News Ticker

Fenomena Polisi dan TNI Hijrah Dikomentari Mantan Teroris

Polri Cinta Sunnah Polri Cinta Sunnah

Arrahmahnews.com, Jakarta – Radikalisasi terjadi di semua lini. Benar-benar tidak ada yang steril. Setiap hari mata kita dibikin terbelalak, dengan fenomena-fenomena baru, masifnya radikalisme. Ketika Menteri Pertahanan menyatakan bahwa 3% TNI terpapar radikalisme, kita semua kaget, ternyata radikalisme sudah menembus benteng terakhir pertahanan NKRI. Belum selesai kekagetan kita, disusul munculnya riak-riak radikalisasi di tubuh Polri, dengan munculnya komunitas Polri Cinta Sunah, Polisi Mengaji, Bhayangkari Hijrah, dst.

Secara istilah, hijrah memang baik. Sayangnya hijrah yang selama ini nge-trend justru yang mengarah pada radikalisme, sehingga hijrahnya “Dari nakal, menuju radikal”. Dan yang sampai sekarang belum ketemu jawabannya, faktor apa yang membuat TNI-Polri bisa teradikalisasi.

Baca: WASPADA! Inilah 13 Strategi Jitu Sukses Kelompok Khilafah dan Wahabi

Karena watak dasar kedua institusi tersebut, dengan Salafi-Wahabi, Jihadis, Ikhwanul Muslimin dan HTI jelas sangat bertolak belakang. Satu nasionalis dan satunya transnasional. Maka ketika ada polisi atau tentara bergabung dengan Wahabi dan sejenisnya, kemungkinannya hanya satu: nasionalismenya hilang atau ideologi transnasionalnya yang KW.

Baik Wahabi, IM, dan HTI ideologinya mirip-mirip, ketemu dalam hal sama-sama menolak budaya, adat, dan tradisi, karena itu semua dianggap kreasi manusia (ro’yu). Tolak ukur boleh tidaknya perbuatan adalah amalan Sunnah atau bukan.

Baca: Media dan Medsos Senjata Perang AS-Barat-Teroris Hancurkan Sebuah Negara

Konsekuensinya, upacara bendera, doa bersama dengan agama lain, dan ritual lainnya, yang tidak termasuk Sunnah, adalah bid’ah, fasiq, dan kafir. Bayangkan, apa jadinya jika ideologi semacam itu yang diyakini oleh anggota polisi atau tentara.

Baca: Kupas Tuntas Fenomena #Hijrah Berjamaah

Saran dari saya, Sofyan Tsauri, selaku mantan teroris, agar Polri dan TNI mencari ormas atau kelompok keagamaan yang terbukti NKRI. Yang menyadari bahwa NKRI adalah bumi sujud kita. Kesalehan itu baik, penyalurannyapun harus baik dalam bingkai agama yang berwawasan kebangsaan. Jangan yang melawan negara. Jangan sampai salah mencari guru/ustadz, karena akibatnya akan menyesal di kemudian hari, ya seperti saya ini, Sofyan Tsauri, yang pernah jatuh dalam kubangan hitam radikalisme!. (ARN)

Dinarasikan ulang oleh: Abu Sa’id al-Arkhabili

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: