NewsTicker

Terlibat Penculikan dan Pemukulan, Saudari Putra Mahkota Saudi Diadili di Prancis

Hassa binti Salman Kriminal

Arrahmahnews.com, Paris – Puteri Arab Saudi, Hassa binti Salman diadili secara in absentia dengan tuduhan berkonspirasi untuk menculik dan memukuli seorang seniman kelahiran Mesir yang sedang melakukan pekerjaan perbaikan di kediaman mewah ayahnya di Paris pada tahun 2016.

Hassa, saudara perempuan Mohammed bin Salman, pewaris takhta Arab Saudi, dituduh bersekongkol untuk membuat pengawalnya memukuli pekerja Ashraf Eid, yang katanya mengambil foto kamar yang sedang didekorasi dan berencana untuk menjual foto-foto tersebut.

Baca: Tahanan Politik Dibebaskan dari Penjara Saudi dalam Keadaan di Kursi Roda

Menurut dakwaan, Eid kemudian mengatakan kepada polisi bahwa pengawal itu mengikat tangannya, meninju dan menendangnya, dan memaksanya untuk mencium kaki Hassa. Eid berkata bahwa, ketika ia dipukuli, Hassa mencemoohnya dan berkata, “Kamu akan melihat bagaimana harusnya kamu berbicara kepada seorang putri; bagaimana seharusnya kamu berbicara dengan keluarga kerajaan.”

Dalam sebuah pengakuan yang diberikan kepada majalah berita Le Point di Prancis, pekerja itu mengklaim bahwa wanita berusia 43 tahun itu berteriak, “Bunuh dia! Si Anjing! Ia tidak pantas hidup.”

Baca: Skandal Kerajaan Arab Saudi

Pada tanggal 1 Oktober 2016, pengawal tersebut ditempatkan di bawah penyelidikan resmi atas dugaan kekerasan bersenjata dan menahan seseorang di luar kehendaknya dan jaminannya ditolak.

Sebuah surat perintah penangkapan internasional juga dikeluarkan untuk Hassa pada bulan November 2017, dan persidangan diperkirakan akan dilanjutkan meski dengan ketidakhadirannya.

Baca: Saudi Tawarkan Uang Tunai kepada Para Pemimpin Suku Suriah

Persidangannya diperkirakan dimulai pada hari Selasa. Bagaimanapun, keluarga kerajaan Saudi telah menghadapi masalah hukum di Prancis sebelumnya.

Pada 2013, pengadilan di Prancis memerintahkan aset Prancis Putri Saudi Maha al-Sudairi, istri mantan Menteri Dalam Negeri Pangeran Nayef bin Abdul Aziz, untuk disita atas tagihan yang tidak dibayar di sebuah hotel mewah dengan total hampir 6,7 juta dolar. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: