NewsTicker

Iran Kecam Tuduhan PM Israel soal Percobaan Nuklir Terlarang

Menlu Iran Menlu Iran

Arrahmahnews.com, Iran – Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif mencemooh tuduhan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang tampaknya mencoba untuk menghasut dengan menyebut Iran melakukan percobaan nuklir terlarang.

Netanyahu mengklaim pada hari Senin (09/09) bahwa Republik Islam itu telah melakukan kegiatan rahasia di suatu tempat, yang ia klaim dulu terletak di selatan kota Iran tengah Isfahan, untuk mendapatkan senjata nuklir. Tanpa memberikan perincian lebih lanjut atau menentukan kapan praktik seperti itu telah berlangsung, ia melanjutkan dengan menuduh bahwa para pejabat Iran “memusnahkan” pusat putatif itu setelah ditemukan oleh agen-agen Israel.

“Pemilik nuklir SEBENARNYA sedang menangis serigala di situs yang KATANYA sudah dihancurkan di Iran,” ujar Zarif kemudian dalam postingan twitternya sebagai reaksi atas tuduhan aneh Netanyahu.

Baca: China ke AS: Hentikan Tekanan Maksimum terhadap Iran

Ia menunjukkan beberapa laporan oleh tokoh-tokoh terkenal yang mengidentifikasi Israel sebagai satu-satunya pemilik senjata nuklir di Timur Tengah. Bukti-bukti itu termasuk laporan bersejarah The Sunday Times tahun 1986 yang pertama kali membongkar hal ini berdasar pengakuan dari mantan teknisi nuklir Israel Mordechai Vanunu, serta mantan presiden AS Jimmy Carter yang menyebut bahwa rezim pendudukan memiliki ratusan hulu ledak nuklir.

Zarif mencantumkan gambar laporan di halaman depan The Sunday Times dalam tweet-nya, dan mengatakan bahwa melalui tuduhannya, perdana menteri Israel itu tanpa berpikir berusaha untuk memicu perang melawan Iran sebagai bagian dari “B-Team.”

Baca: Iran Akan Melawan Kehadiran Israel dalam Koalisi AS di Teluk Persia

“Dia & Tim-B hanya menginginkan perang,” kata Zarif, “tidak peduli darah orang-orang tak berdosa & 7 Miliar dolar lainnya,” mengacu pada jumlah yang diakui Washington telah dibelanjakan di Timur Tengah dan Asia Tengah untuk operasi militer.

Zarif juga mencemooh komentar Netanyahu pada tahun 2002, di mana perdana menteri Israel itu mempromosikan agresi militer pimpinan-AS terhadap Irak dengan mengklaim bahwa hal itu akan sangat bermanfaat bagi kawasan tersebut.

Amerika Serikat memimpin sekutunya dalam invasi setahun kemudian. Perang itu terjadi dengan menghancurkan konflik sektarian dan kekacauan di negara Arab dan di tempat lain di kawasan. Buntut kerusuhan juga membuka jalan bagi munculnya teroris Takfiri di wilayah tersebut. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: