News Ticker

HRW Kecam Bahrain karena Tak Beri Perawatan Medis untuk Tahanan Politik

Arrahmahnews.com, BAHRAIN – Human Rights Watch dan Institut Bahrain untuk Hak dan Demokrasi (BIRD) yang berpusat di Inggris mengecam para pejabat Bahrain karena tidak memberikan perawatan medis yang memadai kepada para aktivis politik yang dipenjara.

Dua pembela hak asasi manusia yang ditahan, serta anggota keluarga dari empat aktivis oposisi yang dipenjara, mengatakan kepada HRW dan BIRD bahwa otoritas penjara secara sewenang-wenang menolak perawatan medis mendesak para tahanan, menolak untuk merujuk mereka ke spesialis, gagal mengungkapkan hasil pemeriksaan medis mereka, dan mengurangi jumlah obat sebagai bentuk hukuman.

Keluarga Abduljalil al-Singace yang berusia 57 tahun, seorang akademisi yang merupakan juru bicara Gerakan Haq untuk Kebebasan dan Demokrasi yang dibubarkan, mengatakan kesehatannya telah memburuk secara signifikan selama ditahan.

Baca: Organisasi HAM Ungkap Pelecehan Sistemik atas Tahanan Wanita di Bahrain

Putri Singace mengatakan bahwa ia mengunjungi dokter penjara pada 28 Agustus, untuk pertama kalinya sejak 2017.

Permintaan sebelumnya untuk perawatan medis untuk sakit leher dan punggung yang dikatakan keluarganya sebagai akibat dari penyiksaan telah ditolak.

Selain itu, petugas penjara tidak mengijinkan pemeriksaan sel darah putih yang dia butuhkan sebagai akibat dari komplikasi yang dideritanya karena mogok makan yang berkepanjangan pada tahun 2015.

Baca: Dianiaya di Penjara, Lebih dari 600 Tahanan Bahrain Mogok Makan

Pada 28 Agustus, dokter penjara merekomendasikan agar Singace mengunjungi spesialis jantung di Rumah Sakit Pasukan Pertahanan Bahrain (BDF). Pihak berwenang penjara memberi tahu dia pada hari seharusnya ia berangkat bahwa mereka tidak akan membawanya ke sana.

Sementara itu, putra Hassan Mushaima, kepala al-Haq, yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada 22 Juni 2011 karena kegiatan politiknya yang damai, mengatakan bahwa skrining terakhir untuk ayahnya yang pulih dari limfoma terjadi pada Agustus 2018, setelah mogok makan 46 hari di London. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: