News Ticker

Iyyas Subiakto: Jokowi Diserang Oposisi “Rakus”

Permainan Politik Catur Permainan Politik Catur

Arrahmahnews.com, Jakarta – Tulisan pegiat medsos Iyyas Subiakto dalam akun facebooknya yang menjelaskan bagaiamana sepak terjang kelompok opisisi yang merampok negerinya sendiri.

Menurut Iyyas, sahdan di negeri yang gemah ripah loh jinawi yang kelahirannya di barengi simbahan darah, dan dengan nyawa ribuan pahlawan, disanalah awalnya dia disebut sebuah negara merdeka INDONESIA nama yang berevolusi dari Nusantara, dimana sejak ratusan tahun dihuni banyak kerajaan dengan ragam kekuatan dan menggetarkan dunia pada zamannya.

Serangan masif kepada Jokowi dari mulai TV yang dikomandoi Karni, oposisi di DPR yang mulutnya kayak ember, sampai kepada penyusupan di BUMN, ASN, bahkan masjid sudah dijadikan tempat mengeramnya ajaran kebencian. Baju ulama, sorban, dijadikan tameng dan menuduh pemerintah anti islam, sampai kriminalisasi ulama terus di dengungkan. Papua akan dibenturkan, Banser akan dibubarkan, radikalisme disuburkan, bahkan kelas ormas yang sudah dibubarkan mau dibangkitkan melalui DNA islam dengan darah lain yang disebut pemurnian islam, tapi kelakuan setan

Negeri ini pernah dipimpin oleh 6 pemimpin dengan ragam gaya, dan yang ke 7, adalah jelmaan sebuah harapan yang sesuai Pancasila, dari 7 yang pernah ada. Hanya 3 orang diantaranya yang membuat catatan diatas rata-rata. Soekarno sang proklamator menggetarkan dunia, Soeharto sang diktator dan koruptor menjerumuskan Indonesia dan sekarang Jokowi menata ulang Indonesia ditengah buasnya manusia bebas bicara berisi suara mencela yang kebanyakan tak punya kapasitas apa-apa.

Baca: Geram! Jokowi Sebut Ada Banyak Politikus Sontoloyo

Jokowi, kehadirannya menata dari sisa yang masih ada, mengais, menyatukan, agar keutuhan bisa dihadirkan. Tapi bak kata orang tua, memungut serpihan butuh kesabaran, karena rakyat yang pernah dianggap remah yang sudah berserak, pernah terinjak, atau sengaja diinjak, harus diajak kembali berpikir bijak, bahwa kita harus beranjak agar harga diri bisa kembali, tidak sekedar berontak dan berteriak tanpa tujuan berarti.

Namun harus juga disadari, membangkitkan batang terendam tidak semudah menyuruntukan air rendaman, disana masih banyak berdiri kaki-kaki penindas yang dulu pernah menikmati bagaimana mereka melahap saudaranya sendiri dengan menguasai bumi pertiwi dan seisi perut buminya, dengan pongah mereka memperkaya diri, tanpa risi bahwa dibanyak belahan bumi negeri ini saudaranya terintimidasi dari ekonomi yang seharusnya mereka nikmati.

Dalam proses penataan serta pemerataan pembangunan, juga memeratakan dan menghidupkan ekonomi, disana pula Jokowi berhadapan dengan oposisi tak berbudi. Kelas manusia kerdil dalam berpikir menyerang dari segala lini agar Jokowi terhenti, atau sudah beberapa kali mau dipaksa berhenti, untung manusia pinggir kali ini punya nyali baja dan dilindungi oleh yang Maha Kuasa untuk kelangsungan Indonesia.

Baca: Iyyas Subiakto: ILC dan Karni Ilyas Sumber Produk Kebencian

Tidak tanggung-tanggung kekuatan yang menyerangnya, apakah ada kekuatan asing didalamnya, kita masih samar melihatnya. Tapi dari pengalaman turunnya Soekarno dan Soeharto sangat mungkin mereka ada disana, hanya saja sekarang Amerika tidak bisa seenak udelnya karena kini kehadiran China, dan Rusia tidak membiarkan Amerika leluasa menjadi polisi yang sekaligus perampok dunia. Arab boleh dibuat porak poranda, tapi Asia jangan coba-coba, karena ras kita beda, kita bukan ras yang cuma besar punuknya, lambat jalannya, kayak onta. Asia adalah ras yang membuat jalur sutra membelah dunia. Sayang Indonesia masih menyimpan musuh dalam satu badan, sehingga ada energi yang harus disiapkan untuk melenyapkan koloni manusia rendah akhlak ini, kita harus berani, kalau tidak kita akan mati suri, atau dikebiri saudara sendiri yang sudah menjelma menjadi Srigala berbulu domba.

Serangan masif kepada Jokowi dari mulai TV yang dikomandoi Karni, oposisi di DPR yang mulutnya kayak ember, sampai kepada penyusupan di BUMN, ASN, bahkan masjid sudah dijadikan tempat mengeramnya ajaran kebencian. Baju ulama, sorban, dijadikan tameng dan menuduh pemerintah anti islam, sampai kriminalisasi ulama terus di dengungkan. Papua akan dibenturkan, Banser akan dibubarkan, radikalisme disuburkan, bahkan kelas ormas yang sudah dibubarkan mau dibangkitkan melalui DNA islam dengan darah lain yang disebut pemurnian islam, tapi kelakuan setan.

Baca: Iyyas Subiakto ‘Semprot’ Karni Ilyas dan Tv One “Stop Produksi Kebencian”

Tragedi Papua bukan sekedar huru hara biasa, amunisi menghancurkan Indonesia ada didalamnya, ruh orba masih merajalela karena kroninya masih hidup dalam komunitas yang tertata, tak terasa tapi ada, duitnya banyak dimana-mana, kita harus waspada karena mereka akan menerkam Indonesia untuk kembali berkuasa.

Jadi, baju oposisi harus diwaspadai, mereka berkolaborasi untuk kembali menggali kejayaan yang pernah mereka kuasai.

Awasi oposisi, selain mulut mereka asal bunyi, hati mereka sudah mati. Lihat saja, setelah gagal beroposisi, bermanuver mau berkoalisi, begitu tau Jokowi gak ngasi hati, mereka balik garang menyerang. Bahkan Ibu Kota pindah mereka yang gerah, karena apa, karena dalam prosesnya mereka tak bisa menjarah. DASAR LINTAH DARAT, SEMUA MAU DIKERAT. PEMERINTAH BUTUH OPOSISI, BUKAN GALI. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: