News Ticker

Iyyas Subiakto: ILC dan Karni Ilyas Sumber Produk Kebencian

Indonesia Lawyer Club (ILC) Indonesia Lawyer Club (ILC)

Arrahmahnews.com, Jakarta – Tulisan pegiat medsos Iyyas Subiakto dengan judul: Iyyas Subiakto ‘Semprot’ Karni Ilyas dan Tv One “Stop Produksi Kebencian” mendapat respon yang dahsyat dari pembaca, sudah dilihat lebih dari 20 ribu orang dan di share lebih dari 7 ribu orang.

Dalam tulisan terbarunya Iyyas melanjutkan bahwa program Indonesia Lawyer Club (ILC) di TvOne sangat tidak mendidik dan bahkan sering kali program itu menyerang pemerintah tapi dengan dalih mengkritik, Iyyas menekankan kepada TvOne dan Karni Ilyas untuk menyetop program kebencian ini lebih jauh, karena berbahaya bagi masyarakat, dan akan menurunkan wibawa pemerintah saat ini.

Baca: Media dan Medsos Senjata Perang AS-Barat-Teroris Hancurkan Sebuah Negara

Seperti yang semalam saya sampaikan bahwa TvOne adalah salah satu media yang selama 5 tahun terakhir melalui acara ILC nya Bang Karni Ilyas telah membentuk opini menjadi program penyerang pemerintah melalui sekumpulan manusia nyinyir amoral, mereka terus meletupkan kata-kata tak senonoh yang mestinya tidak keluar dari mulut orang terdidik, atau kaum intelek.

Tulisan pendek saya tentang itu dilike lebih dari 10 ribu orang, dan di share mendekati 2 ribu, ini menandakan bahwa program ILC sudah demikian dipandang meracuni pikiran masyarakat dengan terus dijejali kebencian kepada pemerintah, tingkat kegusaran pemirsa atas serangan terus menerus itu sudah diatas ambang batas kewajaran, apalagi sekelompok manusia pembenci Pak Jokowi itu sengaja dipiara oleh Bang Karni dan dijadikan amunisi yang ditembakkan tanpa henti. Karena ruang celotehan itu adalah media Tv yang sangat luas ditonton di seantero negeri, sehingga dampaknya masif, sesuai segmennya.

Baca: Politisasi Agama, Cara HTI dan Khawarij Hancurkan Negara

Sebagai warga negara yang terdidik harusnya Bang Karni Ilyas tau batas mana kritik membangun dan mana yang cuma manyun, dagelan politik ini harusnya sudah berhenti, karena Pak Jokowi sudah resmi memenangi kontestasi, kenapa terus tak henti dimaki, padahal kerja yang dilakukannya terukur, walau tidak 100% mencapai hasil yang direncanakan. Wajar, karena Indonesia negara besar, bukan sebesar gedung Senayan dimana 600-an orang yang berkumpul dengan hasil kinerja mengesahkan RUU menjadi UU dibawah 50% saja.

UU adalah alat pemerintah untuk bisa bekerja, bila dukungan itu lemah maka akan mempengaruhi kinerja pemerintah, tapi lembaga yang mendudukkan dirinya terhormat dan mulia itu tak pernah dimaki-maki seperti halnya Pak Jokowi, malah bintang kembar dari Senayan yang selalu tampil elegan karena punya kursi tetap di ILC untuk terus bisa leluasa mengumbar bahasa mencela, menjadikan pemerintah seolah sebagai gudangnya salah.

Dari sanalah pernah keluar istilah rakyat tidak makan infrastruktur, Indonesia dikuasai asing, dan olok-olok yang lain dari mulut orang yang harusnya lebih pantas harakiri daripada sok mengerti. Apa itu pantas?, harusnya tidak bagi manusia berakhlak.

Negara yang porak poranda dibonsai orba ini dan sekarang sedang menghirup oksigen pembangunan agar bisa mengejar ketertinggalan, kenapa kesannya TvOne hadir sebagai saingan negara, seolah tidak rela Indonesia ditata agar bisa sejajar dengan tetangganya, dan kemajuannya kelak dirasakan bangsa serta anak cucunya.

Baca: Ninoy Karundeng: Jokowi Bapak Rakyat dan Pelindung Pancasila

Kenapa, emang Pak Jokowi itu lebih jelek dari Soeharto dan SBY, yang 42 tahun cuma bisa membiarkan Petral dan Freeport, jadi penguras devisa dan aset negara, serta memelihara tengkulak yang mengendalikan Bulog sampai membuat ketahanan pangan kita rentan, irigasi tanpa bendungan, kilang minyak dibiarkan tua, sementara di Singapura ada refinery, kilang minyak dinegara sebesar Jakarta itu dibangun untuk mensupply Indonesia, aneh tapi nyata. Itulah yang membuat income perkapita kita hanya 7% dibanding Singapura, dan 1/3 nya Malaysia, 1/2 nya Thailand, kita hanya menang lawan Philipina. Ini karena Soeharto 11-12 dengan Marcos.

Memasuki masa bakti kedua pemerintahan Pak Jokowi dengan program meneruskan pembangunan infrastruktur, serta SDM, seharusnya kita punya konsensus kebangsaan untuk menyudahi caci maki, mengendapkan hati sebagaimana mestinya manusia yang berpancasila agar kelak kalimat beradab tidak sekedar untuk cuap-cuap, tapi dibuktikan dalam sikap.

Baca: Serang Jokowi-Ahok dengan Narasi Busuk, Tere Liye di ‘Semprot’ Birgaldo Sinaga

Salam hormat buat Bang Karni, karena kita yakin beliau jauh lebih mengerti bahwa 64 juta suara yang tidak memilih Pak Jokowi tidak harus terus dikompori untuk membenci, karena kebencian yang terpatri akan menjadi dendam, dan akhirnya mereka akan menjadi asing dinegeri sendiri. Saat itulah bila ditanya apakah dia orang Indonesia, tatapannya kosong, jawabannya lirih.. Emang Indonesia disebelah mananya Jakarta, karena saat itu telapak kakinya mengambang tidak menjejak ketanah airnya, saat itulah mereka gamang sebagai bangsa, bahkan mungkin sebagai manusia Indonesia.

Saya yakin hal itu tidak terjadi kalau Bang Karni berhenti menanggapi Rocky dan Ridwan Saidi, akan lebih baik acara tak bergizi itu diakhiri, karena mudhorotnya lebih besar dari manfaatnya. (ARN)

KINI SAATNYA KITA SIAPKAN BAHU YANG KOKOH BERSAMA UNTUK INDONESIA, AGAR SEMUA BEBAN MENJADI RINGAN.

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: