News Ticker

Eko Kuntadhi: Pengkhianatan Prabowo

Pak Prabowo Subianto Eko Kuntadhi: Pengkhianatan Prabowo

Arrahmahnews.com, Jakarta – Pegiat medsos Eko Kuntadhi menulis sebuah analisa menarik terkait ngototnya pendukung Prabowo tidak mengakui kekalahannya dalam pilpres 2019.

Menurut Eko, agak susah jadi Prabowo. Pendukungnya banyak tapi gak pengertian banget. Bayangin, Prabowo sudah kalah bertarung. Habis-habisan. Ini adalah kekalahan yang kesekian kalinya. Ibaratnya dia sudah babak belur.

Tapi sama pendukungnya dia disorong terus-terusan gak boleh keluar gelanggang. Padahal juri sudah mengangkat tangan Jokowi sebagai pemenang. “The winner is…”

Lha, walaupun sabuk juara sudah diserahkan kepada Jokowi, oleh pendukungnya Prabowo disuruh terus menari di atas ring. Dengan wajah yang sudah babak belur. Dia diminta melakukan jab kanan. Hook kiri. Upper cut. Meski cuma meninju udara kosong.

Baca: Denny Siregar ‘Semprot’ Prabowo

Padahal Prabowo sudah lelah, hayati. Sudah gak kuku. Dia butuh istirahat. Tapi pendukungnya gak peduli. “Ayo, hantam terus Pak. Gebuk terus.”

“Gebuk siapa? Jokowi sudah jadi pemenang?”

“Pukul angin juga gak apa-apa pak. Kami berdoa, semoga anginnya KO. Terus bapak nanti diangkat jadi pemenang. Menang lawan angin. Kami rindu kemenangan, pak. Kami rindu kemenangan.”

Begitulah yang terasa. Sejak kemarin akun resmi Gerindra di twitter berusaha memberikan perspektif bahwa pasca Pilpres, sudah waktunya rekonsiliasi. Naga-naganya jelas. Seperti ada keinginan Gerindra untuk ikut gerbong kabinet Jokowi.

Apalagi sampai sekarang Gerindra juga belum mendeklarasikan posisi politiknya sebagai oposisi. Gayanya mulai genit seperti cewek minta digodain. Sengaja ngomong sok mendesah-desah.

Baca: Prabowo Tersandera Politik Identitas HTI dan PKS

Partai koalisi Jokowi mulai membaca arah itu. Mungkin juga karena kuatir jatahnya disabet pendatang baru. Mereka mendayu-dayu bicara bahwa dalam alam demokrasi oposisi juga punya tempat terhormat. Lagi pula baik di pemerintahan maupun oposisi sama-sama penting. Itu sama saja mereka bilang, jadi miskin gak hina kok.

Iya, sih, miskin itu gak hina. Tapi gak enak!

Nah, narasi yang dikumandangkan Gerindra belakangan ini memang lebih sejuk. Kita bersyukur. Narasi mereka bisa membuat suasana adem. Bagaikan memakai sarung tanpa celana dalam. Semriwing.

Sama seperti PAN. Ketika Pilpres dulu, yang sering nongol adalah Amien Rais yang mulutnya sering menyemburkan api. Membakar rakyat dalam kebencian. Saat sekarang, Amien ngumpet. PAN lebih banyak diwakili orang lain dengan suara lebih merdu. Tujuannya sama. Berharap diajak masuk koalisi Jokowi.

Tapi kebencian tetap kebencian. Meskipun Gerindra bermaksud menunjukan hal positif, banyak orang marah dengan arah itu. Bahkan di twitter tagar #PecatAdminMedsosGerindra sempat jadi trending topic.

Baca: Surat Terbuka ‘Super Pedas’ Rudi S. Kamri Buat Prabowo ‘Jangan Jadi Pecundang’

Mereka yang tadinya mendukung Prabowo mulai mencaci-maki. Sebab Prabowo semakin menunjukan keinginan rekonsiliasi. Bahkan mereka menuding Prabowo berkhianat. Mereka gak suka kalau Prabowo menghormati hasil Pemilu.

Bagi orang-orang ini, rekonsiliasi dan suasana damai adalah kejahatan. Kebencian harus dipertahankan. Mungkin dulu mereka diciptakan Tuhan dari tanah sengketa. Makanya bawaanya mau ribut melulu.

Atau mungkin saja saat lagir dulu, ari-ari mereka gak dikubur. Tapi dikasih ke kucing. Makanya brangasan.

Pertanyaanya, apakah kita setuju Gerindra, PAN atau Demokrat bergabung dengan koalisi Jokowi?

Itu persoalan lain. Dalam sebuah sistem manajemen, pemerintahan akan lebih efektif jika seluruh anggotanya satu visi. Satu komando. Jika gak satu komando, resikonya adalah semua jalan sendiri-sendiri. Ini sangat berbahaya.

Apalagi periode ini adalah periode terakhir buat Jokowi. Inilah saatnya Presiden ngebut, meninggalkan legacy positif bagi Indonesia. Untuk prestasi maksimal dibutuhkan tim yang solid dan profesional. Disinilah Jokowi harus benar-benar memilah siapa saja pembantunya nanti. Jangan biarkan ikatan pada partai mengalahkan kewajibannya pada negara.

Periode kedua SBY bisa jadi pelajaran. Saat itu banyak anggota kabinet SBY yang akhirnya ngaco dan berakhir di penjara. Mungkin saja mereka berfikir inilah kesempatan terakhir untuk menikmati kemenangan. Jadinya ngeruk semua.

Rakyat sudah mempercayakan amanah kepada Jokowi-Amin. Mereka punya hak prerogatif mengatur komposisi kabinet. Dari manapun asalnya. Mau dari parpol maupun profesional. Mau dari koalisi 01 maupun 02. Asal jangan dari PKS.

Semua hiruk pikuk soal koalisi, anggap saja sebagai bagian dari keriuhan bernegara. Kita butuh suasana adem butuh suasana bersahabat.

Kalau orang FPI, HTI atau para kampret jadi-jadian masih ngotot mau ribut terus. Biarin aja. “Peribahasanya ya, mas. Biarkan khilafah menggonggong. Jokowi tetap berlalu. Santai aja,” celetuk Abu Kumkum. (ARN)

Iklan
  • Suami Iis Dahlia Pilot Garuda yang Angkut Harley Davidson Ari Askhara
  • Ilustrasi Jokowi pindahkan ibukota
  • Wahabi
  • Deklarasi dukung Jokowi di Jabar
  • Cuitan Habib Think
  • Menristekdikti

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: