News Ticker

Ninoy Karundeng: Kolaborasi Kelompok Khilafah dan Radikal Otak Dibalik Demo Revisi UU KPK Untuk Serang Jokowi

  • Purwaji, Ketua GP Ansor Riau
  • Makar Sri Bintang Pamungkas
  • Presiden Prancis
  • UNICEF
  • Timur Tengah
  • Serigala berbulu domba
  • Pertemuan di Astana
  • Zarif, Menlu Iran
Revisi UU KPK Revisi UU KPK

Arrahmahnews.com, Jakarta – Kelompok Khilafah dan Radikal tak henti-hentinya menyerang Jokowi dari segala lini, mereka mencari celah dengan cara apapun untuk menggerus wibawa Jokowi dan pemerintah, kasus Revisi UU KPK salah satunya yang menjadi tunggangan mereka saat ini, seperti ulasan pegiat medsos Ninoy Karundeng dalam akun facebooknya.

Tak salah jika Jokowi dan orang waras memilih revisi UU KPK. Namun, kini isu demo menolak revisi UU KPK justru menyasar Jokowi. Padahal, bukan hanya buya Syafii Ma’arif yang melihat KPK bukan Dewa Suci. Ya. KPK wajib dibela sebagai institusi. Bukan para individu seperti Novel dan Yudi Purnomo. Namun, ini dipelintir dan Jokowi menjadi target demo menunggangi isu KPK.

 
Baca: Eko Kuntadhi: Lawan Politik Serang Jokowi dari Segala Penjuru

Wajah KPK muncul dengan jidat nyaris gosong Yudi Purnomo. Juga jenggot panjang Novel. Atau para celana cingkrang di sana? Mereka menjadi bagian yang menggerakkan demo. Provokasi menolak pimpinan KPK yang baru.

Apa latar belakang reaksi penolakan mereka? Kenapa? Ternyata. Ada yang menarik dari UU KPK yang baru – selain Firli dan kawan-kawan. Ketentuan yang bisa bikin Novel terbuang dari KPK. Juga Pimpinan bernama Firli Bahuri yang ditolak bisa bikin mereka terbuang. Selain ketentuan pasal tentang ASN bagi karyawan KPK.

Publik banyak yang terkecoh. Aksi Yudi, Novel dan Saut serta beberapa lainnya sungguh menggelikan. Kayak tidak paham hukum. Mana ada mandat KPK dikasih ke Presiden Jokowi. Bisanya? Mundur tuh pimpinan KPK. Bukan minta belas kasihan ke Netizen. Playing victim.

Baca: Ninoy Karundeng: Agama Senjata Khilafah Acak-acak Indonesia

Demo KPK Panggung Kadal Gurun

Akhirnya, narasi menolak revisi UU KPK mendapat sambutan. Bekas Monaslimin 212, Cingkrang, Kadal Gurun, Khilafah, mendapat panggung. Senang. Menyambut. Yang ingin kisruh terus. Pas. Selepas keok di Pilpres 2019, para Bigot di KPK, dan di luar, semua bergerak serentak.

Bagi yang berwarna abu-abu lain lagi sikap mereka. Mau tahu perut kegiatan karyawan KPK dibuka? Majalah dinding KPK isinya kajian agama. (Sekarang sudah dihapus/dibuang) Jadwal kegiatan mirip pendalaman keagamaan. Yang ngisi? Provokator pendorong kebencian: Tengku Zul. Targetnya adalah membangun radikalisme di KPK.

Apa hubungan bahaya radikalisme dan kebebasan menyadap? Untuk penyadapan, tidak adanya kontrol dan audit penggunaannya. Tidak ada yang mengawasi. Melihat orang KPK seperti Yudi dan Novel jelas orang waras akan was-was melihat KPK. Serem. Maka perlu pengawas.

Dari segi penegakan hukum, dengan wewenang penyadapan tanpa batas saja KPK tidak mampu maksimal bekerja. Kenapa? Hak hebat dan alat penyadapan canggih tidak mendukung pemanfaatan untuk bekerja mencokok koruptor.

KPK menetapkan tersangka didasari pada nafsu – bukan bukti fakta hukum. Contoh yang sampai meninggal jadi tersangka Jeffrey Tongas Lumban Batu. Lalu RJ Lino masih hidup juga terkatung. Kengawuran dan kecerobohan sengaja KPK menetapkan tersangka. Karena KPK memainkan jurus bego hukum pada Hadi Poernomo misalnya: KPK keok di praperadilan.

Karena catatan tersebut penyadapan perlu diawasi. Diaudit. Dilaporkan. Nah, di situlah perlunya Dewan Pengawas. Agar tidak kebablasan. Karena sampai saat ini OTT (Operasi Tangkap Tangan) hanya kelas teri yang bisa disikat KPK. Lah, yang besar? BLBI? Hambalang? Bank Century? Mana?

Baca: Ninoy Karundeng: Jokowi Bapak Rakyat dan Pelindung Pancasila

UU KPK Singkirkan Novel, Firli Buang Yudi Purnomo

Kini, isu KPK ini menjadi bagian dari pergerakan kelanjutan untuk menggoyang Jokowi. Diawali dari dalam KPK – yang bahkan tersebar di medsos, aktivitas karyawan di Kantor KPK memersiapkan bahan buat demo-demo. Aneh. Urusan pekerjaan disingkirkan demi demo-demo. Pun Pimpinan KPK ikut bertekuuk lutut seirama dengan sebagian Wadah Karyawan KPK pimpinan Yudi, dan kekuatan Novel yang mengakar di sana.

Dari sana, maka ‘isu asyik’ revisi UU KPK untuk menyerang Jokowi – setelah vakum dan tidak ada yang hot. Ini pun setelah kegagalan mengerek isu Papua, kerusuhan Papua. Kini, kembali para bohir kerusuhan bergerak untuk menghantam Jokowi.

Baca: Ninoy Karundeng Bongkar Alur Makar Gerombolan Pengkhianat NKRI dalam Kerusuhan 22 Mei

Nah, revisi UU KPK ini menakutkan KPK. Karena UU KPK hasil revisi akan menghantam langsung misalnya Novel dan karyawan KPK. Karena sebagai lembaga eksekutif para karyawan KPK harus menjadi bagian dari ASN. Ada ketentuan ASN soal umur. Maka akan ada pembersihan di KPK. Jelas ini menyentak. Protes. Tentu.

Khusus untuk Novel. Ketentuan penyidik harus sehat jasmani dan rohani dengan sendirinya akan menyingkirkannya dari KPK. Tak sehat jasmaninya. Maka dia harus out. Tak mengherankan gerakan menolak revisi UU KPK menjadi masif. Karena sinyalemen ditunggangi oleh kepentingan kaum radikal sangat kuat. Kini para mahasiswa palsu, pengikut khilafah, HTI, dan Kadal Gurun juga ikut demo. Bohir demo juga bergerak. Target? Jokowi! (ARN)

Iklan
  • HTI Benalu Indonesia
  • Pawai Khilafah
  • Politik
  • Menag Lukman Hakim Saifuddin dan Habaib
  • Kerusuhan 22 Mei
  • Muljamisme Ideologi Horor dalam Islam

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: