News Ticker

Rudi S Kamri: Aku Ingin Memelukmu Setelah Kalah Secara Memalukan

Arrahmahnews.com JAKARTA – Kontestasi Pilpres 2019 sudah usai. Dan seperti yang kita saksikan terjadi polarisasi rakyat secara tajam seperti 2014 lalu. Rangkaian hoax dan ujaran kebencian begitu menyebar mengular hampir tanpa batas. Kerusakan sosial begitu parah terbelah.

Kelompok kubu lawan Jokowi menggunakan politik identitas keagamaan. Sebagai akibatnya agama direndahkan dan dipermainkan untuk mendapatkan kekuasaan. Mereka membentuk pasukan darat yang sudah diindoktrinasi. Dan menjelmalah mereka seperti zombie-zombie yang bebal menebar hoax, ujaran kebencian dan fitnah ke masyarakat akar rumput dan media sosial.

Ciri khas orang yang terpapar gigitan zombie adalah menjadi pribadi yang kasar, selalu punya praduga negatif terhadap pemerintah dan aparat negara, mempunyai logika terbalik, menjadikan ujaran kebencian, hoax dan fitnah di media sosial layaknya kitab suci. Mereka juga aktif menyebarkan informasi palsu yang mereka terima ke orang lain secara berantai.

Karena cara mereka yang kasar dan cenderung brutal dalam menyerang Jokowi, tentu saja akhirnya menimbulkan luka menganga merah bernanah. Jadi saya tidak heran melihat euforia para pendukung Jokowi pasca keputusan MK. Sangat dimengerti. Apalagi bagi para relawan yang benar-benar mengalami pahit getirnya saat di lapangan pada masa kampanye.

Lalu semua harus ditutup dan selesai…..

Pasca keputusan MK, Jokowi meminta semua rakyat Indonesia untuk kembali bersatu. Tidak ada kubu 01 dana 02 yang ada adalah kubu persatuan Indonesia. Itu ajakan yang sangat simpatik dan perlu kita dukung bersama. Kita lupakan masa lalu dan kita bersama menatap masa depan.

Namun secara pribadi saya masih memerlukan waktu untuk mengobati dan menyembuhkan luka di hati ini sebagai akibat serangan brutal mereka kepada saya secara pribadi. Luka hati sebagai akibat dari ancaman untuk dijadikan target, penghinaan dan cacian yang merajalela via inbox akibat kerasnya tulisan saya menghantam mereka, harus saya netralisir dulu. Agar sembuh total dan tidak menyisakan bekas. Apalagi dalam realitanya sampai saat ini mereka tetap aja menyerang dan menyebar hoax, fitnah dan ujaran kebencian. Hmm…

Terkadang saya ingin membelai rambut mereka sambil berbisik :

“Aku mengerti perasaan marahmu. Sudah curang, menyebar fitnah, hoax dan ujaran kebencian….. eh masih kalah juga. Berat memang menderita kekalahan seperti itu….aku tidak akan kuat. Biar dirimu saja”.

Lalu saya genggam tangannya sambil kuucapkan :

“Aku tidak suka membalas. Aku juga bukan orang pendendam. Tapi aku sangat menikmati dirimu menggelepar-gelepar tertusuk kekalahan.”

“Aku ingin memelukmu, tapi tidak sekarang. Saat ini ijinkan aku menyembuhkan lukaku sambil menikmati derita kekalahanmu.” [ARN]

Sumber: Rudi S Kamri.

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: