News Ticker

Eko Kuntadhi “Semprot” Detik Terkait Berita Istri Terduga Teroris Merasa Dilecehkan Densus 88

Istri Terduga Teroris Istri Terduga Teroris

Arrahmahnews.com, Jakarta – Pegiat medsos Eko Kuntadhi “semprot” media online Detik.com yang membuat judul sebuah berita “Istri Terduga Teroris Palu Merasa Dilecehkan Densus 88 Saat Digerebek”, sebuah judul yang sangat berbahaya karena berakibat membuat ketersinggungan bernuansa agama.

Menurut Eko bahwa ”Istri-istri terduga teroris yang ditangkap Densus 88 merasa dilecehkan di momen penangkapan suami mereka. Istri terduga teroris protes karena Densus menerobos masuk saat dirinya belum mengenakan jilbab…” (Detik.com). ISTRI-ISTRI JEMBLEM!

Baca: Sidney Jones: Serangan Teror Satu Anggota Keluarga di Surabaya Pertama Kali di Dunia

Ini juga wartawan detik.com, rada-rada jemblem. Berita kayak gini diangkat. Dengan judul yang bisa bikin ketersinggungan bernuansa agama.

Terbukti, gerombolan ini yang dipikirin cuma surga untuk sendiri. Untuk masuk surga versinya, mereka gak peduli sama orang lain. Orang harus mengikuti etika mereka. Sementara mereka justru menginjak-injak kemanusiaan.

Para pengasong agama ini adalah sebenar-benarnya perusak agama. Mereka hanya menggunakan agama untuk kepentingannya sendiri saja. Bahkan lebih mikirin dosa auratnya dilihat orang, ketimbang dosa membunuhi orang-orang yang gak berdosa.

“Mas, istrinya teroris itu, beneran perempuan?”

Mbuh!

Heran sama kadal gurun model begini. Dia pikir, Densus mau menggerebek teroris mesti tok, tok, tok dulu. “Assalamualaikum, pak. Kami dari Densus 88. Mau menggerebek. Boleh masuk?”.

Baca: Polisi: Dekati Parpol Strategi Baru Kelompok Teroris JI Bentuk Negara Khilafah

“Ohh, tunggu sebentar pak. Istri saya pakai jilbab dulu… Ngomong-ngomong, mau teh apa kopi pak?”

“Teh aja. Gulanya jangan banyak-banyak. Makasih, mas…”

Terus sang teroris menyiapkan senjata. Pas buka pintu, dor, dor, dor! Mereka menembaki polisi.

Atau ada yang lebih sadis. Mereka menyulut bom. Duarr!

Percayalah, anggota Densus gak sebodoh itu. Kalau mau nangkap orang, disergap dengan tiba-tiba. Apalagi teroris.

Kalau harus kulonuwun dulu, bukan nangkap teroris namanya. Tapi ngajak kondangan.

Sudah tahu punya suami teroris yang gak punya otak. Rencana hanya bisa nyakiti orang. Kalau bisa membunuh dengan sadis. Eh, ketika digrebek malah teriak-teriak soal pelecehan. Gara-gara Densus mendobrak pintu, gak pakai ‘assalamualaikum’.

Baca: Yusuf Muhammad: Kelompok Radikal dan Teroris Penista Agama yang Nyata

Kan, bangke.

Gini deh, ukhti. Waktu laki lu dan teman-temannya ngebom, apa mereka permisi dulu sama korban? Apa mereka bikin surat permohonan ngebom kepada RT dan RW? Apa mereka mengajukan proposal buat bikin kegiatan amaliyah ke Kelurahan setempat? Kan, gak!

Apa laki lu dan gerombolannya minta ijin sama istri-istri korban ketika mau menggorok leher suaminya? Apa laki lu dan gerombolannya pernah berfikir, bahwa yang mau dibunuh itu adalah ayah seorang anak. Suami seorang istri. Dan punya keluarga.

Sekarang kok, yang lu pikirin soal jilbab. Kamu berlindung di balik auratnya, memprotes pengerebekan Densus. Yang kamu permasalahkan cuma soal polisi mendobrak pintu ketika kamu gak pakai jilbab. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: