News Ticker

Dina Sulaeman: Disinformasi Jahat Detik Beritakan Perang Suriah

Perang Suriah dan Bashar Assad Perang Suriah

Arrahmahnews.com, Jakarta – Pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman dalam akun facebooknya membuat sebuah analisa berita yang dimuat pada tanggal 26-07-2019 di detik.com dengan judul “Serangan Udara Rezim-Rusia Tewaskan 12 Orang di Suriah”.

Dina Sulaeman: Bagaimana Detik.com memberitakan Idlib. Isi berita saya copas utuh, catatan dari saya ada di dalam.

Baca: Dubes Indonesia untuk Suriah Ungkap Fakta Perang Suriah dan Bashar Assad

Menurut Detik:

“Serangan udara yang disebut dilakukan pihak rezim bersama sekutunya, Rusia, menewaskan 12 orang di barat laut Suriah. Korban tewas ini terdiri dari warga sipil dan tiga orang anak.

Dilansir AFP, Jumat (26/7/2019), rezim Suriah dan Rusia telah meningkatkan serangan sejak akhir April. Serangan ini dilakukan di wilayah Idlib, di mana wilayah ini memiliki penduduk sebanyak 3 juta orang.

Pengeboman yang dilakukan, disebut telah meruntuhkan pusat kesehatan dan sekolah. Hal ini juga mengakibatkan lebih dari 330.000 orang meningalkan rumah masing-masing. Kelompok-kelompok yang memberikan bantuan mengecam kejadian yang telah membunuh dengan sebagian korbannya merupakan anak-anak. Save the Children mengatakan jumlah anak-anak yang terbunuh selama empat minggu terakhir, telah melebihi jumlah korban anak-anak yang tewas sepanjang tahun lalu.

Baca: Fakta-fakta Perang Suriah yang Tak Terbantahkan

“Situasi saat ini di Idlib adalah mimpi buruk,” kata badan amal Sonia Khush.

“Sudah jelas bahwa sekali lagi anak-anak telah terbunuh dan terluka dalam serangan tanpa pandang bulu,” tuturnya”.

Analisa Dina Sulaeman:

“Perhatikan, di paragraf-paragraf awal ini, Detik tidak jujur menuliskan bahwa sebenarnya yang terjadi adalah upaya mengusir teroris. Detik memframing bahwa ini adalah serangan tanpa pandang bulu, tanpa belas kasihan dari tentara nasional Suriah, yang oleh Detik diberi konotasi negatif dengan memakai kata ‘rezim’. Ingat, siapa di Indonesia yang juga hobi pakai frasa ‘rezim zalim’?.

Menurut Detik:

Sebenarnya, sudah ada kesepakatan pada September 2018 antara Moskow dan Ankara yang isinya seharusnya melindungi wilayah di Suriah yang kini jadi lokasi serangan udara. Namun, kesepakatan itu tidak pernah sepenuhnya dilaksanakan karena para pemberontak menolak menarik diri dari zona penyangga yang direncanakan. Pada Januari, Hayat Tahrir al-Sham, kelompok yang dipimpin oleh mantan afiliasi Al-Qaeda Suriah, mengambil alih kendali administratif di wilayah itu. Di luar benteng, pemberontakan dan tembakan roket juga telah menewaskan orang-orang dalam jumlah yang lebih rendah.

Baca: 10 Fakta Suriah Yang Tak Terbantahkan

Sejak akhir April, tembakan roket pembalasan telah menewaskan sekitar 70 warga sipil di wilayah yang dikuasai pemerintah.Perang Suriah disebut telah menewaskan lebih dari 370.000 orang dan jutaan orang terlantar sejak 2011.

Analisa Dina Sulaeman:

Di paragraf ini barulah Detik memberikan data dengan agak benar: serangan dilakukan karena ‘pemberontak’ menolak mundur dari Idlib. Detik menyebut nama Hayat Tahrir al-Sham (HTS) dan tapi menyebutnya “mantan afiliasi”; menyebut serangan HTS sebagai “pembalasan”. Ini disinformasi jahat.

Baca: #JanganSuriahkanIndonesia

Faktanya, HTS adalah Al Qaida, bukan “mantan”. HTS adalah teroris, bukan pemberontak. Awalnya HTS bernama Jabhah Al Nusra, Hizbut Tahrir pernah bersumpah setia kepadanya.

Mereka berkumpul di Idlib (bersama anak-istri mereka) setelah terusir dari wilayah-wilayah Suriah lainnya. Sebagian warga asli Suriah, sebagian warga asing. Mereka memang bukan ISIS, tapi sama-sama teroris. Setiap hari kirim roket dan bom ke wilayah yang dikontrol pemerintah, banyak yang tewas. Warga asli Idlib, terutama yang beragama non-Muslim, dibantai dengan sadis.

Baca: Catatan! Mirip di Indonesia, Teroris Gunakan ‘Agama’ untuk Hancurkan Suriah

Idlib itu provinsi yang berbatasan darat dengan Turki. Disana bercokol puluhan-ratusan kelompok teroris dari berbagai nama, yang paling sadis HTS ini. Mereka menjadikan anak-istri mereka, dan juga warga asli Idlib sebagai tameng. Menurut kalian, seandainya, ada gerombolan teroris seperti ini bercokol di Kalimantan Utara misalnya -berbatasan darat dengan Sarawak Malaysia- TNI harus bagaimana? Diam saja?

Trus kalau ada lembaga donasi dari Sarawak rame-rame ngumpulin dana untuk “warga sipil serangan rezim” yang ngumpul di Kalimantan Utara itu, apa pendapat kalian? Dalam kasus Idlib, siapa warga sipil yang dimaksud? Warga sipil asli Idlib yang dibantai HTS, atau anak-istrinya HTS?. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: