News Ticker

Abu Nawas: Aksi Sweeping Buku di Makasar Brigade Muslim Indonesia Tindakan Intoleran

Aksi Sweeping Brigade Muslim Indonesia Aksi Sweeping Brigade Muslim Indonesia

Arrahmahnews.com, Jakarta – Penyitaan buku, apapun judul dan isinya secara sepihak, tetaplah sebuah bibit anarkis yang berdampak pada kebebasan publik. Brigade Muslim Indonesia (BMI) sebagai ormas berbasis agama, butuh aktualisasi diri yang celakanya memilih cara represif. Apakah tindakan tersebut serta merta bisa menghapus “dugaan” ajaran Komunis masuk ke Indonesia? Tentu tidak. Karena momentum aksi di satu tempat yang diumumkan secara luas tetaplah sebuah “unjuk kekuatan” jika tidak ingin disebut “gertakan”.

Baca: WOW! BMI Sita Buku-buku Karl Max di Gramedia Trans Studio Mal Makassar

Publikpun akhirnya mengenal BMI sebagai gerakan penolak komunis “garis keras” yang cenderung menakut nakuti tentang bahayanya sebuah buku. Di sisi lain, buku yang disita punya nilai publisitas tinggi. Orang lantas penasaran dengan isi buku. Tidak ada di Makasar, di daerah lain yang belum disita masih ada. Atau di lapak kios buku pinggir jalan, atau di toko online.

Bahaya laten komunis yang dikhawatirkan tidak cukup dilawan dengan melarang sebuah buku. Kebangkitan komunis disalah artikan berpotensi meniadakan agama Islam. Maka perlawanan dengan mengatas namakan kelompok agama berdampak pada kaidah sosial sesama warga negara.

Baca: Dirazia Brigade Muslim Indonesia, Buku Romo Magnis Justru Kritik Marxisme

Buku tetaplah sebuah bahan bacaan. Kegelisahan seseorang tidak lantas terjawab hanya dengan membaca buku. Bagaimana seorang politikus juga butuh membaca buku aneka aliran. Ahli hukum, agama, ekonomi, sejarah untuk bisa disebut ahli karena aneka referensi bacaan yang disantapnya.

Artinya pembaca buku tentang komunis tidak bisa langsung divonis sebagai seorang komunis. Sama halnya para teroris yang tertangkap senantiasa ditemukan buku-buku jihad dalam bacaannya. Dan kita tidak lantas menyalahkan buku tentang jihad juga kan?

Tulisan ini barangkali agak terlambat beberapa hari. Namun setidaknya belum terlambat untuk melawan intoleransi dengan akal sehat. Semoga paham. (ARN)

Penulis: Abu Nawas

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: