News Ticker

Dirazia Brigade Muslim Indonesia, Buku Romo Magnis Justru Kritik Marxisme

Brigade Muslim Indonesia (BMI) Razia BMI

Arrahmahnews.com, Jakarta – Beberapa orang sebagian berjenggot dan berbadan tegap yang menyatakan sebagai Brigade Muslim Indonesia (BMI) mensweping dan menyita puluhan buku berbau paham Marxisme di salah satu toko buku yang ada di toko Gramedia Trans Studio Mal Makassar. Gerombolan itu juga turut merazia buku-buku karya Romo Franz Magnis Suseno. Padahal, buku tersebut isinya justru mengkritik paham Marxisme.

Tak sepantasnya mereka melakukan hal itu karena bukan ranah mereka untuk melakukan penyitaan. Salah satu yang disita ialah buku berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme karya Franz Magnis Suseno.

Baca: WOW! BMI Sita Buku-buku Karl Max di Gramedia Trans Studio Mal Makassar

“Buku-bukunya Franz Magnis kalau tidak salah yang salah satunya mereka sita,” kata GM Corporate Communication Gramedia, Saiful Bahri, kepada detikcom, Senin (5/8/2019). “Kalau tidak salah kan ini kan buku ilmiah,” sambungnya.

Pada sebuah video yang didapatkan detikcom, Minggu (4/8/) kemarin, ada empat orang pemuda yang melakukan razia, dan yang memegang setumpuk buku salah satunya bercover muka dari Karl Marx.

Seorang pemuda yang berada di sebelah kanan yang mengaku sebagai jubir mengatakan pihaknya meminta Gramedia mengembalikan buku-buku itu ke percetakan karena melanggar undang-undang.

Baca: Wahabi, HTI dan Kelompok Radikal Kompak Hancurkan Pancasila dan NU

“Sedang melakukan pencarian buku-buku berpaham radikal yang sebenarnya telah dilarang undang-undang,” kata pria tersebut.

Lalu, apa sebetulnya isi buku karya Franz Magnis Suseno tersebut?

Dalam kata pengantarnya dalam buku tersebut, pria yang akrab disapa Romo Magnis ini menjelaskan alasan mengapa pemikiran Karl Marx mesti diperkenalkan ke khalayak Indonesia. Menurutnya, pemikiran yang kerap disebut sebagai Marxisme itu memiliki pengaruh pada pemikiran abad ke-19. Namun menurutnya, Marxisme tidak cocok diterapkan di zaman ini karena menolak demokrasi dan pluralisme.

“Marxisme tidak lebih dari ideologi perjuangan buruh industri akhir abad ke 19, dia sekarang tidak akan lebih menarik perhatian daripada pemikiran Michail Bakunin dan Robert Owen,” tulis Romo Magnis.

Romo Magnis bahkan mengibaratkan Marxisme seperti fosil dan benda-benda museum. Kendati demikian, dia kecewa jika mempelajari Marxisme disamakan dengan upaya untuk menyebarkan pahamnya. Menurutnya, Marxisme tetap harus dipelajari dengan pandangan kritis dan ilmiah.

Baca: 15 Kesamaan Antara PKS dengan PKI

Selain itu, dalam bukunya dia juga menyetujui pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). Dia bahkan mengulas, banyak negara-negara komunis yang gagal menjalankan ekonominya karena konsep Marxisme sudah usang seperti fosil zaman Jurrasic.

Untuk diketahui, di Indonesia ada aturan yang melarang penyebaran paham Marxisme. Salah satu aturan tersebut tercantum dalam Tap MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia, pernyataan PKI sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah negara Republik Indonesia, dan larangan menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran komunisme/marxisme-leninisme. Begini bunyinya:

  1. Bahwa faham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme pada hakekatnya bertentangan dengan Pancasila;
  2. Bahwa orang-orang dan golongan-golongan di Indonesia yang mengenal faham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme, khususnya Partai Komunis Indonesia, dalam sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia telah nyata-nyata terbukti beberapa kali berusaha merobohkan kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia yang sah dengan cara kekerasan.
  3. Bahwa berhubung dengan itu, perlu mengambil tindakan tegas terhadap Partai Komunis Indonesia dan terhadap kegiatan-kegiatan yang menyebabkan atau mengembangkan faham atau ajaran komunisme/Marxisme-Leninisme. (ARN)
Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: