News Ticker

Saudi Umumkan Rencana Pengayaan Uranium untuk Program Nuklir

Pangeran Abdulaziz bin Salman, Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman, Menteri Energi Arab Saudi

Arrahmahnews.com, Arab Saudi – Arab Saudi mengumumkan rencana memproduksi dan memperkaya uranium di masa depan untuk program tenaga nuklirnya yang akan memasuki tahap operasional dengan dua reaktor atom.

Pangeran Abdulaziz bin Salman, menteri energi baru kerajaan, mengatakan pada hari Senin (09/09) bahwa Riyadh bermaksud untuk mendiversifikasi campuran energinya dan melanjutkan siklus penuh program nuklirnya, termasuk produksi dan pengayaan uranium untuk bahan bakar atom.

Baca: Analis: Langkah AS Nuklirisasi Saudi sangat Tidak Bertanggungjawab

“Kami melanjutkannya dengan hati-hati … kami sedang bereksperimen dengan dua reaktor nuklir,” kata Abdulaziz pada konferensi energi di Abu Dhabi.

Pejabat Saudi itu juga mengumumkan rencana Riyadh mengeluarkan tender untuk dua reaktor nuklir pertama kerajaan itu, dengan mengatakan bahwa tender itu akan dilakukan tahun depan.

Perusahaan-perusahaan dari AS, China, Rusia, Korea Selatan dan Perancis berspekulasi untuk terlibat dalam pembicaraan awal tentang proyek yang diperkirakan bernilai miliaran dolar tersebut.

Baca: Kongres AS: Pemerintahan Trump Transfer Tekhnologi Nuklir Sensitif ke Arab Saudi

Arab Saudi mengklaim bahwa mereka ingin memanfaatkan teknologi nuklir untuk tujuan damai tetapi pengayaan uranium adalah langkah sensitif dalam siklus bahan bakar nuklir karena dapat membuka kemungkinan penggunaan bahan oleh militer.

Reuters melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika bisa bersaing untuk proyek tersebut jika Riyadh menandatangani perjanjian dengan Washington memastikan akan menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Pejabat Saudi, bagaimanapun, telah mengatakan mereka tidak akan menyetujui kesepakatan yang menyangkal mereka kemungkinan memperkaya uranium atau memproses ulang bahan bakar bekas, yang dapat menyebabkan bom nuklir.

Kekhawatiran terhadap ambisi nuklir Saudi meningkat karena catatan gelap rezim tersebut tentang pelanggaran hak asasi manusia, khususnya untuk penahanan aktivis hak-hak perempuan dan pembunuhan kejam terhadap jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di Turki, serta perang brutalnya terhadap Yaman. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: