NewsTicker

Ulama Iran: Inggris Seharusnya Belajar dari Drone AS yang Ditembak Jatuh

TEHRAN – Sebelumnya, kontingen dari Marinir Inggris yang bermarkas di Gibraltar menyita sebuah supertanker yang dilaporkan membawa minyak mentah Iran ke sebuah kilang minyak di Suriah. London mengklaim penyitaan itu bertujuan menegakkan sanksi UE terhadap Damaskus. Teheran mengecam langkah itu, dan menyebutnya “pembajakan.”

Ulama senior Iran Mohammad Ali Mousavi Jazayeri memperingatkan bahwa Inggris harus bersiap untuk menghadapi konsekuensi perebutan kapal tanker minyak Grace 1 di lepas pantai Gibraltar, pada hari Kamis.

“Saya secara terbuka mengatakan bahwa Inggris harus takut dengan tindakan pembalasan Iran atas penyitaan ilegal kapal tanker minyak Iran,” Jazyeri, anggota Majelis berpengaruh yang memiliki kekuatan untuk menunjuk dan memberhentikan pemimpin tertinggi, Kantor Berita Fars melaporkan.

“Kami telah menunjukkan bahwa kami tidak akan pernah tinggal diam terhadap penindasan … Saat kami memberikan tanggapan yang gigih terhadap pesawat tak berawak Amerika, tanggapan yang sesuai untuk penangkapan ilegal [dari kapal] ini akan diberikan oleh Iran,” ulama itu menambahkan, tanpa menawarkan rincian lebih lanjut.

Sebelumnya pada hari Sabtu, Teheran menolak laporan “palsu” tentang penyitaan tanker minyak Inggris di Teluk Persia di tengah laporan media bahwa supertanker berbendera Inggris, Pacific Voyage, telah berhenti di Teluk tanpa penjelasan.

Pada hari Jumat, Mohsen Rezaee, mantan perwira senior di Korps Pengawal Revolusi Islam, memperingatkan bahwa Iran dapat membalas dengan merebut kapal tanker minyak Inggris kecuali Grace 1 segera dibebaskan.

Kementerian luar negeri Iran memanggil duta besar Inggris pada hari Kamis atas kapal tanker yang disita. Sementara kantor Perdana Menteri Theresa May memuji tindakan Marinir dan mengatakan penyitaan adalah ‘pesan yang jelas’ bahwa London tidak akan mentolerir pelanggaran sanksi Uni Eropa terhadap Suriah.

Teheran menggambarkan insiden itu sebagai “pembajakan” dan menuduh London membeo “kebijakan bermusuhan AS.” Penasihat Keamanan Nasional Trump John Bolton memuji keputusan pihak berwenang Inggris, dan menyebutnya “berita bagus” serta mengatakan “Amerika dan sekutu kita akan terus mencegah rezim di Teheran dan Damaskus mengambil untung dari perdagangan [minyak] terlarang ini.” Moskow mengutuk insiden itu, dengan mengatakan itu “bertentangan” dengan komitmen negara-negara Uni Eropa untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran.

Mahkamah Agung Gibraltar memperpanjang penahanan kapal tanker selama dua minggu pada hari Jumat, mengutip sanksi Uni Eropa terhadap Suriah.

Pemerintah Spanyol mengeluarkan protes resmi atas penyitaan kapal tanker itu, dengan menyebutkan serbuan Inggris ke perairan teritorial Spanyol, karena tidak mengakui yurisdiksi Inggris atas perairan di sekitar Gibraltar.

Kapal Grace 1 adalah supertanker dengan daya angkut 300.000 ton. Menurut pejabat Inggris, awak kapal yang beranggotakan 28 orang termasuk warga negara India, Pakistan, dan Ukraina, yang tetap berada di atas kapal yang ditahan. [ARN]

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: