News Ticker

Dahono Prasetyo: Asap Karhutla Beraroma Dendam Pilpres?

Jokowi pantau Karhutla Jokowi pantau Karhutla

Arrahmahnews.com, Jakarta – Pegiat medsos Dahono Prasetyo dalam akun facebooknya membuat sebuah analisa dengan judul “Asap Karhutla Beraroma Dendam Pilpres?”.

Judul di atas hanya sebuah pertanyaan, bukan tuduhan kecuali bagi yang mau menganut logika “cucoklogi”. Saya pribadi lebih memilih menyampaikan fakta perkembangan pembakaran hutan (bukan kebakaran hutan) di kawasan lahan gambut Riau.

Baca: Ahli IPB: Hanya di Era Jokowi Kebakaran Hutan dan Lahan Ditangani Serius

Di Propinsi yang kaya akan hasil SDA, khususnya perkebunan, proses pembukaan lahan baru dengan cara membakar sudah menjadi tradisi turun-temurun sejak jaman orba. Kebiasaan buruk yang berubah menjadi tradisi secara tidak langsung menyertakan campur tangan aparat setempat yang semakin diuntungkan saat terjadi pembukaan lahan baru. Pemda Riau menjadi kepanjangan tangan sekaligus pelindung gurita pengusaha perkebunan yang berjamur memenuhi lahan lahan gambut.

Pemda yang berkolaborasi dengan Kota, Kabupaten, kecamatan hingga desa, mustahil tidak tahu menahu urusan pembakaran. Siapa pelakunya, perusahaannya hingga kapan musim bakar-bakaran tiba ada di laci meja birokrat Riau. Celakanya jadwal pembakaran selalu tak terorganisir dengan baik. Di puncak musim kemarau nyaris semua kabupaten berebut menyulut api. Dan saat asap ratusan asap bersatu membentuk awan putih hingga ke negara tetangga, maka masing-masing sibuk saling tuding.

Baca: Ninoy Karundeng: Gus Dur dan Jokowi Ksatria Papua

Secara tegas Pemerintah Pusat sudah melarang proses pembukaan lahan dengan cara membakar. Jokowilah Presiden paling galak untuk urusan dampak asap dibanding beberapa Presiden sebelumnya. Beberapa kartel sawit dicabut ijin usahanya setelah terbukti melakukan pembakaran. Dan seperti yang biasa terjadi, ketegasan Jokowi berbuah perlawanan yang sistematis.

Pilpres 2019 Jokowi kalah di Riau. Beberapa kepala daerah bukan berasal dari partai pendukung Petahana. Pekanbaru sebagai ibukota dikuasai pendukung anti Jokowi. Dan seperti yang kita nikmati beritanya menjelang pelantikan Jokowi, aksi bakar-bakaran yang beberapa tahun lalu diusut ternyata tidak membuat mereka jera apalagi takut. Mereka para cukong sawit yang bermain mata dengan aparat setempat sepakat menciptakan kabut asap, seolah berkata: “Kami tidak takut Jokowi!!”.

Baca: Iyyas Subiakto: Jokowi Diserang Oposisi “Rakus”

Korban berjatuhan bukan dari kami yang sedang asik bikin postingan medsos di Jawa, tetap anak cucu kerabat saudara mereka sendiri. Yang masih ingin hidup sehat layaknya manusia butuh bernafas oksigen, bukan karbondioksida.

Mereka yang gegara sakit hati kepada Jokowi, tega membunuh warganya sendiri dengan perlahan-lahan. Mereka yang sakit hati kini berangsur-angsur berubah sakit jiwa. Itulah nurani yang sudah mati!!!. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: