NewsTicker

Kedok Kemanusiaan Cara Jitu Hancurkan Sebuah Negara, Benarkah?

#JanganSuriahkanIndonesia

IHH Kemanusiaan

Arrahmahnews.com, Jakarta – Suriah sebuah negara yang Indah dan penuh toleransi tiba-tiba hancur, itu semua dikarenakan oleh teroris yang ingin mendirikan negara Khilafah disana, lantas muncul sebuah pertanyaan darimana mereka “Daesh/ISIS” mendapatkan logistik?

Ternyata mereka mendapatkan logistik salah satunya dari lembaga kemanusiaan yang berafiliasi dengan teroris, memang susah sekali untuk menelusuri kedok mereka ini, tapi yang namanya bangkai pasti akan tercium juga, ada beberapa lembaga donasi yang membantu mereka, baca Melacak Alirdan Dana untuk Suriah dari 10 Lembaga Amal Indonesia

Lantas apa korelasi lembaga donasi dengan kestabilan negara? Seperti kita ketahui bersama lembaga donasi kemanusiaan ini bergerak di bidang kemanusiaan yang membantu orang lain, namun dibalik itu semua tidak seluruh dananya untuk kesejahteraan rakyat dan yang lebih berbahaya mereka gunakan untuk membiayai kepentingannya.

Baca: Bongkar Kedok ‘White Helmet’ Teroris Berwajah Relawan Pembantai Warga Suriah

Matematikanya barangkali begini: Taruh kata total saldo mereka 10 ribu. Untuk biaya operasional 20%, biaya “promosi dan pencitraan 30%, biaya struktural 10%, Pajak 10%, serta cadangan kas 10%. Jadi hanya menyisakan 20% yang benar-benar disumbangkan mengalir kembali ke masyarakat.

Jadi jangan buru buru takjub dengan laporan sumbangan di lokasi yang bernilai 5 Milyar, karena itu hanya 20% nya saja dari total dana kita yang dikumpulkannya.

Baca: Lembaga Dokter Swedia Diancam Pasca Ungkap Kebusukan White Helmets

Suriah hancur salah satunya adalah karena banyaknya lembaga donasi berkedok kemanusiaan membantu teroris di Suriah dengan dalih membantu rakyat Suriah, hal itu diperkuat oleh ulama Suriah yang mengatakan untuk meneliti kembali lembaga donasi dari Indonesia yang mengaku akan menyalurkan dana ke Suriah. “Donasi kepada lembaga yang tidak kredibel hanya akan membahayakan rakyat Suriah,” kata Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf yang juga rektor Universitas Negeri Syam dalam lawatannya ke kantor pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Jum’at (09/03/2018).

Baca: Rekam Jejak Kejahatan IHH dan IHR Bantu Teroris Suriah

Kedok Kemanusiaan Cara Jitu Hancurkan Sebuah Negara, Benarkah?

Ibarat mesin, gerakan “pemberontakan” pada sebuah sistem, butuh pelumas dan bahan bakar sebagai sarana. Kecanggihan mesin tidak berfungsi apapun tanpa pelumas dan bahan bakar. Pelumas dan bahan bakar adalah dukungan dana. Sejumlah uang untuk membeli apapun agar bekerja sesuai fungsinya.

Baca: Dina Sulaeman: Waspadai Bisnis Penggulingan ‘Rezim’

Dalam dunia konspirasi perseteruan, salah satu kunci melemahkan sebuah gerakan adalah dengan menelisik sumber pendanaannya. Lalu membongkar satu persatu saluran aliran dana, selanjutnya menutupnya tanpa syarat apapun. Tak perlu repot menghancurkan gerakan berikut aksi gerilya perlawanan tersebut, karena saat tak ada supply bahan bakar, otomatis kelompok, gerakan, organisasi serupa mesin tak akan bisa berfungsi.

Analogi di ataslah yang menjadi tantangan di negeri kita NKRI. Selama aliran dana tidak dibendung, apalah artinya surat pembubaran organisasi terlarang, berisik teriakan usir khilafah, HTI minggat, lawan Wahabi atau sumpah serapah di media.

Baca: Adakah Hubungan Intim ‘Antara Bukalapak dengan ACT, HTI, Suriah dan Bachtiar Nasir’?

Dukungan dana yang beradaptasi secara online semakin menggelembung. Partisipasi publik yang “salah alamat” menjadi sumbangsih terbesar.

Dan hal ironis terjadi di depan mata. Mereka bisa “membeli” ASN, petinggi BUMN, membiayai penyusup ke kampus, PAUD dan emak emak yang mendadak fanatik mengejar tiket surga.

Sementara dana untuk membangun “pencitraan” teralokasi tanpa batas demi membangun fantasi kebaikan selebar baleho spanduk di atas trotoar. Sebegitu masifnya gerakan mereka, hingga kita tak sadar ikut membiayai upaya penghancuran negara.

Baca: Dina Sulaeman: Tentang Bukalapak dan ACT ‘Pro Pemberontak Suriah’

Silahkan menikmati kekhawatiran tanpa berbuat apapun untuk menghentikannya. Karena kita yang sudah ciut nyali sejak dalam pikiran, atau mereka yang sudah membabi buta menguasai logika kita. Atau menunggu seperti Suriah, baru kita sadar?!. (ARN)

Penulis: Abu Nawas

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: