News Ticker

Dahono Prasetyo Tuntut Transparasi Lembaga Donasi

Donasi Donasi Kemanusiaan

Arrahmahnews.com, Jakarta – Setelah sempat viral tulisan “Bukalapak, Bukalah Topengmu” yang ditulis oleh Dahono Prasetyo, hingga menggemparkan jagat maya, hal itu karena banyaknya lembaga donasi yang kurang transparan laporannya.

Berikut tulisan terbaru Dahono Prasetyo menjelaskan kepada rakyat agar berhati-hati menyumbang, berikut ulasannya:

Baca: Dina Sulaeman: Tentang Bukalapak dan ACT ‘Pro Pemberontak Suriah’

Mengapa tulisan tentang aliran dana donasi mendadak viral beberapa hari belakangan ini? Barangkali sudah menjadi kegelisahan umum tentang sumbangan yang tidak seberapa namun seolah “merengek” di sela proses transaksi belanja kita. Online shop yang menjamur dan menjadi gaya hidup baru, menyimpan potensi “uang panas” dalam akumulasi digital. 100 rupiah berkali 100 ribu transaksi secara otomatis bertambahsecepat kilat tanpa repot

Kecerdikan lembaga donasi melihat potensi uang receh disela uang besar di kegilaan kita belanja digital menjelma menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Beberapa tahun lalu sebelum ada fitur belanja online, lembaga donasi lumayan dibikin sibuk dalam hal pengumpulan dana. Berkeliling dari pintu ke pintu, kantor ke kantor hingga berkolaborasi pada sebuah acara, jelas sebuah pekerjaan yang melelahkan. Kini hanya dengan menitip form khusus dalam proses transaksi elektronik, tinggal duduk manis menghitung akumulasinya 24 jam dalam 7 hari.

Baca: Sekjen Alsyami Komentari Perselingkuhan ‘Bukalapak dan ACT’ Soal Donasi Suriah

Urusan sumbangan pada akhirnya bukan tentang ikhlas atau tidak. Tetapi akan bermuara kemana, seringkali menjadi pertanyaan yang susah terjawab.

Sementara manajemen lembaga donasi berdalih nirlaba tak juga punya kesadaran transparansinya. Entah belum ada peraturan yang mewajibkannya atau memang urusan amal, baik buruknya biarlah Tuhan yang menilai.

Sempat beredar info bagaimana seorang pegawai marketing biasa di salah satu lembaga penyalur donasi, dalam setahun bisa berganti mobil 3 kali. Uang receh bergulir dengan cepat tanpa kontrol karena sebagian kita yang tidak peduli bahwa ada celah kecurangan yang terorganisir dengan rapi. Kekhawatiran menemukan alasan saat publik berusaha mencari tahu sendiri, tentang apa yang sebenarnya mereka lakukan dibelakang aksi kemanusiaan.

Baca: Netizen: ACT dan Dompet Dhuafa Bela Perusuh?

Fenomena lembaga donasi yang sempat viral semoga menjadi pintu masuk untuk menertibkan praktik-praktik pengumpulan dana masyarakat. Bukan sepenuhnya salah puluhan marketplace yang berkolaborasi dengan lembaga donasi. Tetapi lembaga donasi yang kini cenderung menjadi lembaga bisnis terpadu dengan mengatasnamakan kemanusiaan, tetaplah sebuah kejahatan ekonomi paling sopan yang pernah ada.

Dan suatu saat jika prasangka ini terbukti publik kembali tergagap, mirip kepanikan saat Biro Umroh First Travel dan Abu Tour yang diyakini tanpa dosa tiba tiba berisi kebohongan yang terstruktur, sistemik dan masif. Semoga paham. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: