News Ticker

Atwan: Boris Johnson Terpilih, Prospek Perang Teluk Meningkat?

  • Indomaret, Abdul Basith, Bom
  • Jokowi
  • Kamar Kos pelaku di Police line
  • Lebanon, Analis, Saad Hariri
  • Fachrul Razi, Menag, Provokator
  • Houthi dan Utusan PBB
Boris Johnson Inggris

Arrahmahnews.com, London – Apakah prospek perang Teluk meningkat setelah terpilihnya Johnson sebagai perdana menteri Inggris, yang rasis terhadap Muslim dan imigran sebagaimana kembarannya Trump? Bagaimana ia akan menghadapi krisis penahanan kapal tanker? Apa yang dikatakan seorang menteri luar negeri Arab tentang kepribadiannya?

Tidak ada keraguan lagi bahwa Presiden AS Donald Trump sangat bahagia dengan terpilihnya Boris Johnson, pelajar yang setia dan memiliki banyak kesamaan dengannya.

Trump adalah ketua tim sukses kampanye Boris Johnson yang tidak disebutkan namanya, karena keduanya dipersatukan atas dasar kebencian terhadap imigran, permusuhan terhadap Islam dan Muslim. Selama kunjungannya ke London, Presiden AS menyatakan dukungannya ketika berharap Johnson terpilih sebagai perdana menteri, sebagai yang paling efisien dan mungkin rasis.

BacaAtwan: AS dan Sekutunya Bodoh Jika Terus Dorong Iran ke Jurang Perang.

Johnson mengklaim bahwa silsilahnya sampai Turki. Tapi di sisi lain, ia pernah menyerang Muslim, dan menyerang wanita berkerudung dengan cara yang tidak pantas, menggambarkan mereka sebagai perampok bank, dan kotak surat. Lebih jauh dari itu, dalam sebuah pengantar bukunya, ia mengatakan bahwa Islam adalah penyebab keterbelakangan umat Islam dan negara-negara muslim selama berabad-abad. Tidak hanya itu, ia juga menyerang mantan Presiden AS Barack Obama karena keturunan Afrika dan Islam, serta menambahkan bahwa setiap teror di dunia ada hubungannya dengan Islam, mulai dari Bosnia, Irak, Palestina hingga Kashmir.

Mungkin terlalu dini untuk berbicara tentang posisi Johnson di banyak krisis saat ini, terutama krisis penahanan kapal tanker antara negaranya dan Iran, serta proposal yang diajukan oleh Jean-Yves Le Drian, Menteri Luar Negeri Prancis, untuk membentuk aliansi tripartit Prancis-Inggris-Jerman yang dipimpin oleh Uni Eropa untuk melindungi kebebasan navigasi di Teluk.

Tetapi bagaimana mungkin dapat berdiri kokoh di parit aliansi yang sama dengan yang ingin dibangun oleh Trump. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah setuju untuk bergabung dengannya, bahkan menanggung biayanya. Johnson seperti gurunya Trump, tidak memiliki kepercayaan pada Uni Eropa, dimana ia pernah memimpin kampanye Brexit untuk mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa.

BacaAtwan: Keamanan Energi Global Terancam oleh AS bukan Iran.

Mohammad Javad Zarif, menteri luar negeri Iran, dengan cepat mengucapkan selamat kepada mantan rekannya Johnson. Zarif merasakan bahaya yang bisa datang dari posisi barunya, sebagai perdana menteri. Karena itu, dia menekankan bahwa “Iran tidak mencari konfrontasi. Tapi kami memiliki 1.500 mil dari garis pantai Teluk Persia. Ini adalah perairan kami dan kami akan melindunginya.”

Masa jabatan Johnson mungkin tidak berlangsung lama sebagai perdana menteri karena besarnya oposisi yang dihadapinya, baik di dalam partainya sendiri maupun di parlemen. Kemudian diikuti dengan keinginan 15 menteri yang akan mengundurkan diri. Uni Eropa bahkan menolak untuk melakukan negosiasi baru tentang brexit. Karena untuk keluar dari krisis ekonomi dan politik saat ini hanya dapat dicapai dengan referendum baru atau pemilihan parlemen. Johnson kemungkinan akan menjadi pecundang terbesar dalam dua kasus, meskipun masa jabatannya singkat, itu sudah cukup, karena kedekatannya dengan Trump, penasihat keamanan nasional AS John Bolton, dan yang ketiga Benjamin Netanyahu, dengan meningkatkan ketegangan di Teluk, Timur Tengah, dan mungkin memicu perang. Seperti yang digambarkan oleh menteri luar negeri Arab, Johnson hampir tidak mengetahui realitas di Timur Tengah dan kerumitannya. Ia mungkin saja meradikalisasi posisinya hingga batas tertinggi karena keputusannya akan mempersempit dirinya sendiri.

Kita akan melihat peningkatan perang kapal tanker dalam beberapa hari dan minggu ke depan. Kita menghadapi koalisi sayap kanan AS-Inggris yang memusuhi Islam dan Muslim. Tetapi ini tidak berarti bahwa mereka akan muncul sebagai pemenang di bawah tren “kemartiran” Iran yang didukung oleh sistem misil dan laut yang besar. Seperti yang dikatakan oleh Jenderal Ali Shamkhani, Menteri Pertahanan, “di samping senjata, ada gerakan perlawanan yang efektif, yang tidak memiliki status resmi, seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas dan Jihad Islam di Gaza, Houthi di Yaman, Hashd Shaabi di Irak, dan yang lebih penting adalah adanya kekuatan dan tekad baja untuk membuat keputusan dalam menanggapi setiap agresi di Teluk atau wilayah Palestina yang diduduki. [ARN]

Iklan
  • Suami Istri
  • Denny Siregar: Perlukah Kita Percaya Survei Litbang Kompas?
  • Cuitan Hinaan Lisa Marlina

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: