News Ticker

Analis! Selat Hormuz: Pertaruhan Status Raya Inggris dan Kedaulatan Iran

Kekuatan Militer Iran Vs Inggris Kekuatan Militer Iran Vs Inggris

Arrahmahnews.com, Jakarta – Konflik di Selat Hormuz antara Inggris dan Iran  semakin memanas. Sebuah analisa menarik yang ditulis Ammar Fauzi, Ph.D tentang Selat Hormuz adalah pertaruhan Status Raya Inggris dan Kedaulatan Iran.

Menurutnya, tidak ada asap kalau tidak ada api. Baru lepas dua pekan saja, Iran membuktikan untuk kesekian kali peringatannya terhadap negara kuat dunia. Kali ini Inggris. Teheran tidak sedang berbalas pantun atau gertak sambal untuk kepentingan negaranya dengan siapa pun. Ini terkait tindakan angkatan laut Inggris mencekal kapal supertanker Iran, Grace I (04/07/19), di selat Gibraltar.

Baca: Teheran: Keamanan Selat Hormuz Garis Merah Iran

Hanya dalam hitungan hari, aksi Iran itu dilakukan komando pasukan khusus angkatan laut (SNSF) Sepah Pasdaran yang juga dituntut Inggris untuk diatur dalam nota kesepakatan nuklir (JCPOA) yang terlanjur ditandatangani.

Aksi Negeri Mullah mencekal balik kapal tanker berbendera Inggris, Stena Impero (19/07/19), di selat paling strategis itu amat menyita konsentrasi siapapun yang Selasa ini terpilih sebagai perdana menteri yang ditantang publik Inggris dan Uni Eropa menuntaskan kebijakan Brexit, belum lagi resesi yang siap menghadang sejak krisis keuangan.

Candidat terkuat, Boris Johnson, akan segera diuji sejak hari pertama kemenangannya oleh “krisis besar internasional” menyusul tindakan Iran tersebut. Sambil mengunggah video proses penangkapan tanker oleh pasukan Iran, The Guardian (21/07/19) memperingatkan Johnson dalam tajuk “fokus on Iran crisis or risk war”. Opsi pertama itulah yang satu hari sebelumnya sudah ditempuh penantang terkuatnya, Jeremy Hunt.

Baca: Takut Ditangkap Iran, Inggris Kawal Tanker Minyak Kerajaan di Selat Hormuz

Pencekalan tanker di selat Hormuz cukup kuat bagi Teheran memahamkan pesan politiknya, terutama, kepada Inggris, AS dan sekutu-sekutunya di kawasan serta negara-negara perunding nuklir (4+1) bahwa respon presiden Iran Juli tahun lalu bukan sekadar retorika diplomasi. Dalam menanggapi politik AS memboikot ekspor minyak Iran sampai ke titik nol, Rauhani menyatakan jika minyak iran tidak bisa mengekspor, tidak akan ada minyak yang lolos keluar dari Teluk Persia.

Pesan yang lebih krusial lagi, momentum pencekalan ini datang setelah Sepah Pasdaran tepat satu bulan sebelumnya (20/06/19) di selat yang sama berhasil menembak jatuh drone mata-mata antiradar AS, RQ-4A Global Hawk, di wilayah kedaulatan udara Iran, menunjukkan Negeri Mullah ini, setelah kekuatan daratnya terlibat di Suriah dan Irak melawan ISIS buatan AS, tampak digjaya di udara juga di laut.

Laksana tupai, sepandai-pandainya melompat, Inggris “di awal-awal” malah sudah jatuh. Sejak pencekalan itu, Inggris sudah waspada terhadap hilir mudik kapal-kapalnya di Hormuz.

Ketidakpandaian Inggris harus dibaca sebagai kebodohan negara sekutu abadi AS itu mengingat teknologi militer dan informasi sebacanggih mereka yang jatuh di bawah peringatan aksi serupa dari pihak Iran, negara yang teknologi militernya justru tidak secanggih Inggris. Tidak berlebihan bila mantan menteri urusan Timur Tengah, Alister Burt, mendesak agar PM Inggris nanti juga pakar tentang Iran.

Baca: IRGC Tangkap Kapal Tanker Minyak Inggris di Selat Hormuz

Sebagai langkah hukum, Inggris sudah mengadukan kasus tersebut ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK-PBB). Pengaduan ini sekaligus juga peluang bagi Iran untuk bisa mengklarifikasi posisi hukumnya sebagai pencekal di Hormuz dan tercekal di Gibraltar di hadapan sidang DK-PPB setelah sebelumnya “dicekal” dari menghadari sidang darurat Dewan untuk kasus yang diadukannya sendiri terkait pelanggaran drone AS Juni lalu.

Posisi hukum Iran di tingkat internasional tampak kuat bagi sejumlah negara untuk meningkatkan kewapadaan mereka mematuhi hukum internasional di selat Hormuz. Setidaknya, Tel Aviv mereaksi konstelasi Teluk Persia dengan meningkatkan sistem pengamanan semua rute kapal-kapal militer dan niaga yang menuju Israel.

Namun, secara praktis, pencekalan tanker oleh Iran itu nyatanya telah mengendurkan sikap Inggris yang kini hendak menempuh jalur penyelesaian diplomatik. Sikap melunak ini dimulai dari kontak telepon menteri luar negeri Inggris, Jeremy Hunt, dengan Javad Zarif, diikuti dengan pembebasan kapal Iran yang ditahan oleh sekutu terkuat Inggris di Timur Tengah, Saudi Arabia. Meski begitu, patut kiranya diamati sejauh mana keseriusan Inggris merealisasikan, seperti dirilis The Sunday Telegraph (21/07/19), opsi pembekuan aset-aset Iran.

Tidak seperti diopinikan media internasional, sejauh ini kecaman atas pencekalan tanker Inggris lebih merupakan pernyataan kekuatiran dan desakan Uni Eropa agar Teheran menempuh politik détente dalam kebijakan luar negeri. Sejurus dengan itu, menteri luar negeri Jerman, Haeko Maas, mendesak agar kanal-kanal penyelesaian diplomasi tetap terbuka.

Baca: Zarif: AS Harus Minta Izin IRGC kalau Mau Lewati Selat Hormuz

Sementara Donald Trump sendiri tidak siap menyatakan komitmen melakukan pengamanan tanker Inggris hanya karena tidak punya kesepakatan di atas kertas dengan London.

Di dalam Iran sendiri, bukan rahasia lagi bila menjalang penandatangan nota kesepakatan nuklir JCPOA tiga tahun lalu sudah muncul disharmoni antara angkatan militer Sepah Pasdaran dan Presiden Rouhani lantaran kebijakan luar negeri pemerintah Tadbir va Umid, khususnya mengenai program pengembangan rudal yang belakangan disyaratkan oleh pihak 5+1 sebagai bagian dari JCPOA.

Gonjang ganjing disharmoni itu mereda sejak keputusan sepihak AS keluar dari kesepakatan. Disharmani benar-benar hilang dan publik diyakinkan sepenuhnya dengan kemesraan, konsensus dan soliditas pemerintah dan Sepah Pasdaran saat kabinet Rouhani menyambut dan di berbagai forum menjustifikasi kedigjayaan sayap angkatan bersenjata nasional kelahiran Revolusi ini berhasil menembak jatuh drone AS di teluk Hormuza, peristiwa yang menghebohkan dunia bulan lalu.

Tidak sepenuhnya keliru bila menlu era perang Iran-Irak, Ali Velayati, mengingatkan juru runding arahan Javad Zarif sekarang bahwa pembangunan pertahanan nasional dan pengembangan rudal dalam negeri amat sangat menentukan bukan hanya arah kebijakan luar negeri, tetapi juga esensi perundingan segenting nuklir. Duduk berunding tanpa sabuk peluru seperti bertempur tanpa senjata.

Sebelum mencapai puncak harmoni, jajaran elit dimufakatkan oleh diksi pemimpin tertinggi Revolusi, Ali Khamenei, dalam menyebut pencekalan supertankernya oleh Inggris itu dengan duzd-e darya’i (bajak laut), seolah hendak mengingatkan masyarakat internasional akan kebiasaan pembajak laut asal Somalia, negara lemah di Afrika, yang kini diperankan oleh negara kuat di dunia.

Narasi itu selanjutnya menjadi referensi kalangan elit Iran dalam merespon positif tindakan pencekalan oleh Sepah Pasdaran. Soliditas kembali tampak dari media-media buku moderat dan, terutama, pemangku kebijakan luar negeri kabinet Rouhani dengan meneruskan argumen-argumen pencekalan tanker Inggris.

Pemberitaan melimpah ruah oleh kantor-kantor berita internasional di kasawan seperti Raialyaum (20/07/19) menunjukkan efek positif yang diraih Sepah Pasdaran, lebih dari keuntungan politik dalam negeri, justru menjangkau ekspektasi publik di beberapa negara Timur Tengah. Pencekalan tanker Inggris memperkental semen perekat soliditas dan konsensus politik nasional. Tidak berlebihan bila juga dinyatakan surat kabar Lebanon itu sebagai representasi dari kekuatan regional yang otentik anti kebijakan AS dan sekutu-sekutunya dari Eropa dan sejumlah negara Arab di kasawan.

Baca: Jenderal Tangsiri: Iran Kuasai Penuh Teluk Persia dan Selat Hormuz

Senada bahasa karikaturistik politik di tanah air, Inggris rupa-rupanya sedang diperdengarkan kaset rekaman, “Lu jual, gua borong!”, narasi yang melampaui ekspektasi kubu konservatif di Iran. Sementara surat kabar ternama domestik, Kayhan, cukup memasang hukum Hammurabi lex talionis di halaman depan, “Tanker Dibalas Tanker”, harian nasional kubu moderat, Etemad, mengangkat headline dalam dua kata Persia, Baritania-e Shaghir, Britania Kecil! Pesan Teheran cukup jelas: klaim “raya” jadi kecil bila sudah menerjang kedaulatan negara.

Dalam wawancaranya dengan majalah The New Worker (19/07/19), menteri luar negeri Javad Zarif mengulang semirip narasi jenderal perang Iran yang paling disegani Arab dan Barat, Qasim Sulaimani, “Anda bisa saja memulai perang, tetapi di tangan kami perang itu berakhir.”

Inggris telah bermain dengan asap Iran sambil mengharap-harap cemas kapan Negeri Mullah itu turut memadamkan apinya. Langkah apa yang akan diambil Teheran pasca pencekalan Stena Impero? Meski tidak ada di dalam negeri yang percaya kuat akan terjadi perang, sulit mengabaikan ke mana saja arah asap akan bergerak. Seperti dinyatakan duta besar Iran di London, “Betapa pun nanti, Iran sudah siap dan tegas untuk berbagai skenario”. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: