Amerika

Qatar dan Mesir Saling Tuding Soal Libya di Majelis Umum PBB

NEW YORK – Para pemimpin Mesir dan Qatar saling lempar tuduhan mendukung kelompok-kelompok saingan di Libya, selama pidato mereka di Majelis Umum PBB.

Berbicara kepada para delegasi dan para pemimpin dunia di Majelis Umum PBB, New York pada hari Selasa, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi meminta semua negara untuk membantu menghentikan konflik di Libya.

Libya telah diganggu oleh kekacauan sejak 2011, ketika intervensi NATO dalam pemberontakan populer di negara itu menyebabkan penggulingan Muammar Gaddafi dan eksekusi oleh para ekstrimis. Sejak itu, Libya dibagi antara dua kubu saingan, satu terletak di timur dan yang lainnya di barat negara itu dan masing-masing didukung oleh sejumlah milisi.

Pemerintah el-Sisi, bersama dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi, mendukung jenderal pembangkang Khalifa Haftar dari kamp timur, bertentangan dengan pemerintah yang diakui oleh internasional di bagain barat negara itu.

BacaRouhani: Kekuatan Militer AS Dipermalukan oleh Yaman.

Terlepas dari dukungan itu, Sisi mengatakan dalam pidatonya di PBB bahwa para pemimpin dunia perlu “mencegah intervensi aktor-aktor eksternal dalam urusan internal Libya.”

“Konflik ini perlu dihentikan,” kata Sisi. “Sudah saatnya untuk mengambil sikap tegas untuk mengatasi akar penyebab krisis Libya secara komprehensif, dan [itu] dapat dicapai dengan berkomitmen penuh pada rencana PBB.”

Dia mencatat pentingnya “mengidentifikasi semua institusi nasional untuk menyelamatkan tetangga tercinta kita dari kekacauan yang terjadi oleh milisi.”

Berbicara di Majelis Umum PBB pada hari yang sama, Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani mengatakan, “Negara-negara tertentu … mendukung panglima perang dan milisi teroris untuk kepentingan sempit mereka melawan pemerintah yang sah” di Libya.

Dia juga menuduh milisi Haftar melakukan kejahatan perang dengan impunitas dan dengan dukungan negara-negara yang melemahkan pemerintah Libya yang diakui secara internasional.

“Operasi militer terbaru [oleh Haftar] di ibukota, Tripoli, telah menggagalkan penyelenggaraan konferensi nasional Libya yang komprehensif,” katanya, merujuk pada upaya perdamaian yang diperantarai oleh PBB.

Bulan lalu, Utusan Libya di PBB Ghassan Salame meluncurkan rencana untuk konferensi internasional Libya untuk menyatukan kelompok-kelompok saingan dan kekuatan asing.

Milisi Haftar melancarkan serangan ke Tripoli pada tanggal 4 April dalam upaya gagal untuk mengambil ibu kota dari Perdana Menteri Fayez al-Sarraj.

Serangan darat yang didukung oleh serangan udara, sedang dilakukan dengan menggunakan senjata dan dana asing, kata Sarraj di New York pada hari Senin.

Serangan tujuh bulan sejauh ini telah memindahkan lebih dari 120.000 orang di Tripoli.

“Sekitar 3.000 orang terbunuh, ribuan terluka, dan ratusan ribu lainnya mengungsi. Ratusan warga sipil tewas dan lainnya terluka,” kata Sarraj.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya memperingatkan bahwa Libya bisa berakhir dalam “perang saudara penuh” kecuali “tindakan diambil dalam waktu dekat.” [ARN]

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: