News Ticker

BNPT Sebut ‘Lone Wolf’ Penyerang Polsek Wonokromo

Fenomena Lone Wolf Fenomena Lone Wolf

Arrahmahnews.com, Jakarta – Aksi Radikal Terorisme di Indonesia diwarnai fenomena baru yang dikenal dengan nama Srigala tunggal/Lone Wolf.  Istilah ini sebagai sebutan bagi pelaku terorisme yang melakukannya secara sendiri di mana pelaku telah mengalami sebuah kondisi yang dinamakan dengan Self Radicalization.

Beberapa kejadian terorisme di Indonesia bisa dikatakan sebagai lone wolfer, sebut saja aksi yang dilakukan, Ahmad bin Abu Ali, seorang tunawisma pelaku bom sepeda yang nyaris menewaskan 2 anggota polantas di pos Kalimalang 30 September 2009. Leopard Wisnu Kumala pelaku pemboman Mall Alam sutera pada 9 Juli 2015, dan Ivan Armadi Hasugian pelaku penyanderaan dan rencana pemboman Gereja Santo Joseph Medan 28 Agustus 2016. Kedua aksi terorisme yang dilakukan kedua pemuda tersebut dalam pemberitaan media sering dikatakan sebagai pola baru, fenomena baru dan bentuk baru aksi terorisme yang dilakukan.

Baca: Terpapar Paham Radikal, Penyerang Polsek Wonokromo Anggap Polisi Thogut dan Kafir

Seorang pria berinisial IM menyerang anggota Polsek Wonokromo dengan berpura-pura melapor ke bagian SPKT. Pelaku tiba-tiba menyerang menggunakan celurit hingga mengakibatkan seorang anggota polisi terluka dan harus mendapat perawatan di rumah sakit serta seorang polisi lainnya menderita luka lebam.

Staf Khusus Kedeputian I bidang Deradikalisasi dan Pencegahan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suaib Tahir mengatakan, penyerangan yang dilakukan IM adalah penyerangan tunggal alias ‘lone wolf’.

“Dia belajar sendiri, senang mempelajari sendiri, akhirnya terpapar dan melakukan. Melakukan tindakan terorisme secara individu,” katanya dalam diskusi dan peluncuran buku ‘Memberantas Terorisme di Indonesia: Praktik, Kebijakan, dan Tantangan’, di Hotel Atlet, Jakarta Pusat, Selasa (20/8).

Menurutnya, tipe ini bukanlah lawan yang sulit ditaklukan. Menurutnya, tipe lone wolf turun ke jalan hanya untuk ajang uji coba.

“Ini biasanya sebenarnya tingkat kekuatannya sangat sederhana. Akhirnya saat melakukan semacam uji coba, kita perhatikan di jalan ya kaya ragu-ragu kan,” katanya.

Sebelumnya, pada Sabtu (17/8) sekitar pukul 17.00 WIB, seorang pria tak dikenal menyerang anggota Polsek Wonokromo dengan berpura-pura melapor ke bagian SPKT.

Baca: Pria Penyerang Polsek Wonokromo Berubah Setelah Ikut Pengajian Jemaah Cingkrang

Pelaku tiba-tiba menyerang menggunakan celurit hingga mengakibatkan seorang anggota polisi terluka dan harus mendapat perawatan di rumah sakit serta seorang polisi lainnya menderita luka lebam.

Polisi juga memeriksa keluarga IM, pelaku penyerangan terhadap anggota Polsek Wonokromo Aiptu Agus Sumartono di kawasan Sidosermo, Surabaya, Sabtu 17 Agustus 2019 malam.

Istri dan tiga anak pelaku juga diminta ikut polisi. Selain itu, polisi juga menggeledah indekos serta mengamankan laptop, kertas, dan ponsel milik pelaku.

Baca: Pelaku Bom Bunuh Diri Ternyata Tukar Pengalaman Antar Sesama Lone Wolf

Ketua RT 03, RW 02 Sidosermo, Ainul Arif ketika ditemui wartawan mengatakan, perilaku pelaku IM memang berubah sejak setahun lalu.

“Kesehariannya biasa saja. Dia itu jualan sempol sama kirim kerupuk makaroni di sini. Jualannya keliling dan anaknya juga sekolah di sini,” Arif. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: