NewsTicker

Rakyat Suriah Tolak Perjanjian AS-Turki Tentang Zona Aman di Perbatasan

DAMASKUS – Warga Timur Suriah marah atas perjanjian baru antara Washington dan Ankara tentang pembentukan zona aman di Suriah Utara, karena penentangan terhadap kehadiran pasukan pendudukan telah meningkat, kata media berbahasa Arab.

Surat kabar al-Akhbar yang berbasis di Beirut melaporkan bahwa banyak penduduk daerah Suriah yang berbatasan dengan Turki mulai menyuarakan protes keras terhadap penciptaan zona aman oleh AS dan Turki di Timur Laut Suriah.

Harian itu menyebutkan keprihatinan rakyat Suriah atas kemungkinan pendudukan wilayah-wilayah ini oleh Angkatan Darat Turki dan militan sekutunya di Timur Laut Suriah, termasuk Afrin (di provinsi Aleppo).

Al-Akhbar juga melaporkan ancaman baru Ankara untuk melaksanakan operasi militer di Timur Laut Suriah, jika perjanjian zona aman tidak dilaksanakan.

BacaLaporan: Rusia Blokir Serangan Israel ke Suriah.

Sementara itu, penduduk kota Aleppo mengadakan demonstrasi besar-besaran menentang campur tangan AS dan Turki dalam urusan internal Suriah, dan menyerukan agar pasukan pendudukan keluar dari Suriah.

Dalam perkembangan yang relevan pada awal September, seorang ahli Rusia mengatakan bahwa AS menipu Turki dengan menciptakan zona aman di Timur Laut Suriah.

“Washington akan terus berbohong kepada Turki tentang pengaturan zona demiliterisasi di Timur Laut Suriah, dan itu akan terus menunda masalah zona aman di sana,” jaringan televisi Russia Today mengutip Ahli Rusia, Institut Studi Timur Rusia, Amour Jadjif mengatakan.

Dia menekankan bahwa mengadakan patroli bersama dengan AS bukan merupakan pencapaian bagi Turki, sejauh menyangkut pengaturan zona aman karena patroli ini hanya dilakukan di beberapa wilayah.

“Kebijakan Turki vis-a-vis dengan para pengungsi Suriah dan upayanya untuk menggunakannya sebagai pengaruh terhadap AS tidak akan berhasil dan hanya menimbulkan kekhawatiran di antara negara-negara UE,” tambah pakar Rusia itu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan baru-baru ini mengklaim bahwa Ankara bertekad untuk menciptakan zona aman di Eufrat Timur dan Suriah Utara pada bulan September.

Pasukan penjajah Turki juga telah melintasi perbatasan Suriah dan tiba di bagian timur kota perbatasan Tal Abyaz, Raqqa Utara, dengan menggunakan penyeberangan kota al-Izzawi dan dengan dalih melakukan patroli bersama dengan pasukan pendudukan AS.

Dalam perkembangan lain yang relevan pada bulan September, outlet media al-Watan mengatakan bahwa pemerintah Turki telah menyerukan untuk memperpanjang gencatan senjata sampai KTT Ankara-Moskow-Teheran mendatang meskipun kurangnya komitmen yang ditunjukkan oleh Turki pada janjinya untuk mendorong kembali kelompok-kelompok teroris dari zona demiliterisasi.

Surat kabar Al-Watan mengutip sumber medan perang yang mengatakan bahwa kelompok-kelompok teroris, termasuk Tahrir al-Sham al-Hay’at (Dewan Pembebasan Levant atau Jabhat Al-Nusra), belum mundur dari zona demiliterisasi dan terus melanggar gencatan senjata meskipun janji yang diberikan oleh Turki ke Rusia dan berakhirnya tenggat waktu delapan hari. [ARN]

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: