News Ticker

Eko Kuntadhi “Semprot” DPR, KPAI Hingga Komnas HAM, Makan Gaji dari Uang Pajak Rakyat Kerja Setengah Hati

  • Polisi Syariah
  • Papua Bagian NKRI
  • John Paul
  • Hitler Demokrat
  • Kominfo
  • Kyai Said Aqil Siradj Diserang
  • Suriah
  • Cuitan Tengku Zulkarnaen
PB Djarum Stop Audisi Bulutangkis PB Djarum Stop Audisi Bulutangkis

Arrahmahnews.com, Jakarta – Pegiat medsos rupanya kesal dengan tingkah DPR, KPAI dan Komnas HAM yang makan gaji dari uang pajak tapi malah kerja setengah hati.

Ketika proyek mobil Esemka diwujudkan, sebagai hasil karya anak Indonesia. Sebagian anggota DPR nyinyir. Mereka seperti ingin merendahkan prestasi anak Indonesia. Mereka gak bangga sama sekali dengan hasil keringat putra-putra Indonesia.

Ketika PB Djarum telah berjibaku selama 50 tahun membina bibit-bibit bulutangkis, KPAI nyinyir. Mereka memprotes audisi bukutangkis karena dianggap eksploitasi anak.

Baca: Iyyas Subiakto: Djarum Dibenci dan di Caci Maki Tapi Berkontribusi untuk NKRI

KPAI mungkin lebih suka anak-anak kita diajak demo atau kampanye politik. Toh, selama ini KPAI gak protes kedegilan seperti itu. Tapi mereka malah berusaha menghentikan usaha PB Djarum mengharumkan nama Indonesia di dunia.

Akhirnya, akibat tekanan yang terus dilakukan KPAI, Djarum memutuskan mulai tahun depan tidak ada lagi beasiswa bulutangkis untuk anak-anak berpreatasi. Ketimbang difitnah mengeksploitasi anak.

Ketika Veronika Koman yang menyulut kerusuhan Papua dengan twit-twit fitnahnya, dijadikan tersangka oleh Polisi. Komnas HAM malah membela pendukung Papua Merdeka ini. Tapi Komnas HAM tidak pernah teriak saat anggota TNI dan Polisi jadi korban kerusahan itu.

Komnas HAM juga cuek bebek saat ada warga Papua yang mati dibacok perusuh. Ada yang mati kena panah. Padahal korbannya juga orang Papua asli. Bukan kendatang.

Baca: Polda Jatim Resmi Tetapkan Veronica Koman Tersangka Provokasi Rasial Papua

Ketika tayangan TV begitu memuakkan dengan sinetron bangke dan merusak akal sehat. KPI cuek saja. Tapi mereka malah mau ikut mengawasi konten internet, Youtube dan Netflix. Padahal aplikasi itu punya fitur sendiri untuk membatasi tontonan.

Bahkan sinetron Indonesia yang memuakkan itu, jadi inspirasi seorang perempuan untuk membunuh suami dan anak tirinya. Mayatnya dibakar.

Kita heran. Orang-orang ini digaji oleh negara. Dibayar dari uang pajak kita. Artinya kita yang membayar mereka. Rakyat Indonesia yang membiayai hidupnya. Membiayai keluarganya.

Tetapi kenapa mereka kerjanya malah menghancurkan kebanggaan kita pada negeri ini. Kenapa mereka selalu berharap Indonesia terperosok ke jurang kehinaan.

Kenapa orang-orang ini menggunakan fasilitas negara dan kewenangannya untuk berkampanye bahwa Indonesia tidak pantas berprestasi. Bahwa Indonesia suka menindas. Bahwa Indonesia negeri yang harus diawasi.

Baca: Fakta Penembakan Siyono, Bukti Media Radikal Pro Teroris dan Serang POLRI

Kalau sudah begini, rasa-rasanya menyebalkan memang. Kenapa duit pajak yang kita bayarkan dipakai untuk menggaji mereka. Menggaji mahluk yang sama sekali tidak membuat hati kita bangga. Menggaji orang yang sok jago. Tapi malah kerusakan saja hasilnya.

“Mas, mas. Ini hari minggu. Jangan ngomong yang berat-berat. Mending kita nonton stand up komedi di Youtube,” saran Abu Kumkum.

Saya lihat Kumkum lagi menonton video Somad ceramah di layar HP-nya. Dia tertawa ngakak-ngakak. “Mas, nonton Drama Korea kata Somad termasuk golongan kafir. Untung aja aku sukanya nonton Drama Jepang. Jadi gak termasuk kafir,” ujar Abu Kumkum. “Akting Miyabi bagus, mas. Menjiwai banget.”

“Kum, Somad itu juga digaji negara lho. Dia kan PNS,” ujar saya. Tapi Kumkum gak mendengar omongan saya. Dia lagi sibuk menggonta-ganti layar HP-nya. Kadang nonton Somad. Kadang nonton Drama Jepang. Selang-seling. (ARN)

Iklan
  • Jokowi Saat Harlah Muslimat di GBK
  • Ibukota Negara Baru
  • Jokowi
  • Politik, Joko Widodo, Denny Siregar
  • Pesan Habib Umar Bin Hafidz Yaman

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: