News Ticker

Sumanto Al Qurtuby: Bungkusnya Bisa Khilafah Tapi Isinya Monarki, Jangan Tipu Umat Islam

#Khilafah #Khilafah

Arrahmahnews.com, Jakarta – Prof Sumanto Al Qurtuby dalam akun facebooknya membuat tulisan tentang “Bungkusnya Bisa Khilafah Tapi Isinya Monarki”, yang mengupas kebohongan sistem khilafah yang membodohi umat Islam.

Hanya orang-orang mendem maksimal, pemimpi teler, dan penghayal kelas berat saja yang mengatakan bahwa umat Islam zaman dulu (era Turki Usmani dan sebelumnya) hidup makmur damai aman tentram lantaran mengikuti model sistem politik-pemerintahan khilafah ala Hizbut Tahrir.

Jadi jamaah ontaiyah dimanapun kalian berada, berhentilah kalian mengkhayal dan ndoboli umat Islam. Sistem politik-pemerintahan model apapun (relijiyes atau sekuler, syar’i atau seluler) tidak akan membuat umat dan rakyat biasa menjadi makmur, aman, dan tentram kalau para elit penguasa dan pemimpinnya mbelgedes bermental coro, pecah ndase, bodong wudele, mlocot dengkule, ambrol atine, dan ambyar uteke.

Baca: Sumanto Al Qurtuby: Gayamu Kayak Nabi Tapi Kelakuanmu Kayak Dajjal

Bukan hanya cheerleader Hizbut Tahir saja, sekelompok Islamis militan dan Salafi ekstrim lain (misalnya pendudkung Ikhwanul Muslimin, al-Qaidah, ISIS, Jamaah Islamiyah dan masih banyak lagi termasuk jamaah aliran “Monasisme” di Endonesah) juga mengklaim hal serupa: umat Islam adem ayem sebelum Turki Usmani rontok dan mbrodoli pada tahun 1920-an digempur oleh kelompok sekuler pimpinan Mustafa Kemal.

Mari kita lihat apakah klaim mereka itu bener atau ndobos saja untuk ndobosi umat Islam yang masih unyu-unyu.

Sejarah mencatat, sejak Nabi Muhammad wafat, selama berabad-abad umat Islam menjadi “koloni” berbagai macam kelompok elit dan rezim politik. Hampir semua penguasa Muslim di Timur Tengah dulu (juga Afrika, Asia Tengah, dan Eropa) meraih kekuasaan dengan darah, kekerasan, dan perang, bahkan dengan sesama Muslim sendiri.

Baca: Prof Sumanto: HTI Ormas Gemblung dan Sontoloyo

Sistem politik pemerintahan yang mereka terapkan pun jauh dari model sistem khilafah ala Hizbut Tahrir. Misalnya, pemimpin pemerintahan dulu nggak dipilih oleh umat Islam tetapi “memilih” diri sendiri dengan cara mengkudeta, berperang, atau merebut kekuasaan. Setelah sukses perang dan merebut kekuasaan, para penguasa ditunjuk atau digantikan oleh anak dan keluarga dekat. Maka, bentuk pemerintahan mereka adalah monarki atau emperium yang berbasis pada sistem tribalisme atau sukuisme (atau “klanisme”) dan sektarianisme teologis (misalnya Sunni atau Syiah).

Di zaman Khulafaur Rasyidin (empat sahabat pengganti Nabi Muhammad sebagai pemimpin umat Islam) yang singkat itu memang tidak menganut sistem monarki tetapi proses pemilihan pemimpin penuh dengan sentimen suku dan juga kekerasan dan bahkan harus bermusuhan dan berperang dengan keluarga dan karib kerabat dekat.

Baca: Sumanto Al Qurtuby: Mengapa Hizbut Tahrir Tidak Laku di Timur Tengah?

Sejak berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin, umat Islam selama berabad-abad berada dibawah sistem monarki, entah itu bungkusnya bernama/berlabel khilafah, daulah, emperium, kesultanan, keamiran, dlsb. Selama berabad-abad, mereka saling menjegal dan berperang meskipun sesama umat Islam demi meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Lihat saja: Dinasti Umayyah dikontrol oleh klan Arab Bani Umayyah, Dinasti Abbasiyah dikontrol oleh klan Arab Bani Abbas, Dinasti Fatimiyah dikontrol oleh Syiah Ismailiyah, Kesultanan Ayubiyyah atau Ayubiyyun dikontrol oleh etnik Kurdi, Emperium Ghanawi dikontrol oleh etnis Turki, Dinasti Almohad atau Muwahhidun dikontrol oleh etnis Berber, Emperium Saljuk dikontrol oleh bangsa Turki dari klan Qinik, Kesultanan Mamluk dikontrol oleh para tentara keturunan budak dari Crimea, Emperium Ilkhanat atau Timuriyah dikontrol oleh bangsa keturunan Turki-Mongol, Dinasti Safawi dikontrol oleh ordo Sufi Safawi berbangsa Kurdi, Dinasti Ashfariyah dikontrol oleh suku Ashfar di Iran, Dinasti Qajar dikontrol oleh suku Qajar, Dinasti Turki Usmani dikontrol oleh bangsa Turki Ogus, dan masih banyak lagi bisa keriting jari-jemariku yang lentik ini kalau ditulis semua disini.

Baca: Sumanto Al-Qurtuby: HTI Ormas Antek Asing

Jadi jamaah ontaiyah dimanapun kalian berada, berhentilah kalian mengkhayal dan ndoboli umat Islam. Sistem politik-pemerintahan model apapun (relijiyes atau sekuler, syar’i atau seluler) tidak akan membuat umat dan rakyat biasa menjadi makmur, aman, dan tentram kalau para elit penguasa dan pemimpinnya mbelgedes bermental coro, pecah ndase, bodong wudele, mlocot dengkule, ambrol atine, dan ambyar uteke. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: