NewsTicker

Iyyas Subiakto: KPK Masih Koma

KPK dan DPR KPK dan DPR

Arrahmahnews.com, Jakarta – Pagiat medsos Iyyas Subiakto dalam akun facebooknya masih mempunyai harapan kepada KPK dalam pemberantasan korupsi, KPK masih koma, ujar Iyyas.

Kontroversi pemilihan Ketua dan Anggota pemimpin KPK selesai sudah, sejak pembentukan pansel sampai draft RUU KPK di kritisi beragam seolah KPK akan berubah menjadi mangsa negara atau herder yang tak lagi bisa menyalak.

Kemarin masih berharap supres tak dikirim presiden ke DPR, tapi akhirnya surat itu terbit, dan malam tadi the midnight show terjadi, pemilihan pemimpin KPK sudah kelar. Pagi ini beberapa komentar miring terpampang di koran, headline seolah presiden sudah membuat awal kesalahan. Saya yang dari awal juga berfikir sama, tapi harus menyisakan harapan kepada presiden, yang harusnya memegang komitmen atas pemberantasan korupsi, karena selain program yang dicanangkan, beliau juga tak berbakat jadi koruptor.

Baca: Kapolda Sumsel Irjen Firli Bahuri Resmi Jadi Ketua KPK 2019-2023

Indonesia dgn ranking 89 dalam indek IPK (indek persepsi korupsi dunia), tahun 2018 dari 180 negara, masih jauh dibawah Singapura yang menduduki ranking 3, Brunei Darussalam 33, Malaysia 61. Namun dua poin dibawah Cina 87, dan India 86. Dan sedikit lega karena masih diatas Thailand dan Philipina yang menduduki ranking 99. Gambaran IPK dunia masih sangat menyedihkan 2/3 negara didunia masih mendapat skor dibawah 50, dari skor tertinggi 100 yang merepleksikan sangat bersih, atau bebas korupsi, dan skor 0 adalah terkorup. Sementara Amerika yang selama ini menduduki 20 negara terbersih, tahun 2018 terpental karena IPK nya turun 4 poin menjadi 71 dari tahun sebelumnya, dan Indonesia membaik 7 peringkat dibanding 2017, kinerja KPK dinilai menunjukkan perbaikan.

Baca: Iyyas Subiakto: DPR Semakin Brutal, Mereka ”Kebiri” KPK dan Jokowi

Bicara korupsi tidak tunggal soal curi mencuri, disana saling terkait antara demokratisasi, sisitim pemerintahan, juga hak politik serta sistim kepartaian dan rekruitmen birokrat juga pengisian anggota legislatif. Seperti kita ketahui thn 2017 DPR adalah lembaga terkorup, entah thn 2018 karena belum ada release, apa karena tidak di release lagi, sehingga masyarakat buta informasi atas kinerja lembaga negara, mana yang digdaya, mana yang cuma tidur, mendengkur, hanya kantongnya yang diukur. Balik modal atau masih BEP.

Dalam release IPK 2018 pada 29 Jan 2019, David Aled Williams, Penasihat Senior di U4 Pusat Sumber Daya Anti Korupsi, sebagaimana dikutip South China Morning Post, bahwa KPK Indonesia dinilai sebagai salah satu badan dengan kinerja terbaik di kawasan. KPK sangat berhasil mengejar para pejabat korup di Indonesia. Apakah dengan sistim penyadapan yang harus melapor kepada pengawas masih effektif atau tidak, kita tunggu hasilnya, karena kinerja lembaga ini dinilai oleh lembaga pemerhati dunia dimana hasilnya bukan rekayasa tapi fakta, bukan kata kita.

Baca: Iyyas Subiakto: Jokowi Diserang Oposisi “Rakus”

Mari kita tunggu hasilnya, kita tidak bisa cuma mereka-reka, dan jangan lupa semua output yang kita terima adalah hasil dari pembentukan akhlak yang salah pasak, sehingga melihat uang selalu dengan paradigma uangku adalah uangku, dan uangmu adalah uangku, sehinga selalu lupa bahwa perbuatan mengambil yang bukan haknya adalah perbuatan tercela.

KPK masih koma,,,, belum titik. Kita masih ada harapan minimal naik ranking, bukan terguling. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: