyarakat homogenitas, yang sampai kapanpun tidak akan pernah dapat dibenarkan dan diterima oleh akal sehat, kemudian menabrakkannya dengan kebhinekaan, pluralisme dan heteroginitas suku, agama, ras, kelompok dan antar golongan, dll yang merupakan keaneka ragaman kebaikan karunia besar dari Allah SWT, Tuhan semesta alam bagi bangsa Indonesia dan merupakan sunnatullah.

Doktrinasi, propaganda, penggiringan opini, kekacauan, huruhara dan konflik antar komponen kekuatan bangsa dan upaya mendeligitimasi pemerintah akan terus diciptakan hingga masyarakat capek, lelah, apatis, rapuh dan kehilangan rasionslitasnya. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: