News Ticker

PPATK: Pola Baru, Teroris Dapat Dana dari Bisnis Legal dan Donasi

PPATK PPATK

Arrahmahnews.com, Jakarta – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan perubahan pola pengumpulan dana oleh para teroris. Sebelumnya dana dikumpulkan dari kekerasan berupa perampokan dan perampasan. Kini, berubah dengan mengumpulkan dana dari perorangan maupun lembaga masyarakat.

Dana diperoleh dari bisnis herbal, jual beli pulsa, dan servis elektronik. “Dulu mereka melakukan fa’i. Sekarang dana dikumpulkan dari bisnis legal,” kata Kepala PPATK, Ki Agus Ahmad Badaruddin, Rabu, 7 Agustus 2019 dalam diskusi yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang.

Baca: WOW, PPATK Temukan Pemuka Agama Banyak Melakukan Transaksi Mencurigakan

Selain itu, Ki Agus mengatakan penggalangan dana juga berasal dari donasi melalui media sosial. Dana tersebut dikumpulkan dengan dalih untuk kegiatan kemanusiaan. Namun, setelah ditelusuri diketahui dana digalang untuk melakukan aksi terorisme.

Ki Agus berpesan agar masyarakat berhati-hati dalam menyumbang dana sosial. Masyarakat diminta mengecek pengurus lembaga filantropi serta penyaluran dana. Agar dana tersebut tak disalahgunakan untuk kepentingan terorisme.

“Pola ini berubah sejak 2015 lalu,” kata Ki Agus. PPATK mengumumkan sebanyak 90-an lembaga dan individu dalam daftar terduga teroris dan organisasi teroris. Nilai transaksinya mencapai belasan miliar.

Untuk itu, PPATK memantau dan menelusuri rekening yang dicurigai digunakan aksi terorisme. Hasilnya disampaikan melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Baca: Sekjen Alsyami Komentari Perselingkuhan ‘Bukalapak dan ACT’ Soal Donasi Suriah

Sebelumnya juga jagat medsos dihebohkan oleh Akun Facebook Dahono Prasetyo membongkar apakah benar ada hubungan intim “Antara Bukalapak dengan ACTHTISuriah dan Bachtiar Nasir“, seperti kita ketahui bersama bahwa ACT ini adalah salah satu organisasi kemanusiaan yang saat ini masih misterius donasinya disalurkan kemana saja.

Menurut Dahono, bagi penggila belanja online, nama Bukalapak sebagai icon marketplace lokal sedikit banyak menyimpan beberapa “fenomena politik”. Bagaimana sebuah situs online beromset trilyunan rupiah menjadi salah satu sisi gelap konspirasi ideologi di Indonesia.

Kronologisnya barangkali bisa disimak: Silahkan buka situs bukalapak, kemudian “pura-pura” lakukan pembelian maka munculah format pembayaran yang harus dilakukan. Pada salah satu pilihan tertera “Donasi Rp 500 melalui Lembaga ACT“. Jika kita menyetujui, maka total angka yang harus dibayarkan bertambah Rp 500.

Baca: Ulama Suriah ke MUI, Suriah Hancur Karena Hoaks & Donasi ke Lembaga Tak Kredibel

Apakah ACT itu? ACT (Aksi Cepat Tanggap) adalah sebuah lembaga pengumpul Donasi kemanusiaan. Untuk lebih jauh menelusuri ACT Silahkan Googling dengan kata kunci: “ACT dan ISIS” maka akan muncul beberapa link berita yang mengupas keterkaitan lembaga donasi itu dengan ISIS dan Suriah.

Di salah satu portal berita: Melacak Aliran Dana untuk Suriah dari 10 Lembaga Amal Indonesia Meskipun bukan portal berita mainstream, tetapi liputanislamcom cukup akurat memberitakan tentang dana sumbangan kemanusiaan. Salah satu fakta menunjukkan ada foto sumbangan dari Indonesia berlabel IHR (Indonesia Humanitarian Relief) berada di kota Allepo ditengah markas pemberontak ISIS. IHR adalah proyek kemanusiaan yang menjadi sayap kanan dari ACT.

Berlanjut menelisik browsing dengan kata kunci IHR, maka kita akan menemukan beberapa berita keterkaitan IHRACT dan Bachtiar Nasir. Sosok yang satu itu pernah menjadi tersangka penyalahgunaan penyaluran dana kemanusiaan. Beliau salah satu aktivis HTI yang paling aktif menggalang sekaligus menyalurkan dukungan. Bagi yang masih meragukan silahkan Googling dengan keyword “Bachtiar Nasir dan HTI”.

Baca: Kupas Tuntas Donasi untuk Teroris

Singkat kata, adakah “hubungan intim” antara Bukalapak dengan ACT, HTISuriah dan Bachtiar Nasir, silahkan menganalisa sendiri. Yang bisa digaris bawahi adalah bukan tentang 500 perak sumbangan donasi tanpa paksaan itu, atau Bukalapak yang sudah meminta maaf pada Pakdhe gegara postingan “nyinyir” berujung uninstalbukalapak.

Tetapi siapa berafiliasi dengan siapa patut menjadi pertimbangan saat kita belanja di Bukalapak, ada sepeser uang kita yang mengalir tanpa sadar mendukung perjuangan “pemberontakan” atas nama kemanusiaan.

Satu catatan penting mengapa HTI dan Khilafahnya tak kunjung redup meski pemerintah sudah membubarkannya. Bukalapak, Bukalah Topengmu. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: