NewsTicker

The Guardian: Saudi Bergantung pada AS untuk Perangi Iran

Konflik Yaman Konflik Yaman

Arrahmahnews.com, Arab Saudi  Dalam kolom opininya pada hari Minggu (22/09), editor the Guardian, Nisreen Malik, menulis sebuah artikel tentang Arab Saudi yang dimulai dengan lelucon sinis sebagai berikut: Ada lelucon yang sudah lama diceritakan di Timur Tengah tentang keengganan Arab Saudi untuk berperang dalam perangnya sendiri yang berbunyi begini, “Arab Saudi akan bertarung sampai orang Pakistan terakhir”, merujuk pada fakta bahwa pasukan Pakistan telah lama menjadi tentara bayaran dalam militer Saudi.

Selalu ada negara miskin yang siap mengirim umpan meriam dengan harga yang tepat. Agresi militer ke Yaman yang dilakukan oleh “koalisi Arab” sebagian besar dilakukan oleh sejumlah tentara bayaran yang direkrut dari negara-negara miskin di beberapa negara Asia dan Afrika seperti Sudan dimana bahkan melibatkan prajurit anak-anak, yang kematiannya dibayar mahal dengan uang tunai yang dibayarkan kepada keluarga mereka di rumah.

Baca: Houthi ke Saudi: Terima Inisiatif Penghentian Serangan atau Konsekuensinya akan Lebih Menyakitkan

Ketika ditanya seperti apa pertempuran di Yaman di bawah komando Saudi, beberapa tentara Sudan yang kembali mengatakan bahwa para pemimpin militer Saudi, merasa diri mereka terlalu berharga untuk maju terlalu dekat dengan garis depan. Jika keadaan dianggap terlalu berbahaya, Saudi dan angkatan udara koalisi akan menjatuhkan bom dari pesawat yang terbang terlalu tinggi sehingga meningkatkan korban sipil. Beginilah cara Saudi berjuang: sejauh mungkin dari medan perang atau membayar orang lain saja untuk mati.

Ini sangan menggelikan, jika akibat serangan pekan lalu terhadap dua fasilitas minyak Saudi, kemudian muncul begitu banyak spekulasi tentang akan pecah perang antara Saudi dan Iran. Saudi tidak “akan berperang”: mereka hanya akan memperkejakan proksi-proksinya, dan bergantung pada kenaifan Amerika Serikat untuk melanjutkan kebohongan bahwa mereka adalah penjaga perdamaian regional, dan bahwa segala ancaman terhadap negara itu menimbulkan ketidakstabilan di kawasan.

Baca: Sekjen Hizbullah: Kerajaan Saudi Berada di Fase Akhir Kehidupannya

AS dan Arab Saudi telah berulang kali menuduh Iran berada di balik serangan, yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Yaman.

Pertanyaannya, “Mengapa sebuah negara yang merupakan importir senjata terbesar di dunia dari 2014 hingga 2018, menurut sebuah laporan oleh Stockholm International Peace Research Institute, membutuhkan banyak bantuan?”

Pada tahun 2018, AS menyediakan 88% dari semua persenjataan yang dijual ke Riyadh. Pada akhir 2018, Saudi bertanggung jawab atas 12% pembelian senjata global. Jelas seharusnya Saudi tidak butuh lebih banyak lagi senjata AS untuk mempertahankannya terhadap serangan drone.

Sebenarnya, Pembelian senjata senilai multi-juta dolar ini hanya demi memelihara hubungan komersial dengan sekutu barat yang darinya mereka mengimpor senjata, dan sebaliknya agar negara yang senjatanya diborong itu menutup mata terhadap, pembunuhan, penculikan, dan pelanggaran hak asasi manusia Saudi, karena terlalu banyak uang yang dipertaruhkan. Seluruh model kebijakan luar negeri Arab Saudi didasarkan pada penggunaan kekayaannya untuk membeli teman dan membuat mereka tetap diam.

Baca: Ribuan Rakyat Yaman Peringati Ulang Tahun Revolusi yang Kelima

Dan karena itu Saudi harus terus mempermainkan ketakutan AS tentang Iran, Saudi terus mengguncang kawasan itu dengan ikut campur dalam urusan internal negara-negara Arab lainnya, menyerahkan senjata kepada kediktatoran lain di Timur Tengah dan Afrika Utara, dan meluncurkan intimidasi media sosial yang agresif serta kampanye disinformasi.

Menjadi provokator hingga ke tingkat ekstrem, tapi menyadari bahwa mereka tidak sanggup menerima konsekuensinya, Saudi saat ini tekunci dalam meningkatnya konflik dengan Iran, Qatar dan Yaman, menopang rezim militer di Sudan dan Mesir, serta secara acak campur tangan di Lebanon. “Saudi tidak akan berperang dengan Iran, tetapi AS dapat melakukannya atas namanya. Sementara itu, Saudi dipandang, seperti biasa, provokator Timur Tengah yang dimanja dan tidak dihukum,”. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: