News Ticker

Misi Korut di PBB: AS Terobsesi dengan Sanksi dan Tekanan terhadap Pyongyang

PBB Misi Korut di PBB: AS Terobsesi dengan Sanksi dan Tekanan terhadap Pyongyang

Arrahmahnews.com, NEW YORK – Misi Korea Utara untuk PBB mengatakan pada Hari Rabu (03/07) dalam sebuah pernyataan bahwa adalah “konyol” bagi Amerika Serikat untuk “terobsesi dengan sanksi dan kampanye tekanan” terhadap Pyongyang.

Menurut laporan Reuters, diplomat-diplomat Korea Utara itu menuduh Washington menjadi “semakin dan semakin tertarik pada tindakan bermusuhan” terhadap Pyongyang.

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Reuters, misi itu mengatakan mereka menanggapi tuduhan AS bahwa Pyongyang telah melanggar batas atas impor minyak olahan dan surat 29 Juni yang katanya dikirim ke semua negara anggota PBB oleh Amerika Serikat, Prancis, Jerman dan Inggris menyerukan agar semua pekerja Korea Utara di luar negeri dikirim pulang.

Baca: Analis: AS Takkan Pernah Normalisasi Hubungan dengan Korut

“Semua negara anggota PBB harus tetap waspada terhadap upaya yang disengaja oleh Amerika Serikat untuk merusak suasana damai yang telah diciptakan di Semenanjung Korea dengan cara yang tidak mudah”, kata pernyataan itu, sebagaimana dikutip oleh Reuters.

Pekan lalu, The New York Times melaporkan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan suatu pendekatan yang akan menghasilkan pembekuan nuklir di mana Amerika Serikat akan menerima status Korea Utara sebagai negara nuklir dengan imbalan Pyongyang setuju untuk tidak menambah jumlah senjata nuklirnya, sesuatu yang oleh pejabat pemerintah senior AS sering katakan tidak akan pernah mereka terima.

Baca: Korut: Perpanjangan Sanksi AS Manifestasi Tindakan Bermusuhan Paling Ekstrem

Pada hari Minggu, Trump secara singkat melangkahi garis demarkasi yang memisahkan Korea Utara dan Selatan atas undangan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menjadi presiden AS pertama yang melakukannya. Kedua pemimpin itu mengadakan pertemuan selama satu jam di dalam Freedom House di sisi Korea Selatan dari Zona Demiliterisasi.

Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Senin bahwa Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyambut baik pertemuan Trump dan Kim baru-baru ini dan dimulainya kembali dialog antara Washington dan Pyongyang.

Pembicaraan Kim dan Trump itu adalah pembicaraan ketiga setelah jeda yang panjang. Pada Juni 2018, kedua pemimpin menyatakan komitmen untuk denuklirisasi pada pertemuan bilateral penting di Singapura. Namun, putaran pembicaraan berikutnya, yang diadakan pada bulan Februari di Vietnam, berakhir dengan tiba-tiba tanpa persetujuan apapun. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: