News Ticker

Dina Sulaeman Jawab Cerita “Sesat” Abu Janda Soal Konflik Palestina-Israel

Bung Karno dan Jokowi Bela Palestina Bung Karno dan Jokowi Bela Palestina

Arrahmahnews.com, Jakarta – Vlogger Permadi Arya alias Abu Janda yang saat ini mengunjungi Israel dan Palestina, dia menceritakan perjalanannya disana, namun apa yang dijelaskan olehnya tidak sepenuhnya benar, konflik Palestina-Israel bukan konflik sesaat tapi sudah sejak lama sekali, tidak bisa jadi acuan perjalanan Abu Janda yang sesaat jadi referensi terkait masalah Palestina-Israel, inilah Cerita “Sesat” Abu Janda Soal Palestina-Israel.

Sungguh penghinaan intelektual yang kurang ajar bagi bangsa ini. Siapa yang membela Palestina atas dasar kebencian pada Yahudi (selain segelintir radikalis, yang jangankan Yahudi, sesama Muslim saja mereka benci kalau tidak segolongan)? Apa dia pikir para presiden Indonesia sejak zaman Bung Karno hingga Jokowi yang selalu konsisten memperjuangkan kemerdekaan Palestina adalah orang-orang rasis pembenci Yahudi dan pro “teroris”? Apa dia pikir kyai-kyai NU yang sejak 1938 telah konsisten mendukung perjuangan Palestina adalah kyai rasis?

Berikut ulasan menarik pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman dalam akun facebooknya yang menceritakan bagaimana “Kisah Para Pemuda Yahudi yang Menolak Disuap Tiket Gratis”, sebuah “tamparan” pedas untuk Abu Janda.

Baca: PM Malaysia: Terorisme Dunia akan Berakhir Jika Kita Hentikan Ketidakadilan Israel atas Palestina

Menurut Dina, sejak tahun 1999, kelompok Zionis Amerika Serikat mendirikan sebuah yayasan yang memberikan “hadiah” (gift, istilah mereka) kepada kaum muda Yahudi dari berbagai negara yang berusia 18-32 tahun untuk jalan-jalan gratis ke Israel selama 10 hari. Menurut situsnya, program yang diberi nama “Birthright Israel” ini bertujuan untuk “memperkuat identitas Yahudi, komunitas Yahudi, dan hubungan dengan Israel”.

Namun akhir-akhir ini, seiring dengan era keterbukaan informasi, semakin banyak kaum muda Yahudi yang kritis. Kelompok aktivis Yahudi-Amerika anti pendudukan Israel atas Palestina bernama “IfNotNow” mengecam program Birthright Israel dan menulis di web mereka:

Musim panas ini, diperkirakan 40.000 pemuda Yahudi-Amerika akan memulai perjalanan ke Israel yang dipimpin oleh Taglit-Birthright. Mengikuti Birthright telah dipandang sebagai ritual dalam perjalanan kehidupan orang Yahudi. Tetapi kita tidak bisa lagi membiarkan sebuah perjalanan gratis yang menyembunyikan kebenaran tentang pendudukan menjadi identik dengan ‘menjadi pemuda Yahudi-Amerika’. Kami mendesak Taglit-Birthright untuk mengatakan yang sebenarnya tentang pendudukan Israel kepada puluhan ribu pemuda Yahudi-Amerika yang akan berpartisipasi dalam program ini.

Pada 15 Juli 2018, ada 8 peserta program Birthright yang nekad memisahkan diri dari rombongan, karena ingin melihat langsung kondisi di kawasan pendudukan.

Baca: Dina Sulaeman: Menolak Buta Sejarah: Palestina 1896

Mereka menyiarkan aksi mereka live di facebook. Mereka (dengan didampingi oleh aktivis Yahudi Israel pembela Palestina) mengunjungi kawasan Silwan (Yerusalem). Di sana, semula ada ratusan rumah warga Palestina, lalu mereka diusir dan kawasan itu dijadikan perumahan orang Yahudi. Ada satu keluarga yang masih bertahan, keluarga Sumreen.

Para pemuda Yahudi-Amerika ini datang menemui keluarga itu. Keluarga Sumreen menyambut dengan tangan terbuka dan senyuman, meski mereka tahu bahwa rombongan yang datang itu adalah orang-orang Yahudi. Keluarga Sumreen menceritakan betapa selama 27 tahun lebih mereka diintimidasi, dipaksa angkat kaki dari rumah mereka.

Di video, pada jam 1:20 dst, ada seorang anak muda Yahudi berkata bahwa ia awalnya gemetar dan takut saat meninggalkan rombongan, tapi setelah bertemu dengan keluarga Sumreen dan mengetahui betapa beratnya kehidupan di tengah penjajahan, ketakutan itu hilang.

Pada 23 Desember 2018, ada 3 peserta Birthright (bernama Ben, Emily, Shira) yang dipulangkan paksa hanya karena bertanya soal Tembok Pemisah Israel.

Ben bercerita di Twitternya bahwa setiap kali pemandu bicara soal Palestina, selalu saja isinya: orang Palestina adalah pembunuh dan mereka membunuhi Yahudi demi kesenangan belaka.

Lalu, temannya, Emily (setelah bis mereka 4 kali melewati Tembok Pemisah Israel tanpa sekalipun pemandu wisata memberitahukan itu tembok apa) bertanya, “Apakah itu tembok pemisah Israel?”

Si pemandu berkata ‘ya’ lalu melanjutkan dengan cerita soal bom bunuh diri orang Palestina. Ketika Emily dan Ben bertanya, apakah mereka bisa bertemu dengan orang Palestina atau aktivis pembela hak Palestina, dijawab ‘tidak bisa’.

Baca: Pengamat: Kesetian Indonesia dan Jokowi ke Palestina

Lalu tiba-tiba, di sebuah tempat pemberhentian, Emily, Ben, dan Shira digiring keluar dari kelompok dan dipaksa masuk ke mobil untuk langsung menuju bandara. Dengan kata lain, mereka dipulangkan. Kalau tidak mau pulang saat itu juga, mereka tidak akan diberi tiket pulang.

Ben menulis, “Meminta agar pemuda Yahudi diam dan tidak menyuarakan nilai-nilai yang diyakininya, dengan diberi tiket pesawat, bukanlah hadiah, melainkan penyuapan. Orang-orang seperti Sheldon Adelson (Yahudi AS pengusaha kasino/judi), donatur terbesar Birthright Israel dan Trump, ingin ‘membeli’ generasi kita dengan tiket pesawat. No thanks.”

Sementara Shira menulis di Facebooknya, “Saya sangat terpukul dengan kebijakan Trump tentang pemisahan keluarga, penahanan anak-anak, dan pembangunan tembok di perbatasan AS-Meksiko karena itu bertentangan dengan semua nilai yang diajarkan kepada saya di komunitas Yahudi saya; ibu saya adalah seorang Rabi. Sulit diterima bahwa saya diminta untuk tetap diam ketika melihat hal yang sama terjadi di Israel. Jelas ini adalah suap, bukan hadiah”.

Shira menulis tagar: omong kosong jalan-jalan gratis; ini bukan jalan-jalan gratis:

(#NoSuchThingAsAFreeTrip #NotJustAFreeTrip)

Sungguh membanggakan anak-anak muda Yahudi AS ini. Mereka kritis dan memegang teguh nilai kemanusiaan yang secara fitrah ada di kalbu setiap manusia, apapun rasnya.

Sungguh beda kelas mereka dengan seleb facebook kampung asal Indonesia, yang dengan diberi tiket gratis jalan-jalan ke Israel langsung ternganga-nganga melihat kemegahan Israel dan lupa bahwa semua itu dibangun di atas puing-puing tanah, rumah, dan kebun zaitun orang-orang Palestina.

Bila para pemuda Yahudi-Amerika itu dengan kepala tegak pulang ke negeri mereka demi mempertahankan nurani; si seleb keluyuran sana-sini di Israel sambil membuat vlog yang isinya menjilat Israel dan menceramahi kita orang Indonesia bahwa “ini bukan perang agama Yahudi vs Islam; tentara Israel sedang memerangi teroris Palestina; jangan benci sama Yahudi.”.

Baca: Sikap Jokowi Soal Yerusalem: Kita Konsisten Bersama Palestina

Sungguh penghinaan intelektual yang kurang ajar bagi bangsa ini. Siapa yang membela Palestina atas dasar kebencian pada Yahudi (selain segelintir radikalis, yang jangankan Yahudi, sesama Muslim saja mereka benci kalau tidak segolongan)? Apa dia pikir para presiden Indonesia sejak zaman Bung Karno hingga Jokowi yang selalu konsisten memperjuangkan kemerdekaan Palestina adalah orang-orang rasis pembenci Yahudi dan pro “teroris”? Apa dia pikir kyai-kyai NU yang sejak 1938 telah konsisten mendukung perjuangan Palestina adalah kyai rasis?.

Apa Bu Menlu Retno yang gigih memperjuangkan kemerdekaan Palestina lewat jalur diplomatik selama lima tahun terakhir ini adalah perempuan rasis pembenci Yahudi?.

Semoga kaum muda Indonesia bisa berpikir jernih dan kritis seperti Ben, Emily, Shira, dll, yang tak sudi dibeli kemanusiaannya dengan harga murah, seharga tiket gratis ke Israel. (ARN)

Iklan
  • Geger kubu Prabowo
  • KPK dan DPR
  • Kominfo
  • Konpres Reuni Akbar 212
  • Menristekdikti

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: