News Ticker

Serangan Yaman Bukti Saudi Sia-siakan Miliaran Dolar untuk Belanja Sistem Perlindungan AS

Rudal Patriot 2 Rudal Patriot 2

Arrahmahnews.com, Arab Saudi  Pasukan militer Amerika dan Saudi serta jaringan pertahanan udara canggih mereka tidak pernah mendeteksi drone-drone Yaman yang diluncurkan pada hari Sabtu lalu untuk menyerang fasilitas minyak yang berada jauh di dalam Arab Saudi, membuktikan bahwa miliaran dolar yang telah dikeluarkan oleh rezim Riyadh untuk melindungi diri hanya sia-sia belaka.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, yang berada di Arab Saudi untuk membahas kemungkinan tanggapan terhadap serangan dengan Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman, pada Hari Rabu, mengakui bahwa sistem pertahanan rudal AS telah gagal menghentikan serangan.

“Kami ingin memastikan bahwa infrastruktur dan sumber daya diberlakukan sedemikian rupa sehingga serangan seperti ini akan kurang berhasil daripada yang sekarang terlihat,” katanya, ketika ditanya mengapa sistem rudal Patriot yang digunakan di seluruh kerajaan tidak bereaksi apa pun untuk menghentikan drone-drone Yaman itu.

Baca: Saudi Gagal Hentikan Serangan Drone Yaman Meskipun Punya Rudal Patriot

Pompeo sendiri terdengar terkejut oleh luasnya operasi, mengatakan: “Ini adalah serangan skala yang belum pernah kita lihat sebelumnya.”

Arab Saudi telah membeli banyak baterai sistem rudal Patriot yang dimaksudkan untuk menembak jatuh pesawat yang bermusuhan atau rudal balistik jarak pendek, memberikan apa yang dalam istilah militer disebut “pertahanan titik,” yang berarti mereka tidak cocok untuk menutupi bidang tanah yang luas. Belum jelas apakah ada di antara mereka (rudal patriot) yang diposisikan dekat dengan lokasi minyak pada saat serangan.

Menurut The Washington Post, pembuat senjata AS Raytheon mengenakan biaya hingga 1 miliar dolar untuk setiap baterai Patriot yang dibeli Saudi.

Baca: Pentagon: AS Kirim Kapal Serbu dan Baterai Rudal Patriot ke Timur Tengah

AS juga menggunakan berbagai satelit mata-mata yang kuat dan pesawat terbang di wilayah tersebut untuk mengumpulkan intelijen dan membaginya dengan militer Saudi guna membantu kerajaan dalam perang berkelanjutan melawan Yaman. Sistem itu, bagaimanapun, terbukti sia-sia disaat mereka paling dibutuhkan.

“Kami tidak memiliki mata yang tidak pernah berkedip di seluruh Timur Tengah setiap saat,” ujar Jenderal Marinir Joseph Dunford, ketua Kepala Staf Gabungan, mengatakan kepada wartawan setelah serangan itu.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyoroti kegagalan total sistem pertahanan AS selama perjalanannya baru-baru ini ke ibu kota Turki, Ankara.

Baca: Amerika Aktor Utama Perang Yaman

Pada Hari Senin, di samping rekan-rekan Turki dan Iran-nya, Recep Tayyip Erdogan dan Hassan Rouhani, Putin dengan mengejek menyarankan bahwa mungkin orang-orang Saudi akan lebih baik membeli sistem pertahanan rudal S-300 atau S-400 buatan Rusia, seperti yang dilakukan Iran dan Turki.

“Dan mereka [Saudi] perlu membuat satu keputusan cerdas seperti yang dilakukan Iran, membeli S-300 kami, dan seperti yang dilakukan oleh Erdogan dengan memutuskan untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 Triumph tercanggih dari Rusia,” lanjut Putin disambut senyum Rouhani dan tawa kecil sejumlah hadirin. “Sistem semacam ini mampu mempertahankan segala jenis infrastruktur di Arab Saudi dari segala jenis serangan,” lanjutnya.

Iran, sendiri, telah mengembangkan sistem pertahanan rudal yang jauh lebih unggul dari S-300, dengan sebuah pencapaian yang paling baik ditunjukkan pada bulan Juni melalui ditembak jatuhnya pesawat tak berawak AS yang tersembunyi di atas Teluk Persia menggunakan sistem rudal Khordad 3 buatan dalam negeri. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: