News Ticker

Iyyas Subiakto: Djarum Dibenci dan di Caci Maki Tapi Berkontribusi untuk NKRI

Djarum Djarum

Arrahmahnews.com, Jakarta – Perseteruan Djarum dan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Kesehatan dan NAPZA, Sitty Hikmawatty menyatakan kegiatan audisi beasiswa bulutangkis Djarum Foundation di GOR KONI Bandung termasuk dalam bentuk eksploitasi anak secara terselubung.

Sitty Hikmawaty menyatakan kegiatan yang melibatkan anak-anak dan disponsori oleh industri rokok merupakan termasuk bentuk eksploitasi anak secara terselubung.

KPAI Memang pernah memanggil pihak Djarum Foundationterkait hal tersebut, namun menurutnya pengertian eksploitasi harus merujuk pada payung hukum yang ada di Indonesia.

“Pihak Djarum memang menolak dikatakan bahwa kegiatan tersebut sebagai bentuk eksploitasi, tapi tentu saja patokan eksploitasi ini harus kembali merujuk pada undang-undang ataupun payung hukum yang ada di Indonesia, bukan atas persepsi pihak tertentu,” ujarnya seperti dikutip Antara News.

Pihak KPAI, lebih lanjut sangat menyayangkan audisi tersebut.

Mereka meminta Djarum Foundation untuk segera menghentikan kegiatan audisi yang masih akan dilaksanakan di beberapa kota selain Bandung.

Perseteruan ini harusnya tidak diperpanjang karena kita melihat bagaimana kontribusi Djarum terhadap Indonesia dan kemanusiaan disini. Pegiat medsos Iyyas Subiakto dalam akun facebooknya menulis dengan judul “Menyembah Tuhan, Mengabaikan Kemanusiaan”. Simak tulisannya: Djarum Dibenci dan di Caci Maki Tapi Berkontribusi untuk NKRI

Baca: Iyyas Subiakto: ILC dan Karni Ilyas Sumber Produk Kebencian

Pagi ini Djarum Group memasang iklan kemasyarakatan 4 halaman di Jawa Pos, 50 tahun melayani negeri dengan segudang prestasi. Selain telah melahirkan atlet Bulutangkis kelas dunia, 11 diantaranya mempersembahkan medali olimpiade, dan telah membina 5.000 atlet sejak 1969. Menanam 2 juta pohon pada pinggir jalan sepanjang 2.307 km di Jawa-Madura yang bisa menyerap 2,9 juta ton CO2, Beasiswa Plus untuk 11 ribu anak didik, 52.000 orang mendapat rawatan medis gratis, 28.000 orang mendapat bantuan air bersih, dan banyak lagi, selain tentunya pekerja yang menggantungkan hidupnya bekerja di pabrik rokok Djarum (rokok antara mematikan dan membuat kehidupan).

Djarum, identik dengan Hartono sang pendiri, yang sekarang juga memiliki BCA group, dia adalah orang terkaya di Indonesia bersama orang kaya lainnya dengan segala macam kiprahnya dan dengan segala macam kurang-lebihnya, yang pasti sebagian besar mereka telah berbuat nyata untuk sesama, dalam konteks kemanusiaan tanpa embel-embel rayuan surga dan kawin 4 sampai 5. Hablum minannas mereka jalankan dengan tanpa pamrih apakah mereka mendapat hadiah dari Tuhan, mereka hanya mengerti kemanusiaan adalah sebuah kewajiban yang harus dijalankan, bukan cuma cuap-cuap, tapi tak bersikap, apalagi sigap.

Baca: Iyyas Subiakto ‘Semprot’ Karni Ilyas dan Tv One “Stop Produksi Kebencian”

Terbayang ributnya soal izin gereja, pembubaran orang beribadah di halaman terbuka karena ijin gereja tak kunjung tiba, Indonesia punya pancasila, kita mengaku pemilik surga, tapi gereja dianggap monster yang menakutkan, mengaku beriman tapi takut setan. Teriakan sinis terus membanjiri kanan kiri kehidupan beragama kita, seolah kita lupa ada tauladan dan terus kita shalawatkan, tapi ajarannya ada yang diabaikan, apakah Rasullulah SAW pernah berbuat tak adil kepada pemeluk agama lain, kita bangga menceritakan Rasullulah SAW setiap jumat menyuapi seorang Yahudi buta sampai dia wafat, kita bangga dengan Piagam Madinah, konstitusi pertama di dunia yang banyak mengilhami demokrasi negara didunia, tapi kita abai menjalankannya, karena sejujurnya kita cuma mengelus kulitnya, lupa isinya.

Teriakan rasis lainnya terus disemburkan kepada etnis Cina, bahkan stigma ketidaksukaan itu digandengkan dengan Jokowi sebagai keturunan Cina, pendukung Cina, dan anti ulama. Mereka lupa belanja di toko 212, 90% produk dari pabrik orang Cina, mereka lupa 80% perputaran ekonomi Indonesia di pegang orang Cina, pabrik kacang saja yang punya Cina, ini semua akibat lupa sejarah dan titah Rasullulah, BELAJARLAH SAMPAI KE NEGERI CINA, Walisongo konon 3 diantaranya orang Cina, Islam masuk Nusanatara juga Cina yang ikut menyebarkannya, tapi memang kita ini lucu bin culun, benci sama Cina, LIUS DIJADIKAN ULAMA, ROCKY GERUNG DIJADIKAN RUJUKAN, terus kita bisa apa. Ya, kita punya kebanggaan penganut agama yang digdaya, punya surga, istri dimana-mana, ribut semua mau syariah, tapi pelit bersedekah, mayoritas tapi tak berkualitas, ada ulama panutan, suka dengan ustadz karbitan, ada ilmu rujukan, suka ceramah cengengesan, populasi dominan, prestasi pinggir jalan.

Baca: Iyyas Subiakto: DKI Dikencingi HTI

Ah,..ngomongin kalian memang tak ada habisnya, gayanya semua rujukan dari Tuhan, di depan mata urusan kemanusiaan kalian abaikan, baru pulang berhaji ceritanya menakjubkan, tapi lupa di Yaman banyak orang mati kelaparan. Bagaimana menuju yang vertikal kalau lupa yang horizontal, Tuhan tidak kemana-mana karena Dia ada arsyNya, dan semua kita kembali kepadaNya, tapi manusia sebagai lahan saling iling bukan tempat kita berpaling. Jadi kalau sampean mau masuk surga urusin saja manusia sebagaimana seharusnya, jangan takut dengan agamanya, jangan kecut dengan rumah ibadahnya, amat sangat lucu perilaku kita, benci dan takut dengan orangnya, tapi kita makan Indomienya, kita hisap rokoknya, dan menenteng oleh-oleh Lumpia, yang dibuat orang Cina, hahaha. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: